Minggu, 29 Desember 2013

MERAJUT; MAGANG DI KUTISARI BERSAMA UMMI



Bismillahirrahmanirrahim…
            Surabaya, 9 oktober 2013. Tepatnya di pagi buta, saya mendapatkan 2 pesan yang sangat jauh dari yang dibayangkan. “Hari ini mata kuliah Filsafat dan Hadits LIBUR”. Berita yang jarang sekali saya dengar jika hari rabu kelas Muamalah D harus libur, mengingat dari pertama masuk perkuliahan inilah kali pertamanya. Namun, setelah mendapatkan berita ini pikiranku sontak pada satu tugas yang hingga saat ini belum saya kerjakan, MAGANG.
Segera saya bersama teman-teman berunding untuk memulai magang pada hari itu, tempat tujuan kami magang yaitu di jalan kutisari nomor 22. Kami berangkat menggunakan angkutan kota tepat pukul 09.00. Jarak antara kampus dan tepat di mana kami magang, ternyata tidak sejauh yang kami bayangkan. Hanya dengan ongkos sekitar Rp 3.000 rupiah kami sampai di tujuan. Namun, jika saya kalkulasikan dengan biaya ongkos magang selama 25 hari, tentu biaya yang harus kami keluarkan tidak sedikit, dan itu tentu akan mengurangi jatah uang saku kami terutama saya. Dan hal ini membuat kami berbalik pikir untuk mengenakan sepeda ontel untuk hari-hari berikutnya agar menghemat uang saku.
Setibanya di tempat, kami tidak begitu saja langsung masuk dan mengucapkan salam. Kami yang sepertinya bahkan orang asing di sana. Berpikiran bahwa rumah itu tidak ada siapa-siapa. Ternyata setelah kami hubungi ibu Sri, dan ibu sri bersedia untuk menghubungi rumah pemilik dimana kami akan magang, tidak lama kemudian terbukalah pintu dengan seorang bapak-bapak mengenakan kaos hijau mempersilahkan kami untuk masuk. Segera kami masuk, dan kami merasa takjub melihat dekorasi hasil tangan-tangan kreatifitas di rumah Rhima Collection menghiasi seluruh sudut ruangan rumah. Sungguh mengesankan..!
Magang membuat bros. Itulah target saya dan teman-teman selama kurang lebih 25 hari ke depan. Namun sudah barang tentu, hari pertama kami magang hanya perkenalan dengan pemilik usaha. Kemudian kami mulai dengan pengenalan tehnik- tehnik dasar seperti pengenalan jenis jarum, pembuatan kancing press dan membersihkan benang-benang pada bross, setelah itu belajar ngelem bross, hingga pemasangan bross pada kertas tebal putih dan dibungkus dengan plastik transparan. Namun sebelum itu tentu dalam penyimpanan bros-bros itu sendiri ditata berdasarkan 6 warna yang harus berbeda dan pemilihan warna yang sangat cocok satu sama lainnya sehingga konsumen terpikat dengan barang yang akan dibeli. 
Setelah beberapa lama kami belajar di tempat magang, akhirnya rasa lelah mulai menghampiri kami dan tak lama kemudian kami pamitan pada ibu pemilik usaha. Dan  akhirnya target kami mulai berkurang satu hari.
Bismillahirrahmanirrahim…
            Surabaya, 11 Oktober 2013. Inilah hari kedua kami magang. Tepatnya hari jum’at. Kami berangkat lebih awal dengan tujuan setelah dzuhur kami segera pulang. Dan akhirnya kami sampai di tempat tujuan pukul 08.30. Sesampainya di sana, kami langsung saja melanjutkan kegiatan seperti kemarin, menata bros yang akan dipasarkan dan membuat kancing press. Dan setelah itu kami satu persatu diberi jarum dan segelondong benang. Ibu pemilik usaha akan mengajari kami tehnik dasar menyulam.
            Pertama kali saya dan teman-teman mencoba memegang benang dan jarum, sungguh sangat kaku sekali. Inilah kali pertama kami memegangnnya. Setelah itu, ibu mengajari kami membuat sulam rantai karena menurut beliau inilah tehnik dasarnya. Awalnya memang sulit, namun lama-lama kami berusaha dan akhirnya bisa. Dan ibu menyuruh kita untuk membuat sepanjang mungkin dan secepat mungkin, dan ibu tidak mensyaratkan kami harus dengan hasil bagus, namun menuntut kami agar terbiasa memegang benang dan jarum karena itu modal awal.
