Sejak kecil,
saya memang dibesarkan di lingkungan yang religius. Ibu dan Ayah mengajari saya
tentang agama, jauh sebelum saya duduk di bangku sekolah. Salah satunya yaitu
meskipun perempuan, saya sering diajak Ayah pergi ke masjid, juga dituntut
untuk berhijab sejak kecil, sholat, puasa, mulai dari tidur yang harus membaca
do’a hingga makan yang harus duduk hingga mengaharuskan untuk memakai tangan
kanan. Saya kerap menuruti apa yang diperintahkan orang tua saya. Meskipun saat
itu cara sholat saya masih mengikuti gerak-gerik orang tua yang sebenarnya saya
tidak paham bacaan apa yang diucapkan orang tua. Namun, suara “wis wes” yang
keluar dari bacaan alquran itu yang selalu saya baca ketika sholat. Dan hal
yang selalu menarik untuk saya ceritakan tentang masa kecil ialah ketika puasa,
saya selalu diam-diam membatalkan puasa, dan saya selalu mengajak teman-teman
untuk melakukan hal itu. Sama halnya dengan cara berpakaian. Saya sering sekali
mengenakan rok pendek, tidak berkerudung ketika hendak main. Namun selalu saja
saya tertangkap basah oleh kakek dan rambut saya yang menjadi sasaran tangannya
karena tidak berkerudung, “ tutupi aurat kamu” sambil menjenggut rambut.
Akhirnya saya
memahaminya tatkala masuk bangku sekolah. Sebenarnya perintah-perintah sholat Ayah
dan orang tua mengajariku jauh sebelum aku sekolah. Namun di bangku sekolahan
hingga di kelas pengajian saya dituntut untuk bisa baca Alquran, hafalan sholat, hafal nama- nama Nabi, malaikat,
dan sejak saat itu pula tepatnya kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah, saya mulai sholat
lima waktu hingga dalam keadaan sakitpun saya selalu meminta bantuan Ibu agar
bisa melaksanakan sholat. Puasa wajib pun seperti itu. Saya memulai puasa wajib
hingga tamat sampai magrib sejak duduk di kelas 3 meskipun saat itu saya kalah
dengan teman saya yang sudah bisa puasa wajib semenjak kelas 2 MI. Berhijab pun
demikian. Karena saat itu sudah memahami apa itu rukun iman, rukun Islam dan lain
sebagainya. Satu hal yang selalu saya ingat tatkala sesekali saya tidak
menegrjakan sholat. Ayah selalu memberi nasihat “ anak usia tujuh tahun dan ia
belum juga melaksanakan sholat, maka tugas orang tua wajib untuk memukulnya”
terlebih lagi ketika di pengajian. Selalu dipelajari tentang ilmu-ilmu agama.
Jika tidak melaksanakan sholat maka konsekuensinya masuk neraka.
Islam
mengajarkan umat muslim untuk beretika. Tatkala itu saya ingin sekali beli
jajan ke warung. Karena saya tidak punya uang dan kebetulan ada uang Ibu di
kamar. Maka seketika itu saya ambil. Saat itu saya tidak pernah berpikir bahwa
itu dosa. Karena yang ada di benak saya “ ah,, kan ini uang punya Ibu,,”.
Setelah Ibu mengetahui hal itu. Akhirnya saya ditegur. Karena saya takut saya
bohong. Namun Ibu tetap tahu bahwa saya yang mengambilnya dan akhirnya saya
mengakuinya. “jangan sekali-kali ambil uang tanpa izin ya nak,, meskipun ini
milik Ibu, tetep aja tidak baik. Takutnya nanti akan menjadi kebiasaan. Awas !
jangan sekali-kali”. Akhirnya saya paham dan tidak pernah sama sekali
mengulanginya hanya untuk satu itu meskipun uang yang saya ambil tatkala itu
hanya 500 rupiah.
Hingga saat
itu saya menginjak kelas lebih atas dari kelas 3. Saat itu memang di
televisi-televisi mengabarkan banyaknya orang-orang murtad yang berhaji bukan
ke Masjidil Haram melainkan ke daerah India. hingga orang yang berstatus Islam KTP. Sekilas
tatkala itu saya berpikir bahwa “apa sih bedanya mereka yang berhaji di Masjidil
Haram dengan yang di daerah India? Bukankah sama-sama beribadah?” dan akhirnya
guru saya mengajarkan saya tentang haji sedetail-detailnya dan alasan-alasan
mengapa kita umat muslim harus melaksanakan ibadah haji dengan tidak selain di
tanah suci.
Saya pun sudah
menginjak remaja. Banyak sekali berita-berita dari media bahwa muallaf yang
hendak masuk Islam namun besar sekali rintangannya hingga siksaan, cemoohan dan
pengucilan yang ia dapatkan dari keluarga besarnya. Namun apa yang terjadi
dengan muallaf itu? Luar biasa dia tetap tegar menghadapinya. Sering kali saya
merinding mendengar berita-berita seperti itu. Betapa kasihaninya mereka dan
betapa beruntungnya saya. Hanya ingin
berstatus Islam harus mengorbankan jiwa raganya. Sedangkan saya yang sedari
kecil sudah diajarkan tentang Islam. Saat itu saya merasa bingung. Sejak kapan
saya masuk Islam? Kenapa mereka yang ingin masuk Islam mereka harus membaca
syahadat? Kenapa saya tidak? Padahal dalam rukun Islam nomor satu adalah
syahadat?
