MY Life is My Metamorfosa
“Negosiasi Identitas Santri Berhadapan dengan Realitas Kehidupan Mahasiswa dan Kampus”
Secercah Tentang Ku
Leti latifah adalah nama lengkap ku. Aku dilahirkan di Dusun Cikadong-dong, Desa Sukamulya, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Tepatnya pada hari selasa 12 april 1994. Nama ibu ku adalah Yayah Badriyah dan nama ayah ku adalah Agus Salim. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Adik ku namanya Dali Fadilah. Aku dengan adik ku mempunyai selisih umur yang sangat jauh yaitu sekitar 10 tahun.
Aku hidup di kalangan keluarga yang sangat sederhana. Ibu ku seorang ibu rumah tangga sedangkan ayah ku seorang petani juga sebagai guru ngaji. Karena itu, dari mulai kecil aku sudah dididik untuk belajar mengaji. Bahkan, saat aku kecil meski aku seorang perempuan aku selalu diajak ayah ku pergi ke mesjid.
Sosok ku sebelum mempunyai adik, adalah anak yang manja. Betapa tidak, segala pusat perhatian orang tua ku hanya diberikan untuk ku. Namun, setelah aku mempunyai adik, tentu aku dilatih orang tuaku untuk menjadi putri yang mandiri yang sayang adiknya. Aku dan keluarga sampai saat ini masih tinggal bersama Kakek dan Nenek. Karena orang tua ku harus merawat kakek nenek yang sudah lanjut usia.
Orang tua ku adalah orang tua yang sangat sabar dan tegar. Bagi ku mereka adalah pahlawan yang lebih berjasa dibanding Soekarno. Betapa tidak, mereka selalu mendidik ku hingga saat ini, mereka pula yang membuat ku menjadi tegar untuk mencoretkan mimpi-mimpi terbesar ku.
Ketika aku duduk di Madrasah Ibtidaiyah
Kali pertama aku masuk dunia pendidikan pada tahun 2000 yaitu di MI Cikadong-dong. Sekolahannya tepat di samping rumah ku. MI adalah lembaga pendidikan pertama yang di duduki ku, karena aku tidak pernah merasakan belajar di jenjang TK, karena di kampung ku tidak ada fasilitas yang menanganinya. Namun, karena kecerdikan ibu ku, setiap malam ibu selalu mengajariku matematika, membaca, dan menulis, sehingga ketika masuk ke Madrasah aku tidak terlalu jauh untuk mengejar ketertinggalan dengan teman-temannya yang sekolah TK terlebih dahulu.
Salah satu yang menarik pada waktu masih kelas 1 dan 2 MI, peringkat yang besar adalah sebuah kebanggaan. Namun lagi-lagi ibu yang menyadarkan ku untuk memperbaiki peringkat ku hingga akhirnya aku bisa menempati peringkat teratas juga sebagai bintang tabung. Namun, bukan berarti aku banyak uangnya, tetapi karena ketekunan seorang Ibu, aku selalu dibekali uang untuk menabung meski seharinya Cuma Rp 1000 rupiah dan kadang kala Cuma Rp 500 rupiah.
Masa-masa aku di madrsah sangatlah menyenangkan. Hal yang paling aku banggakan saat di Madrasah yaitu aku bisa mewakili sekolah ku dalam Lomba pengetahuan Agama Islam se-kecamatan sampai akhirnya bisa menembus ke kabupaten.
Sejak aku kelas 2 MI sampai kelas 2 MTs, aku tidak hanya mereguk dunia sekolah MI saja, namun lagi-lagi ibu ku memasukan ku ke sekolah diniyah yang saat itu masa ku lagi senang-senangnya bermain setelah pulang sekolah, namun aku harus kembali belajar hingga sore lagi. Lagi-lagi pilihan ibu ku pun menjadi penunjang utama untuk ku mereguk ilmu agama yang lebih mendalam.
Ketika Leti Duduk di Madrasah Tsanawiyah
Setelah aku lulus di Madrasah Ibtidaiyah, aku melanjutkan study ku ke MTs Al-amin. Al-amin adalah Sebuah yayasan yang paling sakral di kampungku. Karena al-amin terkenal dengan ketatnya dan keras karena mempunyai peraturan ala gontor demi terciptanya kebahasaaan yang unngul yaitu bahasa inggris. Se-kabupaten, al-amin lah yang terkenal dengan bahasa inggrisnya. Betapa tidak, setiap harinya semua murid MTs berbicara bahasa Inggris.
Kali pertama aku menginjakan kaki di Al-amin sangatlah membanggakan. Betapa tidak, seragam ku telah bermetamorfosa menjadi biru setelah 6 tahun lamanya memakai merah putih. Satu hal lagi, yaitu aku menunggangi sepeda ontel ku hasil dari tabungan ku selama study di MI.