            Setelah hasil kita dianggap cukup oleh ibu, kami pun diajari bikin buletan. Dan tugas ini sangatlah tidak mudah seperti yang dibayangkan. Tidak semudah saat kita membuat rantai. Membuat buletan harus penuh dengan ketelitian. Dan tentu dengan ketelitian kami setelah berulang kali ibu dan putrinya mengajari kami. Akhirnya  kami pun bisa membuat buletan. Dan rasa lelah pun terobati dengan mampu membuat hanya sebuah buletan kecil. Dan setelah itu saya membagi kebahagiaan itu dengan teman-teman yang belum mampu membuatnya hingga akhirnya mereka pun bisa.
              Tepatnya pukul satu kamipun pamit pulang…
Selasa, 22 Oktober 2013 adalah kali ketiga aku dan teman-teman magang di Kutisari. Setelah beberapa hari sebelumnya kami belajar membuat buletan sebagai dasar membuat bunga. Dan akhirnya di hari kamis ini Ummi (panggilan Ibu pemilik Rhima Collection: Sebutan murid-murid Ummi agar mempunyai ikatan emosional yang bagus dengan beliau) melanjutkannya cara selanjutnya yaitu membuat kelopak, dan ternyata setelah beberapa kali Ummi mengajarkan kami, tak lama kamipun mampu membuatnya.
Membuat kelopak tidak sesusah ketika kami membuat buletan dasar, walaupun dicontohkan beberapa kali tetap saja kami tak mampu melakukannya, namun membuat kelopak hanya beberapa kali saja, saya mampu membuatnya sehingga dikala itu yang awalnya mata terasa ngantuk, hilang seketika ketika saya sudah mampu membuat beberapa bunga. Namun inti dari membuat rajutan itu ialah kecerdikan kita dalam mengoprasikan dua tangan kanan dan kiri untuk saling bekerja sama meskipun kali pertama melaksanakannya terasa kaku.
Sekitar setengah dua, akhirnya kamipun pamit pulang mengingat beberapa jam lagi kami harus masuk kuliah dan Ummi menugaskan kami untuk membuat rajutan bunga sebanyak enam warna dan akan ummi lihat di hari kamis.
            Kamis, 24 Oktober 2013 adalah magang keempat kami di kutisari. Dan untuk agenda hari kamis ini, seperti biasa sebelum ummi melanjutkan materi baru, kami membantu ummi memasang  bros kedalam kertas yang disediakan dan kamipun masukan kedalam plastik hingga kami beri label pada bros-bros yang telah kami beri plastik.
            Namun hari kamis ini, berbeda dengan hari sebelumnya. Setelah ummi memeriksa hasil rajutan kami yang 6 warna, dan Alhamdulillah ummi memberikan komentar yang sangat positif akan hasil kami. Betapa tidak, rata-rata kami mengerjakannya hingga larut malam. Dan tidak terasa sia-sia ketika ummi memuji hasil karya perdana kami.
            Hari ini, ummi tidak memberikan materi baru, namun kami sibuk mengajarkan teman-teman baru yang baru bergabung dengan kami, dan akhirnya setelah kami ajari, ia pun mampu membuat bunga yang memang awalnya yang mereka sulitkan adalah mengontrol kedua tangan yang kedua tangan ini harus saling membantu sehingga tidak menyulitkan dalam pengerjaannya.
            Sianngpun telah tiba, sekitar setengah dua belas, kamipun pamit pulang memngingat setengah satu kami harus mengikuti perkuliahan. Dan pe’er kami untuk hari jum’at ialah melanjutkan membuat rajutan bunga lima kelopak dan besok kami akan diajari ngelem.           
            Jum’at, 25 oktober 2013. Adalah hari kelima aku mengikuti magang di Kutisari, setelah kemarin hari jum’at UMMI memberi tugas kami untuk membuat bunga dengan enam warna. Hari ini Ummi mengajarkan kami membuat bros yang tergabung dari enam warna yang telah Ummi tugaskan pada kami. Awalnya Ummi yang mengajari kami, namun setelah itu kami yang harus mengerjakannya sesuai intrusksi yang diberikan. Hasilnya setelah kami selesai mengelem memang tak sebagus yang dicontohkan Ummi, namun membuat bros saat itu merupakan kali pertama saya dan teman-teman membuatnya. Walaupun dengan hasil apa adanya namun setelah Ummi cek Ummi sungguh mengapresiasi karya kami menurutnya karya kami sudah bagus, cantik, dan pujian lain yang Ummi lontarkan. Kami senang sekali. Dan akhirnya kami semangat untuk membuat bunga kecil-kecil warna-warna dan mencoba untuk menggabungkannya menadi sebuah bros besar.
