Akal dan hati.
Akal sebagai alat manusia untuk berpikir karena memang hal itu merupakan sebuah
hakikat. Hati pada hakikatnya adalah alat “rasa” Namun lain halnya ketika hati
dikatakan sebagai alat untuk berpikir. Cara berpikir akal dan hati sangatlah
berbeda. Akal di sini adalah akal logis yang ada di kepala
sedangkan hati adalah rasa yang kira-kira ada didalam dada. Lebih jelasnya
bahwa dengan akal manusia dapat berpikir dan dengan hati (hati nurani) sebagai
mekanisme akal manusia dapat merasa. Namun di sini, mutu hasil renungan dan
pemikiran akal tergantung pada jumlah, mutu dan jenis informasi yang didapatkan
oleh manusia itu sendiri dan yang dialaminya. Baik itu berupa ilmu eksakta,
atau non eksakta. Salah satunya yaitu ilmu filsafat yang merupakan hasil olah
akal dengan mekanisme otak. Dan hal ini bisa kita bedakan cara berpikirnya
orang dewasa dan anak-anak yang mana pola pikirnya terlihat berbeda karena
perbedaan pengetahuan dan pengalaman yang ia dapatkan.
Lain
halnya dengan hati, hati peranannya mengenal dan berperasaan. Hati
bisa mempunyai dua makna. Pada makna
pertama hati kasar yaitu daging sebesar genggaman tangan terletak di dalam dada
sebelah kiri manusia. Hati dengan
maksud yang kedua ialah hati batin yang tidak dapat dilihat dengan mata kasar,
tak dapat disentuh oleh tangan dan tak dapat dikerat/belah oleh pisau, tetapi
ia dapat dirasakan oleh pengakuan batin sendiri tentang kewujudannya. Perbedaan
hati dan akal ketika menetukan benar dan salah sangatlah berbeda, seperti yang
dijelaskan di atas bahwa akal menentukannya berdasarkan informasi atau
pengalaman yang ia dapatkan. Sedangkan hati, dalam menentukannya tanpa belajar pun ia mampu membedakan mana
yang baik dan benar, bahkan pepatah mengatakan “hati tak pernah salah dan
bohong”, tabiat hati (roh) memang sudah mengenal Allah dan mengenal kebaikan.
Akal adalah
bendahara kepada hati. Nafsu pula pengacau yang boleh memburukkan akal dan
hati. Ringkasnya, hati menentukan tindakan, akal memandu hati untuk bertindak
membuat kerja dengan 'betul-betul'. Hati dan akal selalu berkorelasi.
Manusia
dikaruniai “akal” oleh Allah, oleh karena itu manusia dikatakan sebagai
“hayawanun natiq”(hewan yang berpikir). Hakikat akal adalah berpikir, dengan berpikir
manusia dapat mengetahui ciptaan Allah berupa benda-benda dengan jalan
melakukan pengamatan dan penelitian terhadapnya.



0 komentar:
Posting Komentar