Al-amin adalah sebuah yayasan yang jadwal belajarnya sangat padat, hingga siang hari, dan di sore harinya di isi oleh kegiatan OSIS bagian kebahasaan yaitu sering disebut evening subject.
Masa-masa study ku di MTs al-amin adalah hal yang sangat menakjubkan. Apalagi saat aku masih kelas 1 MTs, aku sering terkena hukuman dari bagian kebahasaan karena berbicara bahasa sunda. Betapa tidak, bagian kebahasaan mempunyai mata-mata yang sangat sensitive untuk mengontrol para siswa agar tetap disiplin berbahasa inggris kapan pun dan di mana pun.
Di al-amin lah aku belajar dengan sesosok guru yang sangat menakjubkan. Betapa tidak, setiap kata-kata yang keluar dari pikirannya tentu menjadi inspirasi ku bahkan aku merasa terhipnotis dibuatnya. Di al-amin pun ada pelajaran yang menjadi ciri khas tersendiri yaitu pelajaran Mahfudzat, syair pertama yang dipelajari yaitu “manjadda wajada”.
Namun, ada satu syair lagi yang menjadi motto hidup ku yaitu “ shodikuka man abkaka laa man adhakaka” yang artinya, temanmu ialah yang membuatmu menangis, bukan yang membuatmu tertawa. Sungguh sangat kental filosofinya aku rasakan.
Ketika Aku Duduk di Madrasah Aliyah
Kembali seragam ku bermetamorfosa, aku memilih MA Al-amin sebagai angkatan kedua. MA ku belum mempunyai gedung yang khusus, masih bergabung dengan MTs. Di MA aku dituntut sekolah sambil mesantren. Betapa tidak setujunya aku saat itu, karena aku harus jauh dari orang tua dan harus mengatur hidup sendiri. Namun akhirnya aku pun melakoninya.
Awal aku kelas 1, semangat belajar ku nyaris tidak ada. Betapa tidak, angkatanku hanya 16 orang. Namun, setelah berjalannya waktu pilihan ku sangatlah tepat. Saat aku beranjak kelas 2, anggapan negative itu hilang seketika, saat aku belajar ilmu tasawuf tentang Mahabbah oleh ibu guru yang menjadi sumber inspirasi bagiku dan teman-teman ku. Saat itulah mimpi kami mulai merekah karena kekuatan cinta antara sang ibu guru dengan kelas ku.
Setelah aku beranjak kelas 3, bagi ku MA Al-amin adalah tempat dimana aku dan teman-teman ku merajut mimpi-mimpi di kelas garasi. Kami adalah laskar pelangi jilid dua. Begitulah para guru ku memanggilnya. Betapa tidak, kelas ku belajar di garasi ustadz ku, kotoran hewan dan debu dan panasnya atap seng adalah topik kita setiap paginya. Kondisi ini tidak lain karena kelas kami tidak mendapatkan ruangan belajar. Tinggal garasi lah yang tersisa.
Namun, keadaan itu malah menambah semangat juang kita, terutama ketika kami saat itu masih mengemban amanah sebagai pengurus ASA ( Assosiation Student of Al-amin). Aku sebagai bendahara umum harus mangatur keuangan yang begitu banyaknya. Aku harus pandai mengatur waktu belajar Ku dengan kesibukan ku sebagai bendahara. Namun terkadang aku mengeluh kepada presiden ku agar amanah ku digantikan dengan yang lainnya. Satu hal yang sangat melekat saat aku menjadi bendahara adalah ketika aku dan presiden ku dimarahi habis-habisan oleh ustadzku sampai di goblok-goblokin. Namun, berangkat dari sanalah keorganisasian ASA masa amanah kami lancar dan sejahtera.
Tidaklah salah ustadz asep ku selalu berkata “ berorganisasi itu harus siap memimpin dan dipimpin”. Harus siap berjuang dan berkorban. Karena sejatinya kami tidak mendapatkan imbalan sepeser pun. Itulah pendidikan yang diterapkan di Al-amin, sebagai sekolah ku plus pesantren ku.
