Surabaya,
Sabtu 11 Mei 2013.
Pagi buta,
tepat pukul 4 pagi saya mulai beranjak dari mimpi. Segera saya melangkah, saya buka jendela kamar, berharap bisa
menghirup udara segar kota Surabaya. Karena
saya tahu di pagi buta lah saatnya kesegaran itu ada. Ya ! surganya
Surabaya adalah di pagi buta.
Tak lama saya
berimajinasi di jendela kamar, acara RAKER hari ini mengingatkan saya untuk
bergegas mempersiapkan beberapa baju dan perlengkapan lainnya, karena menurut
informasi yang saya dapat, RAKER akan dilaksanakan di Jember. Ya.. Jember, adalah
kota yang sering saya dengar, namun tak pernah saya mengunjunginya. “Sebiru
hari ini, Papuma- Jember.. in dream”, sepontan saya tuliskan status di facebook
ku.
Persiapanpun
selesai, saya beserta 4 teman saya bersiap-siap untuk meluncur ke lantai bawah
asrama, namun satu hal yang mengherankan, tiba-tiba saya teringat seseorang.
Yups, Ayis dan beberapa teman lainnya tidak bersama saya saat ini. Dengan
sedikit berat hati, saya lanjutkan
langkah ini menuju blok M dengan gendongan tas yang lumayan berat, dan tak lupa
saya membawa satu botol sprite dan jaket biru. Ketika itu, dari kejauhan
terlihat Kak Maskur dan Kak Ali yang telah menunggu kami dan teman-teman yang
lainnya, namun satu yang mengherankan, saya belum melihat BIS, padahal sms yang
saya dapat tepat pukul 08.00 mulai pemberangkatan.
Tak ayal lagi,
setelah saya dan teman-teman duduk di Blok M dan ketika menanyakan hal terkait
pemberangkatan ke Jember, ternyata info yang kami tangkap salah. Yups ! Miss
komunikasi menghampiri kami. Sejatinya RAKER tidaklah dilaksanakan di Jember
melainkan di gedung PKB Surabaya. Info RAKER di pagi itu membuat saya
menggelitik dan ingin tertawa renyah mendengarnya. Betapa tidak.. saya bersama
empat taman lainnya sudah siap siaga mempersiapkan segala hal untuk berenang
dan baju ganti di papuma. Ternyata, banyangan itu dengan sekejap tertiup angin
pagi. Husshhhhhhhhhhh.. hilang entah
kemana, dan suasana pagi itu tiba-tiba berubah menjadi rintik-rintik, dan saat
itu juga rintik hujan memaksa kami untuk putar balik lagi ke asrama. Kami
simpan tas yang berat itu untuk nanti malam dan tak lama kemudian kami pun
berangkat ke gedung PKB untuk melaksanakan RAKER.
RAKER LPM
Solidaritas ini sekitar pukul 10.15, merupakan kali pertama saya mengikutinya.
Di tempat yang sederhana, namun bagi orang-orang tertentu tentu saja menyimpan
sejuta makna. Yups ! di awali dengan makan pagi bersama-sama, mungkin inilah
moment kali pertama magangers berkumpul, dan makan bersama dalam satu
lingakaran. Meski tak bisa dipungkiri, acara kali ini serasa ada yang kurang
karena beberapa, bahkan banyak dari teman-teman magangers tidak bersama kami
saat itu. Kemudian, dilanjutkan dengan pembukaan yang berhasil dibuka oleh Kak
Misbahul Munir, dan tidak kalah pula saya berhasil mengutip beberapa petuah, dan
petuah yang paling saya sukai dari beliau “Kesuksesan itu ditentukan di masa
S1, jadi S1 saatnya BERPROSES..!”. Yups, petuah yang membakar semangat dan
membuatku menitikan air mata dengan untaian petuah yang mengiringinya.
Masuk ke acara
inti, dimulai dari pengenalan crew solidaritas dan program kerja yang akan
dilaksanakan beserta rancangan kerja yang akan dilaksanakan. Kemudian evaluasi
BERANDA dan terakhir perancangan TABLOID. Tepat saat adzan magrib, kami
meninggalkan gedung PKB.
Papuma, jember
– Minggu 12 Mei 2013.
Di mulai
dengan penantian BIS yang panjang, jalan yang berkelok dan Pak supir yang tak
kalah seru mengejutkan penumpang bis yang beberapa kali hampir menabrak tiang,
dan pasalnya, diduga Pak supir KELELAHAN. Tepat sekitar pukul 6 pagi, kami
sampai di Jember. Namun sangat jauh dari bayangan saya dan teman-teman. Sungguh
perjalanan menuju pantai papuma membutuhkan energy yang ekstra, membutuhkan
perjuangan yang sangat besar. Betapa tidak ! jalan yang menguras tenaga ini,
mengubah kami bak nenek dan kakek yang sudah terkena osteoporosis, dan
yang menggelitikan, bukan pada tulang saja, tetapi pada gigi, karena terpampang
jelas di sepanjang jalan yang kita temukan bertuliskan “GUNAKAN GIGI SATU”.
Yups, ketika
hendak sampai. Suara ombak telah bersorak sorai, dan pekikan itu menggoda kami
untuk segera terjun ke tepi pantai. Menakjubkan! Air yang biru mengantarkanku
pada pada imajinasi ku pada film favoritku, “perahu kertas” yang berlatarkan
Laut.
Mengubur badan
dengan pasir, bermain air, kejar-kejaran dengan bola utama adalah pasir dan
berfoto ria dengan berbagai gaya lucu, gaya turis yang sedang berjemur, bahkan
seperti orang gila, adalah hal yang wajib ketika berada di pantai. Saya
menikmati pemandangan itu dengan seksama. Yups! Pantai yang asri, dengan
gemuruh ombak yang besar bak semangat
yang tak pernah pudar, bak semangat yang selalu menggebu-gebu. Takjub saya
menyaksikannya. Allahu Akbar…! Betapa indah ciptaan_Nya.
Namun, dengan
berbagai rangakaian perjalanan panjang ini, banyak hal baru yang mengajarkan
saya akan arti hidup. Yaitu arti KEJUJURAN, SEMANGAT, dan PERCAYA DIRI, dan
satu lagi SOLIDARITAS yang TINGGI.
Yups! JEMBER
berhikayat akan arti hidup.



0 komentar:
Posting Komentar