Senin, 11 November 2013

PAPUMA; MENYIMPAN CERITA



Surabaya, Sabtu 11 Mei 2013.
Pagi buta, tepat pukul 4 pagi saya mulai beranjak dari mimpi. Segera saya melangkah,  saya buka jendela kamar, berharap bisa menghirup udara segar kota Surabaya. Karena  saya tahu di pagi buta lah saatnya kesegaran itu ada. Ya ! surganya Surabaya adalah di pagi buta.
Tak lama saya berimajinasi di jendela kamar, acara RAKER hari ini mengingatkan saya untuk bergegas mempersiapkan beberapa baju dan perlengkapan lainnya, karena menurut informasi yang saya dapat, RAKER akan dilaksanakan di Jember. Ya.. Jember, adalah kota yang sering saya dengar, namun tak pernah saya mengunjunginya. “Sebiru hari ini, Papuma- Jember.. in dream”, sepontan saya tuliskan status di facebook ku.
Persiapanpun selesai, saya beserta 4 teman saya bersiap-siap untuk meluncur ke lantai bawah asrama, namun satu hal yang mengherankan, tiba-tiba saya teringat seseorang. Yups, Ayis dan beberapa teman lainnya tidak bersama saya saat ini. Dengan sedikit berat hati,  saya lanjutkan langkah ini menuju blok M dengan gendongan tas yang lumayan berat, dan tak lupa saya membawa satu botol sprite dan jaket biru. Ketika itu, dari kejauhan terlihat Kak Maskur dan Kak Ali yang telah menunggu kami dan teman-teman yang lainnya, namun satu yang mengherankan, saya belum melihat BIS, padahal sms yang saya dapat tepat pukul 08.00 mulai pemberangkatan.
Tak ayal lagi, setelah saya dan teman-teman duduk di Blok M dan ketika menanyakan hal terkait pemberangkatan ke Jember, ternyata info yang kami tangkap salah. Yups ! Miss komunikasi menghampiri kami. Sejatinya RAKER tidaklah dilaksanakan di Jember melainkan di gedung PKB Surabaya. Info RAKER di pagi itu membuat saya menggelitik dan ingin tertawa renyah mendengarnya. Betapa tidak.. saya bersama empat taman lainnya sudah siap siaga mempersiapkan segala hal untuk berenang dan baju ganti di papuma. Ternyata, banyangan itu dengan sekejap tertiup angin pagi. Husshhhhhhhhhhh..  hilang entah kemana, dan suasana pagi itu tiba-tiba berubah menjadi rintik-rintik, dan saat itu juga rintik hujan memaksa kami untuk putar balik lagi ke asrama. Kami simpan tas yang berat itu untuk nanti malam dan tak lama kemudian kami pun berangkat ke gedung PKB untuk melaksanakan RAKER.
RAKER LPM Solidaritas ini sekitar pukul 10.15, merupakan kali pertama saya mengikutinya. Di tempat yang sederhana, namun bagi orang-orang tertentu tentu saja menyimpan sejuta makna. Yups ! di awali dengan makan pagi bersama-sama, mungkin inilah moment kali pertama magangers berkumpul, dan makan bersama dalam satu lingakaran. Meski tak bisa dipungkiri, acara kali ini serasa ada yang kurang karena beberapa, bahkan banyak dari teman-teman magangers tidak bersama kami saat itu. Kemudian, dilanjutkan dengan pembukaan yang berhasil dibuka oleh Kak Misbahul Munir, dan tidak kalah pula saya berhasil mengutip beberapa petuah, dan petuah yang paling saya sukai dari beliau “Kesuksesan itu ditentukan di masa S1, jadi S1 saatnya BERPROSES..!”. Yups, petuah yang membakar semangat dan membuatku menitikan air mata dengan untaian petuah yang mengiringinya.
Masuk ke acara inti, dimulai dari pengenalan crew solidaritas dan program kerja yang akan dilaksanakan beserta rancangan kerja yang akan dilaksanakan. Kemudian evaluasi BERANDA dan terakhir perancangan TABLOID. Tepat saat adzan magrib, kami meninggalkan gedung PKB.
Papuma, jember – Minggu 12 Mei 2013.
Di mulai dengan penantian BIS yang panjang, jalan yang berkelok dan Pak supir yang tak kalah seru mengejutkan penumpang bis yang beberapa kali hampir menabrak tiang, dan pasalnya, diduga Pak supir KELELAHAN. Tepat sekitar pukul 6 pagi, kami sampai di Jember. Namun sangat jauh dari bayangan saya dan teman-teman. Sungguh perjalanan menuju pantai papuma membutuhkan energy yang ekstra, membutuhkan perjuangan yang sangat besar. Betapa tidak ! jalan yang menguras tenaga ini, mengubah kami bak nenek dan kakek yang sudah terkena osteoporosis, dan yang menggelitikan, bukan pada tulang saja, tetapi pada gigi, karena terpampang jelas di sepanjang jalan yang kita temukan bertuliskan “GUNAKAN GIGI SATU”.
Yups, ketika hendak sampai. Suara ombak telah bersorak sorai, dan pekikan itu menggoda kami untuk segera terjun ke tepi pantai. Menakjubkan! Air yang biru mengantarkanku pada pada imajinasi ku pada film favoritku, “perahu kertas” yang berlatarkan Laut.
Mengubur badan dengan pasir, bermain air, kejar-kejaran dengan bola utama adalah pasir dan berfoto ria dengan berbagai gaya lucu, gaya turis yang sedang berjemur, bahkan seperti orang gila, adalah hal yang wajib ketika berada di pantai. Saya menikmati pemandangan itu dengan seksama. Yups! Pantai yang asri, dengan gemuruh ombak yang besar  bak semangat yang tak pernah pudar, bak semangat yang selalu menggebu-gebu. Takjub saya menyaksikannya. Allahu Akbar…! Betapa indah ciptaan_Nya.
Namun, dengan berbagai rangakaian perjalanan panjang ini, banyak hal baru yang mengajarkan saya akan arti hidup. Yaitu arti KEJUJURAN, SEMANGAT, dan PERCAYA DIRI, dan satu lagi SOLIDARITAS yang TINGGI.
Yups! JEMBER berhikayat akan arti hidup.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More