            Sperti biasa, kami berangkat sekitar jam 8 mengenakan angkutan kota. Kami berjalan menuju jalan kutisari gang VI. Sesampainya di sana, seperi biasa kami mengemas barang-barang yang akan dipasarkan ummi ke berbagai took dan super market sebelum ummi memberikan materi baru. Setelah selesai mengemas hingga membereskannya. Kamipun diberi materi ummi membuat sulam bross yang lebih besar dari kemarin, dan tentu dengan cara-cara yang baru dan agak sulit dari kemarin. Namun, ummi bilang bahwa asal kita tahu kunci awal buat pola bagaimanapun pasti akan mudah. Awalnya ummi mencontohkannya dan akhirnya kami mengikutinya. Setelah beberapa menit kamipun bisa membuatnya.
            Saya dan teman-teman senang sekali, meskipun ummi mencontohkannya hanya sekali. Kami langsung bisa membuatnya meskipun hanya satu dua orang, termasuk saya. namun setelah itu, kami yang mengajarkan kepada teman-teman yang belum bisa membuatnya. Ketika hari menjelang sore, kamipun pulang.
            Kami berangkat seperti biasanya, mengendarai angkutan kota dengan land hijau tosca tujuan kutisari gang iv. Setelah sampai, kami harus melintasi dua jalan raya dan harus besabar menunggu kendaraan lenggang mengingat di daerah sana sangatlah ramai dengan kendaraan. Ketika lampu merah, di saat itulah kesempatan kami untuk menyebrangi jalan bersama-sama. Sungguh sangat menakutkan, melihat mobil besar-besar melaju beberapa meter di hadapan kita. Namun dengan lambaian tangan kita, mobil itupun mengurangi volume kecepatannya hingga kamipun berhasil menyebrang.
            Sesampainya di rumah Ummi, tidak lupa kami membantu pekerjaan Ummi, entah itu membuang benang-benang ataupun meneglem, dan lain sebagainya. Sehingga beberapa menit selanjutnya selesai kami pun melanjutkan rajutan kami.
            Untuk tugas kali ini, Ummi memerintahkan kami untuk membuat Bros besar dengan beberapa tingkatan / tumpuk namun berbeda warna, dan ini bukan tantangan baru. Dan kami tidak merasa kesulitan karena punya modal dasar. Dan akhirnya,  hanya sekali ummi memberi contoh, kami pun segera bisa membuat bros besar dengan beberapa tumpukan beda warna. Sangat produktif sekali, Ummi biasa menjual bros yang kami buat saat itu sekitar 5.000 rupiah.
            Seperti biasa, setelah jam menunjukan pukul 2, kami segera membereskan benang-benang dengan rasa bahagia, dan kamipun pamit pulang.
            Untuk magang kedelapan, seperti biasa kami menaiki angkutan umum. Sesampainya di sana, kami segera membantu Ummi, setelah selesai kami ditugaskan ummi untuk membuat bunga kecil-kecil sebanyak mungkin dari enam warna, masing-masing satu lusin sehingga total 72 buah bunga kecil yang nantinya jika hasilnya bagus akan Ummi beli.
            Kamipun semangat membuatnya, dengan canda-tawa saya bersama teman-teman merajut bunga-bunga. Selain untuk mengejar target, melainkan juga melatih tangan agar lihai dalam memainkan benang dan hakpen terutama kelenturan tangan kita yang harus terbiasa merajut.
            Kutisari, 29 Oktober 2013. Sambil kita membuat bunga-bunga kecil, ummi memberi kami ilmu baru. Yaitu membuat BANDANA. Kami sangat senang sekali, saatnya kita berkreasi dengan tangan kita sendiri tanpa kita harus membelinya. Dalam membuatnya, kita tidak perlu banyak bahan dan motif. Yang kita butuhkan hanya Sembilan bunderan dan kita baluti dengan benang. Agar bandana terlihat lebih elegan, kami mebuatnya dari dua warna seperti warna hijau dan orange. Membuatnya juga tidak perlu membutuhkan waktu yang lama, satu hari juga sudah selesai.