Di al-amin pula, aku mulai mencoretkan mimpi-mimpi terbesarku dalam buku harianku. Salah satunya yang aku tulis ialah:
1. Lolos PBSB
2. Masuk UIN
3. Naik kereta
4. Pergi ke kota yang pernah orang tuaku tinggali (Surabaya)
Kali pertamanya, aku masih ragu dengan mimpi-mimpi ku, karena ketraumaan ku saat aku kelas 3 MTs, aku pernah bermimpi untuk sekolah ke BINA PUTRA Bandung, namun gagal dan aku merasa pesimis dengan mimpi ku karena aku bercermin kepada kakak kelas yang ikut PBSB namun tidak ada satu pun yang lolos dari 9 peserta. Akan tetapi, saat aku mengutarakan gagasan itu kepada ustadz asep ku, aku dibentak habis-habisan. Menurutnya aku tidak percaya akan janji Alloh yang tidak disangka-sangka. Beliau mengatakan “man ‘arafa nafsahu faqod ‘arafa rabbahu”. Dari situ lah aku mulai menata hati dan kepercayaan ku akan mipi-mimpi. Namun, untuk lebih memantapkan hati, aku selalu ikut seminar motivasi-motivasi dan akhirnya aku mendapat jawabannya itu, yaitu jika kau berani bermimpi, maka tulislah mimpi-mimpi mu kelak apa yang kamu tulis akan menjadi kenyataan dikemudian hari. Namun satu kunci,” percayalah akan mimpi-mimpi mu itu”.
Hingga akhirnya kelas kami mengikuti salah satu beasiswa yaitu beastudi etos, karena untuk antisipasi ditakutannya ada kemungkinan yang tidak diharapkan, akhirnya aku pun mengikuti jalur PBSB. Awalnya aku enggan untuk mengikutinya karena beberapa faktor yaitu: Pertama saat itu keadaan ekonomi sedang tidak sehat, sampai aku bingung ikut tidaknya tes ke bandung, padahal dari sekolah ku Sembilan orang telah lolos berkas dan dipanggil untuk mengikuti tes ke Bandung. Kedua aku telah terlanjur janji kepada ibu ku bahwa aku tidak akan mengikuti beasiswa lagi kecuali beastudi etos.
Akhirnya, jauh dari sebelum mau ikut beasiswa PBSB, aku sudah antisipasi dengan keuangan ku. Untuk mengisi kekosongan ku setelah UN, aku ditawari ustadzah ku untuk menjaga koperasinya, dan apa boleh buat, tawaran itu aku terima meski aku tau kelak aku tidak akan bisa bermain bebas bersama teman-teman ku.
Ternyata, seiring berjalannya waktu, beastudi etos pun aku peroleh. Sungguh bahagia tidak ada bandingannya, namun tetap aku harus ikut SNMPTN karena menjadi syarat utama untuk mendapatkan beastudi itu. Namun, tidak lama kemudian pengumuman beasiswa PBSB pun keluar, itulah hari yang paling menegangkan. Hingga akhirnya sore hari aku mendapatkan kabar dari ustadz ku bahwa aku lolos PBSB di IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA, fakultas syariah jurusan muamalah. Sungguh kejaiban bagi ku bagi pesantren ku dan yayasanku. Betapa tidak, sekolah dan pesantren kami baru mengeluarkan satu angkatan, dan angkatan ku adalah angkatan kedua.
Saat itu, tidak karuan pikiran ku, aku sujud syukur, tangan ku kedinginan, aku diselamati oleh ustadz dan ustadzah ku. Hal yang paling aku merasa mengharukan adalah ketika ustadz asep ku mengucapakn “ success, ma’annajah anak ku..” . seketika itu air mata ku bercucuran. Dalam hati ku melayang pada tulisan mimpi-mimpi diatas kertas yang telah lusuh, tertera bahwa aku ingin lolos PBSB dan masuk UIN. Ternyata hari itu pula, mimpi ku terjawab sudah.
Akhirnya aku disuruh ustadz ku agar memanggil orang tua ku ke rumahnya. Ketika aku telfon ternyata ayahku masih di lading. Ketika ayah ku datang, saat itu pula aku meminta restu dan mencium tanganya ayah ku yang masih lembut dan dingin, aku lihat wajah yang selalu penuh kasih sayang, namun seketika pula aku melihat keadaan wajah ayah yang semakin hari semakin menua karena berjalannya usia dan gigi ayah sudah mulai menanggal satu persatu karena ayah sering sakit-sakitan.
Setelah berjalannya hari, kabar itu tersebar di kampungku, dan teman-teman ku. Semua mendo’akan ku, sungguh lah kumplit kebahagiaan ku.
Ketika Aku di Surabaya
Tinggalah saatnya aku berangkat ke Surabaya untuk mengikuti matrikulasi, menggunakan kereta. Saat itu pun merupakan salah satu mimpi ku naik kereta ke Surabaya. Bahkan itu adalah mimpi ku semenjak kecil. Saat keberangkatan, hati ku tidak karuan, karena ayah dan ibu ku tidak mengantarkan ku sampai stasiun. Aku hanya bisa melihat ibu dan ayah di rumah.
Setelah sampai aku di Surabaya, ketika itu pula aku melihat gerbang hijau yang gagah dan bersahaja. Aku melangkahkan kaki ku serasa melayang. IAIN di pagi sangatlah tenang dan sejuk, aku mulai merasakan aroma kampus….
