Bismillahirrahmanirrahim…
Surabaya, 9 oktober 2013. Tepatnya
di pagi buta, saya mendapatkan 2 pesan yang sangat jauh dari yang dibayangkan.
“Hari ini mata kuliah Filsafat dan Hadits LIBUR”. Berita yang jarang sekali
saya dengar jika hari rabu kelas Muamalah D harus libur, mengingat dari pertama
masuk perkuliahan inilah kali pertamanya. Namun, setelah mendapatkan berita ini
pikiranku sontak pada satu tugas yang hingga saat ini belum saya kerjakan,
MAGANG.
Segera saya bersama teman-teman berunding
untuk memulai magang pada hari itu, tempat tujuan kami magang yaitu di jalan
kutisari nomor 22. Kami berangkat menggunakan angkutan kota tepat pukul 09.00.
Jarak antara kampus dan tepat di mana kami magang, ternyata tidak sejauh yang
kami bayangkan. Hanya dengan ongkos sekitar Rp 3.000 rupiah kami sampai di
tujuan. Namun, jika saya kalkulasikan dengan biaya ongkos magang selama 25
hari, tentu biaya yang harus kami keluarkan tidak sedikit, dan itu tentu akan mengurangi
jatah uang saku kami terutama saya. Dan hal ini membuat kami berbalik pikir
untuk mengenakan sepeda ontel untuk hari-hari berikutnya agar menghemat uang
saku.
Setibanya di
tempat, kami tidak begitu saja langsung masuk dan mengucapkan salam. Kami yang
sepertinya bahkan orang asing di sana. Berpikiran bahwa rumah itu tidak ada
siapa-siapa. Ternyata setelah kami hubungi ibu Sri, dan ibu sri bersedia untuk
menghubungi rumah pemilik dimana kami akan magang, tidak lama kemudian
terbukalah pintu dengan seorang bapak-bapak mengenakan kaos hijau
mempersilahkan kami untuk masuk. Segera kami masuk, dan kami merasa takjub
melihat dekorasi hasil tangan-tangan kreatifitas di rumah Rhima Collection
menghiasi seluruh sudut ruangan rumah. Sungguh mengesankan..!
Magang membuat
bros. Itulah target saya dan teman-teman selama kurang lebih 25 hari ke depan.
Namun sudah barang tentu, hari pertama kami magang hanya perkenalan dengan
pemilik usaha. Kemudian kami mulai dengan pengenalan tehnik- tehnik dasar
seperti pengenalan jenis jarum, pembuatan kancing press dan membersihkan
benang-benang pada bross, setelah itu belajar ngelem bross, hingga pemasangan
bross pada kertas tebal putih dan dibungkus dengan plastik transparan. Namun
sebelum itu tentu dalam penyimpanan bros-bros itu sendiri ditata berdasarkan 6
warna yang harus berbeda dan pemilihan warna yang sangat cocok satu sama
lainnya sehingga konsumen terpikat dengan barang yang akan dibeli.
Setelah
beberapa lama kami belajar di tempat magang, akhirnya rasa lelah mulai
menghampiri kami dan tak lama kemudian kami pamitan pada ibu pemilik usaha. Dan
akhirnya target kami mulai berkurang
satu hari.
Bismillahirrahmanirrahim…
Surabaya, 11 Oktober 2013. Inilah
hari kedua kami magang. Tepatnya hari jum’at. Kami berangkat lebih awal dengan
tujuan setelah dzuhur kami segera pulang. Dan akhirnya kami sampai di tempat
tujuan pukul 08.30. Sesampainya di sana, kami langsung saja melanjutkan kegiatan
seperti kemarin, menata bros yang akan dipasarkan dan membuat kancing press.
Dan setelah itu kami satu persatu diberi jarum dan segelondong benang. Ibu
pemilik usaha akan mengajari kami tehnik dasar menyulam.
Pertama kali saya dan teman-teman
mencoba memegang benang dan jarum, sungguh sangat kaku sekali. Inilah kali
pertama kami memegangnnya. Setelah itu, ibu mengajari kami membuat sulam rantai
karena menurut beliau inilah tehnik dasarnya. Awalnya memang sulit, namun
lama-lama kami berusaha dan akhirnya bisa. Dan ibu menyuruh kita untuk membuat
sepanjang mungkin dan secepat mungkin, dan ibu tidak mensyaratkan kami harus
dengan hasil bagus, namun menuntut kami agar terbiasa memegang benang dan jarum
karena itu modal awal.