            Kutisari, 12 Nopember 2013. Tidak seperti biasanya kami melangkah menuju kutisari, saat itu kami menaiki sepeda ontel bersama 5 teman lainnya. Selain untuk menghemat ongkos yang menghabiskan enam sampai tujuh ribu pulang pergi jika menaiki angkot, juga kita niatkan untuk olah raga dan mencoba menlanjutkan rutinitas kita ketika masa- masa putih biru dulu. Mengendarai sepeda, tidak terlalu menghabiskan waktu yang lama. Bahkan lebih cepat dari pada menaiki angkot. Sekitar 15 menit pun kami sudah sampai tujuan.
            Magang kali ini, tentu tidak pernah ketinggalan. Membantu ummi making bros yang akan Ummi pasarkan atau bahkan pesanan. Setelah itu, Ummi menyuruhku untuk untuk pergi ke tempat tumpukan benangnya untuk memilih benang yang duo warna sesuai yang kita sukai. Materi kita untuk hari itu adalah membuat syal. Sungguh senang sekali dan semangat kami memilih warna yang kita sukai. Akhirnya warna yang aku ambil warna merah dan kuning. Namun sebelum itu, ummi mengajarkan kami untuk membaca pola, agar kita tahu teknis yang bisa mempermudah kita membuat syal atau bahkan selainnya. Setelah kita faham, Ummi pun mulai memberi materinya. Diawali dengan membuat rantai sekitar 46 enam kemudian membuat pagar. Begitu seterusnya.
Dengan motif yang sangat sederhana memudahkan kami dalam proses pengerjaannya. Meskipun hanya saya yang awalnya tidak memahami pola awalnya. Dan Alhamdulillah akhirnya saya bisa mengikuti teman-teman yang sudah mulai banyak rajutannya. Lagi-lagi saya berpikir, saatnya kita menikmati proses berkarya sehingga kita bangga dengan karya kita sendiri.
            Kutisari, 13 Nopember 2013. Kami tak seperti biasanya membantu Ummi making. Karena tidak ada yang harus kami bantu. Dan kamipun langsung melanjutkan syal kami. Yang masih kurang banyak terutama saya yang beberapa hari berhalangan karena ada beberapa tugas yang tidak bisa ditinggalkan. Dari mulai jam 9 hingga jam 12 kami merajut, hingga ketika kami merasa lelah kamipun mengisinya dengan bercanda dengan teman-teman untuk menghilangkan kepenatan. Atau bahkan kita putar music agar kepenatan dan rasa bosan duduk hilang.
            Untuk beberapa hari kita magang Ummi tidak memberi kami materi baru mengingat syal kami belum selesai. Akhirnya kami isi hari-hari itu dengan membuat syal, syal dan syal. Namun, beberapa langkah proses pengerjaan, ummi memberi kami matari membuat taplak, bandana, sehingga syal harus kami selesaikan di luar jam magang. Agar materi yang kita dapat bertambah mengingat kami hanya magang sekitar 25 hari saja, sehingga kita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
            Kutisari, 3 Desember 2013. Setelah beberapa hari kami menyelesaikan syal, akhirnya Ummi memberi kami materi baru. Yaitu membuat cardigan. Namun sebelumnya Ummi memberi kami contoh untuk beberapa motif yang akan kita kerjakan dan kita sukai juga mudah kita fahami sebagai pemula. Akhirnya kami memilih model bunga kotak yang sederhana.
            Kami buat cardigan ini dari satu warna polos dan satu warna dual. Dan saya memilih warna putih polos dan dual warna biru dan putih. Awalnya memang agak ribet, namun ketika sudah kita jalani akhirnya mudah juga. Saya pun mulai menyicil beberapa bunga dahulu. Berbeda dengan teman-teman yang langsung menggabungkannya dgan beberapa bunga lainnya.
            Begitulah seterusnya, dari mulai 3 Desember, 15 desember, 17 desember, hingga hari terakhir pada tanggal 22 Desember kami akhiri magang di Ummi dengan masih belum selesainya cardigan kami. Mengingat untuk membuatnya membutuhkan waktu yang lama.
                                                                        Kutisari Gang IV, 22 Desember 2013

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More