Aku pun merasa takjub sebagai anak desa yang datang ke kota, bangunan-bangunan yang besar dan tinggi, sangat jauh berbeda dengan kampung halaman ku yang masih banyak pepohonan yang tinggi dan rindang.
Matrikulasi pun aku jalani. Saat itu, aku rasakan serasa berkeliling Indonesia, betapa tidak, aku bertemu dengan orang Medan, Jambi, Padang dan Jawa. Sedangkan aku berbicara bahasa sunda. Semuanya adalah santri.
Tibalah saatnya aku pulang kerumah, aku ceritakan pengalaman ku saat di Surabaya kepada ayah dan ibuku. Salama 40 hari aku tinggal di rumah dan setelah itu, aku pun berangkat ke Surabaya lagi. Untuk kali ini, aku akan memulai kuliah pertama ku.
Saat keberangkatan yang kedua ini, aku berangkat sendiri, aku diantarkan langsung oang tua ku, saat inilah kurasa sangat mendramatisir. Saat kereta api mulai terlihat, aku peluk ayah ibuku dengan erat, kehangatannya kurasakan begitui lembut. Aku tahan tangisanku, aku sembunyikan agar orang tua ku tidak khawatir dengan keberangkatan ku. Aku pun naik, dan seketika keretanya mulai melaju, aku duduk dan terlihat orang tua ku melambaikan tangannya. Aku tidak bisa menahannya lagi, air mSata ku bercucuran dengan derasnya, tidak peduli siapa yang di sampingku. Kini aku mengemban amanah orang tua ku, teman ku, yayasan ku dan Negara.
Hingga akhirnya akupun masuk perkuliahan. Awal mulanya aku terkaget-kaget melihat mahasiswi yang memakai baju, celana yang tidak pernah aku temukan di pesantren ku, namun akhirnya aku sadar, inilah pentingnya aku mendalami ilmu agama, tidak salah ibu ku selalu memaksa untuk masuk pesantren. Bagi ku, mahasiswa lulusan pesantren pun mampu bersaing dengan mahasiwa umum lainnya.
Di kampus, mungkin kelas kami lah yang kuliahnya tidak pernah pakai celana, selalu memakai rok, sebagai identitas kami sebagai santri. Namun, salah satu rintangan di kampus, sangatlah pondasi agama aku mantapkan, karena berbagai pemahaman di IAIN sendiri sangatlah kompleks, terkadang apa yang disampaikan oleh para dosen bertolak belakang dengan kebiasaan ku di rumah. Ini menjadi tantangan terbesar ku.
Bagi ku, kampus IAIN adalah tempat ku berproses. IAIN, sangat lah area keras bagi ku,. Betapa tidak, semua berbahasa jawa, sedangkan aku berbahasa sunda. Aku termasuk kalangan minoritas. Meski terkadang rasa menyesal memilih IAIN tak terbantahkan. Namun, aku pun harus merajut mimpi-mimpi ku. Tantangan ku sekarang sangat lah besar. Kelak aku akan terjun ke masyarakat dan mengabdi ke pesantren asal ku mondok. Kelak masyarakat tidak menanyakan ku tentang muamalah, yang ditanyakan “ kamu bisa apa?”.
Itulah secercah metamorfosa hidup ku, aku seorang anak manja yang berani pergi ke Surabaya tanpa ayah dan ibu. Kini, aku memulai merajut mimpi dan kedewasaan ku. Akupun mulai merajut mimpi terbesar ku sebagai motivasi dan kekuatan ku untuk tinggal di IAIN.
Bagiku, mimpi adalah hal yang sangat urgen untuk dimiliki setiap insan yang haus akan kesuksesan dunia maupun akhirat. Bermimpi itu mengasyikan dan mudah, namun tidak semua orang pandai untuk bermimpi, alasannya yaitu karena ia takut apa yang ia impikan tidak terjawab. Betapa tidak, orang yang berani bermimpi haruslah mimpi yang tidak terbayangkan oleh kebanyakan orang. Karena hal itu akan menjadi suatu motivasi terbesar yang membawa ia kepada mimpi-mimpinya. Bahkan, tak jarang orang yang yang bermimpi tinggi dianggap sebagai orang gila karena mustahil mimpinya itu tercapai.
Untuk Ayah Ibu ku, Almamaterku, dan Negara ku, kini aku akan berusaha mewakafkan diri ku untuk kepentingan agama. Aku percaya. THE DREAMS WILL COME TRUE…!
CORETAN HIDUP
LETI LATIFAH
DARI PONDOK MODERN ALAMIN
CIAMIS, JAWA BARAT
FAKULTAS SYARI’AH JURUSAN MUAMALAH
IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA
2012