Setelah hasil kita dianggap cukup
oleh ibu, kami pun diajari bikin buletan. Dan tugas ini sangatlah tidak mudah
seperti yang dibayangkan. Tidak semudah saat kita membuat rantai. Membuat
buletan harus penuh dengan ketelitian. Dan tentu dengan ketelitian kami setelah
berulang kali ibu dan putrinya mengajari kami. Akhirnya kami pun bisa membuat buletan. Dan rasa lelah
pun terobati dengan mampu membuat hanya sebuah buletan kecil. Dan setelah itu
saya membagi kebahagiaan itu dengan teman-teman yang belum mampu membuatnya
hingga akhirnya mereka pun bisa.
Tepatnya pukul satu kamipun pamit pulang…
Selasa, 22 Oktober 2013 adalah kali ketiga aku
dan teman-teman magang di Kutisari. Setelah beberapa hari sebelumnya kami
belajar membuat buletan sebagai dasar membuat bunga. Dan akhirnya di hari kamis
ini Ummi (panggilan Ibu pemilik Rhima Collection: Sebutan murid-murid Ummi agar
mempunyai ikatan emosional yang bagus dengan beliau) melanjutkannya cara
selanjutnya yaitu membuat kelopak, dan ternyata setelah beberapa kali Ummi
mengajarkan kami, tak lama kamipun mampu membuatnya.
Membuat kelopak tidak sesusah ketika kami
membuat buletan dasar, walaupun dicontohkan beberapa kali tetap saja kami tak
mampu melakukannya, namun membuat kelopak hanya beberapa kali saja, saya mampu
membuatnya sehingga dikala itu yang awalnya mata terasa ngantuk, hilang
seketika ketika saya sudah mampu membuat beberapa bunga. Namun inti dari
membuat rajutan itu ialah kecerdikan kita dalam mengoprasikan dua tangan kanan
dan kiri untuk saling bekerja sama meskipun kali pertama melaksanakannya terasa
kaku.
Sekitar setengah dua, akhirnya kamipun pamit
pulang mengingat beberapa jam lagi kami harus masuk kuliah dan Ummi menugaskan
kami untuk membuat rajutan bunga sebanyak enam warna dan akan ummi lihat di
hari kamis.
Kamis, 24 Oktober 2013 adalah magang keempat
kami di kutisari. Dan untuk agenda hari kamis ini, seperti biasa sebelum ummi
melanjutkan materi baru, kami membantu ummi memasang bros kedalam kertas yang disediakan dan
kamipun masukan kedalam plastik hingga kami beri label pada bros-bros yang
telah kami beri plastik.
Namun hari kamis ini, berbeda dengan
hari sebelumnya. Setelah ummi memeriksa hasil rajutan kami yang 6 warna, dan
Alhamdulillah ummi memberikan komentar yang sangat positif akan hasil kami.
Betapa tidak, rata-rata kami mengerjakannya hingga larut malam. Dan tidak
terasa sia-sia ketika ummi memuji hasil karya perdana kami.
Hari ini, ummi tidak memberikan
materi baru, namun kami sibuk mengajarkan teman-teman baru yang baru bergabung
dengan kami, dan akhirnya setelah kami ajari, ia pun mampu membuat bunga yang
memang awalnya yang mereka sulitkan adalah mengontrol kedua tangan yang kedua
tangan ini harus saling membantu sehingga tidak menyulitkan dalam
pengerjaannya.
Sianngpun telah tiba, sekitar
setengah dua belas, kamipun pamit pulang memngingat setengah satu kami harus
mengikuti perkuliahan. Dan pe’er kami untuk hari jum’at ialah melanjutkan
membuat rajutan bunga lima kelopak dan besok kami akan diajari ngelem.
Jum’at, 25 oktober 2013. Adalah hari
kelima aku mengikuti magang di Kutisari, setelah kemarin hari jum’at UMMI
memberi tugas kami untuk membuat bunga dengan enam warna. Hari ini Ummi
mengajarkan kami membuat bros yang tergabung dari enam warna yang telah Ummi
tugaskan pada kami. Awalnya Ummi yang mengajari kami, namun setelah itu kami
yang harus mengerjakannya sesuai intrusksi yang diberikan. Hasilnya setelah
kami selesai mengelem memang tak sebagus yang dicontohkan Ummi, namun membuat
bros saat itu merupakan kali pertama saya dan teman-teman membuatnya. Walaupun
dengan hasil apa adanya namun setelah Ummi cek Ummi sungguh mengapresiasi karya
kami menurutnya karya kami sudah bagus, cantik, dan pujian lain yang Ummi
lontarkan. Kami senang sekali. Dan akhirnya kami semangat untuk membuat bunga
kecil-kecil warna-warna dan mencoba untuk menggabungkannya menadi sebuah bros
besar.