Pertanyaan-pertanyaan
yang selalu terbersit itu akhirnya terjawab. Semenjak lahir kedunia ini, Ayah
mengumandangkan suara adzan dan iqomah di telinga kanan dan kiri. Lafadz yang
pertama Ayah bisikan adalah lafadz Allah dan detik itu juga saya adalah putri
dari kedua orang tua yang beragama Islam, dan semenjak saya lahir saya dituntun
oleh kedua orang tua untuk mengikuti ajaran-ajaran Islam. Hingga pada akhirnya
memang Islam saya bisa dikata Islam keturunan. Namun betapa beruntungnya saya, Allah
ciptakan saya dari orang tua yang jelas beragama Islam dan selalu menuntunku
menuju jalanNya. Sulit dibayangkan jika Allah mentakdirkan saya hidup dari
keluarga Non-muslim. Subhanalloh, nikmat yang tiada tara saat ini saya menjadi
orang muslim yang kapanpun dan dimanapun tanpa ada orang yang menghalang-halangi
tatkala beribadah. Tidak hanya itu, tatkala saya baru belajar bicara, Ayah dan Ibu
selalu mengajarkan saya untuk berkata Allah
langgeng yang dalam bahasa
Indonesianya Allah Maha kekal. Namun, sering kali Ibu bercerita bahwa yang
keluar kata-kata saat saya kecil ialah “ao hakkeng”.
Beda usia beda
cerita. Saat itu saya menginjak kelas 3 Madrasah Aliyah. Saat itu saya ditanya
ustadz mengenai dilanjutkan atau tidaknya setelah lulus. Dan saat itu saya
bimbang dan merasa kecil, ustadz pun menyarankan saya untuk mengikuti beberapa
beasiswa. “saya tidak mungkin bisa dapatkan beasiswa Ustadz, saya bukan orang
pintar”. Mendengar jawaban saya ustadz marah “ Kamu tidak percaya adanya Allah
ya? Ingat, Allah maha kuasa. Dia Maha Tahu rahasia yang tidak pernah kau tahu.
Berusahalah. Pasti bisa.. Allah selalu mendengar doa-doa hambaNya di sepertiga
malam”. Akhirnya mulai saat itu, rasanya keimanan terasa naik ke atas. Semangat
belajar terus berkobar, walhasil dengan keteguhan itu saya bisa sampai di IAIN.
Lain cerita
lagi tatkala saya di IAIN, belajar filsafat, ilmu kalam mengenai jabariyah dan
qodariyah, ilmu tasawuf dengan
maqam-maqamnya yang membuat pikiran ini merasa terusik hingga akhirnya kadang
kala hampir menggoyahkan. Pernah saya bimbang mengenai
keberadaan Allah. Banyak orang bilang bahwa Allah ada di mana-mana, Allah
bersemayam di atas Arasy, dan salah satu nikmat yang paling nikmat ialah
bertemu Allah. Itulah kebimbangan yang teramat sehingga ketika berbicara hal itu
sering kali saya berimajinasi tentang wujud dzat Allah yang mempunyai tangan
kaki layaknya manusia. Dan satu hal lagi yaitu bahwa satu-satunya yang kekal
kelak yaitu hanya Allah. Lantas bagaimana surga dan neraka yang jelas-jelas
dalam Alquran “kholidiina fiiha abada” Astagfirullah. Sering kali saya istigfar
jika sudah berpikiran seperti itu. Karena sejatinya Allah tidak sama dengan
mahlukNya dan tidak ada satupun yang menyerupainya. Namun tetap
semuanya mengajarkan tentang ke Esaan Allah. Bahwa “Berpikirlah
kamu tentang ciptaan Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang dzat Allah.”
Mengambil
kesimpulan di atas bahwa mengapa kita harus memilih agama Islam? Karena Islam
itu agama yang sempurna. Islam mengajarkan umatnya mulai dari yang terkecil, seperti
etika, akhlak cara bagaimana kita berpakain, bertingkah laku, cara kita makan,
minum dan lain sebagainya hingga cara dan etika kita beribadah. Dan satu hal
lagi Islam mengatur kerukunan antara lintas agama. Islam itu sangat indah, Islam
mengatur bagaimana bergaul dengan sesama dan lawan jenis. Islam pun berbicara
tentang betapa mulyanya seorang perempuan sehingga menjadikan salah satu nama
surat dalam Alquran (An-nisa).
Islam
menuntut umatnya dengan tidak hanya mengaku “saya Islam”. Namun lebih dari itu,
harus diyakini oleh hati dan dilaksanakan dengan amalan-amalan yang telah
diperintahkan. Jangan jadikan Islam itu sebagai Islam KTP alias Islam status
semata. Allah maha melihat hamba-hambaNya yang taat dan tidak padaNya. Oleh
karena itu seperti yang telah saya terima dari mata kuliah Study alquran bahwa
ada ayat alquran yang muhkam dan ada juga yang mutasyabih. Di sanalah letak
kekuasaan Allah yang harus kita pahami sehingga tidak membawa kita pada
kesesatan. Satu hal yang lebih penting lagi bahwa Islam menuntun kita untuk
selalu sabar dan bersyukur atas apa yang diberikan Allah kepada kita. Dan hal
ini mengindikasikan bahwa Allah itu ada dan harus kita yakini.
Surabaya,
15 November 2013



0 komentar:
Posting Komentar