Jumat, 15 November 2013

Akal dan Hati



Akal dan hati. Akal sebagai alat manusia untuk berpikir karena memang hal itu merupakan sebuah hakikat. Hati pada hakikatnya adalah alat “rasa” Namun lain halnya ketika hati dikatakan sebagai alat untuk berpikir. Cara berpikir akal dan hati sangatlah berbeda. Akal di sini adalah akal logis yang ada di kepala sedangkan hati adalah rasa yang kira-kira ada didalam dada. Lebih jelasnya bahwa dengan akal manusia dapat berpikir dan dengan hati (hati nurani) sebagai mekanisme akal manusia dapat merasa. Namun di sini, mutu hasil renungan dan pemikiran akal tergantung pada jumlah, mutu dan jenis informasi yang didapatkan oleh manusia itu sendiri dan yang dialaminya. Baik itu berupa ilmu eksakta, atau non eksakta. Salah satunya yaitu ilmu filsafat yang merupakan hasil olah akal dengan mekanisme otak. Dan hal ini bisa kita bedakan cara berpikirnya orang dewasa dan anak-anak yang mana pola pikirnya terlihat berbeda karena perbedaan pengetahuan dan pengalaman yang ia dapatkan.
Lain halnya dengan hati, hati peranannya mengenal dan berperasaan. Hati bisa mempunyai dua makna.  Pada makna pertama hati kasar yaitu daging sebesar genggaman tangan terletak di dalam dada sebelah kiri manusia.  Hati dengan maksud yang kedua ialah hati batin yang tidak dapat dilihat dengan mata kasar, tak dapat disentuh oleh tangan dan tak dapat dikerat/belah oleh pisau, tetapi ia dapat dirasakan oleh pengakuan batin sendiri tentang kewujudannya. Perbedaan hati dan akal ketika menetukan benar dan salah sangatlah berbeda, seperti yang dijelaskan di atas bahwa akal menentukannya berdasarkan informasi atau pengalaman yang ia dapatkan. Sedangkan hati, dalam menentukannya  tanpa belajar pun ia mampu membedakan mana yang baik dan benar, bahkan pepatah mengatakan “hati tak pernah salah dan bohong”, tabiat hati (roh) memang sudah mengenal Allah dan mengenal kebaikan.
Akal adalah bendahara kepada hati. Nafsu pula pengacau yang boleh memburukkan akal dan hati. Ringkasnya, hati menentukan tindakan, akal memandu hati untuk bertindak membuat kerja dengan 'betul-betul'. Hati dan akal selalu berkorelasi. 

Manusia dikaruniai “akal” oleh Allah, oleh karena itu manusia dikatakan sebagai “hayawanun natiq”(hewan yang berpikir). Hakikat akal adalah berpikir, dengan berpikir manusia dapat mengetahui ciptaan Allah berupa benda-benda dengan jalan melakukan pengamatan dan penelitian terhadapnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More