Sperti biasa, kami berangkat sekitar
jam 8 mengenakan angkutan kota. Kami berjalan menuju jalan kutisari gang VI.
Sesampainya di sana, seperi biasa kami mengemas barang-barang yang akan
dipasarkan ummi ke berbagai took dan super market sebelum ummi memberikan
materi baru. Setelah selesai mengemas hingga membereskannya. Kamipun diberi
materi ummi membuat sulam bross yang lebih besar dari kemarin, dan tentu dengan
cara-cara yang baru dan agak sulit dari kemarin. Namun, ummi bilang bahwa asal
kita tahu kunci awal buat pola bagaimanapun pasti akan mudah. Awalnya ummi
mencontohkannya dan akhirnya kami mengikutinya. Setelah beberapa menit kamipun
bisa membuatnya.
Saya dan teman-teman senang sekali,
meskipun ummi mencontohkannya hanya sekali. Kami langsung bisa membuatnya
meskipun hanya satu dua orang, termasuk saya. namun setelah itu, kami yang
mengajarkan kepada teman-teman yang belum bisa membuatnya. Ketika hari
menjelang sore, kamipun pulang.
Kami berangkat seperti biasanya,
mengendarai angkutan kota dengan land hijau tosca tujuan kutisari gang iv.
Setelah sampai, kami harus melintasi dua jalan raya dan harus besabar menunggu
kendaraan lenggang mengingat di daerah sana sangatlah ramai dengan kendaraan.
Ketika lampu merah, di saat itulah kesempatan kami untuk menyebrangi jalan
bersama-sama. Sungguh sangat menakutkan, melihat mobil besar-besar melaju
beberapa meter di hadapan kita. Namun dengan lambaian tangan kita, mobil itupun
mengurangi volume kecepatannya hingga kamipun berhasil menyebrang.
Sesampainya di rumah Ummi, tidak
lupa kami membantu pekerjaan Ummi, entah itu membuang benang-benang ataupun
meneglem, dan lain sebagainya. Sehingga beberapa menit selanjutnya selesai kami
pun melanjutkan rajutan kami.
Untuk tugas kali ini, Ummi
memerintahkan kami untuk membuat Bros besar dengan beberapa tingkatan / tumpuk
namun berbeda warna, dan ini bukan tantangan baru. Dan kami tidak merasa
kesulitan karena punya modal dasar. Dan akhirnya, hanya sekali ummi memberi contoh, kami pun
segera bisa membuat bros besar dengan beberapa tumpukan beda warna. Sangat produktif
sekali, Ummi biasa menjual bros yang kami buat saat itu sekitar 5.000 rupiah.
Seperti biasa, setelah jam
menunjukan pukul 2, kami segera membereskan benang-benang dengan rasa bahagia,
dan kamipun pamit pulang.
Untuk magang kedelapan, seperti
biasa kami menaiki angkutan umum. Sesampainya di sana, kami segera membantu
Ummi, setelah selesai kami ditugaskan ummi untuk membuat bunga kecil-kecil
sebanyak mungkin dari enam warna, masing-masing satu lusin sehingga total 72
buah bunga kecil yang nantinya jika hasilnya bagus akan Ummi beli.
Kamipun semangat membuatnya, dengan
canda-tawa saya bersama teman-teman merajut bunga-bunga. Selain untuk mengejar
target, melainkan juga melatih tangan agar lihai dalam memainkan benang dan
hakpen terutama kelenturan tangan kita yang harus terbiasa merajut.
Kutisari, 29 Oktober 2013. Sambil
kita membuat bunga-bunga kecil, ummi memberi kami ilmu baru. Yaitu membuat
BANDANA. Kami sangat senang sekali, saatnya kita berkreasi dengan tangan kita
sendiri tanpa kita harus membelinya. Dalam membuatnya, kita tidak perlu banyak
bahan dan motif. Yang kita butuhkan hanya Sembilan bunderan dan kita baluti
dengan benang. Agar bandana terlihat lebih elegan, kami mebuatnya dari dua
warna seperti warna hijau dan orange. Membuatnya juga tidak perlu membutuhkan
waktu yang lama, satu hari juga sudah selesai.
Kutisari, 12 Nopember 2013. Tidak
seperti biasanya kami melangkah menuju kutisari, saat itu kami menaiki sepeda
ontel bersama 5 teman lainnya. Selain untuk menghemat ongkos yang menghabiskan
enam sampai tujuh ribu pulang pergi jika menaiki angkot, juga kita niatkan
untuk olah raga dan mencoba menlanjutkan rutinitas kita ketika masa- masa putih
biru dulu. Mengendarai sepeda, tidak terlalu menghabiskan waktu yang lama.
Bahkan lebih cepat dari pada menaiki angkot. Sekitar 15 menit pun kami sudah
sampai tujuan.
Magang kali ini, tentu tidak pernah
ketinggalan. Membantu ummi making bros yang akan Ummi pasarkan atau bahkan
pesanan. Setelah itu, Ummi menyuruhku untuk untuk pergi ke tempat tumpukan
benangnya untuk memilih benang yang duo warna sesuai yang kita sukai. Materi
kita untuk hari itu adalah membuat syal. Sungguh senang sekali dan semangat
kami memilih warna yang kita sukai. Akhirnya warna yang aku ambil warna merah
dan kuning. Namun sebelum itu, ummi mengajarkan kami untuk membaca pola, agar
kita tahu teknis yang bisa mempermudah kita membuat syal atau bahkan selainnya.
Setelah kita faham, Ummi pun mulai memberi materinya. Diawali dengan membuat
rantai sekitar 46 enam kemudian membuat pagar. Begitu seterusnya.
Dengan motif
yang sangat sederhana memudahkan kami dalam proses pengerjaannya. Meskipun
hanya saya yang awalnya tidak memahami pola awalnya. Dan Alhamdulillah akhirnya
saya bisa mengikuti teman-teman yang sudah mulai banyak rajutannya. Lagi-lagi saya
berpikir, saatnya kita menikmati proses berkarya sehingga kita bangga dengan
karya kita sendiri.
Kutisari, 13 Nopember 2013. Kami tak
seperti biasanya membantu Ummi making. Karena tidak ada yang harus kami bantu.
Dan kamipun langsung melanjutkan syal kami. Yang masih kurang banyak terutama
saya yang beberapa hari berhalangan karena ada beberapa tugas yang tidak bisa
ditinggalkan. Dari mulai jam 9 hingga jam 12 kami merajut, hingga ketika kami
merasa lelah kamipun mengisinya dengan bercanda dengan teman-teman untuk
menghilangkan kepenatan. Atau bahkan kita putar music agar kepenatan dan rasa
bosan duduk hilang.
Untuk beberapa hari kita magang Ummi
tidak memberi kami materi baru mengingat syal kami belum selesai. Akhirnya kami
isi hari-hari itu dengan membuat syal, syal dan syal. Namun, beberapa langkah
proses pengerjaan, ummi memberi kami matari membuat taplak, bandana, sehingga
syal harus kami selesaikan di luar jam magang. Agar materi yang kita dapat
bertambah mengingat kami hanya magang sekitar 25 hari saja, sehingga kita harus
memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Kutisari, 3 Desember 2013. Setelah beberapa
hari kami menyelesaikan syal, akhirnya Ummi memberi kami materi baru. Yaitu
membuat cardigan. Namun sebelumnya Ummi memberi kami contoh untuk beberapa
motif yang akan kita kerjakan dan kita sukai juga mudah kita fahami sebagai
pemula. Akhirnya kami memilih model bunga kotak yang sederhana.
Kami buat cardigan ini dari satu
warna polos dan satu warna dual. Dan saya memilih warna putih polos dan dual
warna biru dan putih. Awalnya memang agak ribet, namun ketika sudah kita jalani
akhirnya mudah juga. Saya pun mulai menyicil beberapa bunga dahulu. Berbeda
dengan teman-teman yang langsung menggabungkannya dgan beberapa bunga lainnya.
Begitulah seterusnya, dari mulai 3
Desember, 15 desember, 17 desember, hingga hari terakhir pada tanggal 22
Desember kami akhiri magang di Ummi dengan masih belum selesainya cardigan
kami. Mengingat untuk membuatnya membutuhkan waktu yang lama.
Kutisari
Gang IV, 22 Desember 2013