Jumat, 15 November 2013

KONTEMPLASI DIRI; MENGAPA HARUS MEMILIH ISLAM SEBAGAI AGAMA YANG WAJIB KITA YAKINI KEBENARANNYA?



Sejak kecil, saya memang dibesarkan di lingkungan yang religius. Ibu dan Ayah mengajari saya tentang agama, jauh sebelum saya duduk di bangku sekolah. Salah satunya yaitu meskipun perempuan, saya sering diajak Ayah pergi ke masjid, juga dituntut untuk berhijab sejak kecil, sholat, puasa, mulai dari tidur yang harus membaca do’a hingga makan yang harus duduk hingga mengaharuskan untuk memakai tangan kanan. Saya kerap menuruti apa yang diperintahkan orang tua saya. Meskipun saat itu cara sholat saya masih mengikuti gerak-gerik orang tua yang sebenarnya saya tidak paham bacaan apa yang diucapkan orang tua. Namun, suara “wis wes” yang keluar dari bacaan alquran itu yang selalu saya baca ketika sholat. Dan hal yang selalu menarik untuk saya ceritakan tentang masa kecil ialah ketika puasa, saya selalu diam-diam membatalkan puasa, dan saya selalu mengajak teman-teman untuk melakukan hal itu. Sama halnya dengan cara berpakaian. Saya sering sekali mengenakan rok pendek, tidak berkerudung ketika hendak main. Namun selalu saja saya tertangkap basah oleh kakek dan rambut saya yang menjadi sasaran tangannya karena tidak berkerudung, “ tutupi aurat kamu” sambil menjenggut rambut.
Akhirnya saya memahaminya tatkala masuk bangku sekolah. Sebenarnya perintah-perintah sholat Ayah dan orang tua mengajariku jauh sebelum aku sekolah. Namun di bangku sekolahan hingga di kelas pengajian saya dituntut untuk bisa baca Alquran,  hafalan sholat, hafal nama- nama Nabi, malaikat, dan sejak saat itu pula tepatnya kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah, saya mulai sholat lima waktu hingga dalam keadaan sakitpun saya selalu meminta bantuan Ibu agar bisa melaksanakan sholat. Puasa wajib pun seperti itu. Saya memulai puasa wajib hingga tamat sampai magrib sejak duduk di kelas 3 meskipun saat itu saya kalah dengan teman saya yang sudah bisa puasa wajib semenjak kelas 2 MI. Berhijab pun demikian. Karena saat itu sudah memahami apa itu rukun iman, rukun Islam dan lain sebagainya. Satu hal yang selalu saya ingat tatkala sesekali saya tidak menegrjakan sholat. Ayah selalu memberi nasihat “ anak usia tujuh tahun dan ia belum juga melaksanakan sholat, maka tugas orang tua wajib untuk memukulnya” terlebih lagi ketika di pengajian. Selalu dipelajari tentang ilmu-ilmu agama. Jika tidak melaksanakan sholat maka konsekuensinya masuk neraka.
Islam mengajarkan umat muslim untuk beretika. Tatkala itu saya ingin sekali beli jajan ke warung. Karena saya tidak punya uang dan kebetulan ada uang Ibu di kamar. Maka seketika itu saya ambil. Saat itu saya tidak pernah berpikir bahwa itu dosa. Karena yang ada di benak saya “ ah,, kan ini uang punya Ibu,,”. Setelah Ibu mengetahui hal itu. Akhirnya saya ditegur. Karena saya takut saya bohong. Namun Ibu tetap tahu bahwa saya yang mengambilnya dan akhirnya saya mengakuinya. “jangan sekali-kali ambil uang tanpa izin ya nak,, meskipun ini milik Ibu, tetep aja tidak baik. Takutnya nanti akan menjadi kebiasaan. Awas ! jangan sekali-kali”. Akhirnya saya paham dan tidak pernah sama sekali mengulanginya hanya untuk satu itu meskipun uang yang saya ambil tatkala itu hanya 500 rupiah.
Hingga saat itu saya menginjak kelas lebih atas dari kelas 3. Saat itu memang di televisi-televisi mengabarkan banyaknya orang-orang murtad yang berhaji bukan ke Masjidil Haram melainkan ke daerah India.  hingga orang yang berstatus Islam KTP. Sekilas tatkala itu saya berpikir bahwa “apa sih bedanya mereka yang berhaji di Masjidil Haram dengan yang di daerah India? Bukankah sama-sama beribadah?” dan akhirnya guru saya mengajarkan saya tentang haji sedetail-detailnya dan alasan-alasan mengapa kita umat muslim harus melaksanakan ibadah haji dengan tidak selain di tanah suci.
Saya pun sudah menginjak remaja. Banyak sekali berita-berita dari media bahwa muallaf yang hendak masuk Islam namun besar sekali rintangannya hingga siksaan, cemoohan dan pengucilan yang ia dapatkan dari keluarga besarnya. Namun apa yang terjadi dengan muallaf itu? Luar biasa dia tetap tegar menghadapinya. Sering kali saya merinding mendengar berita-berita seperti itu. Betapa kasihaninya mereka dan betapa beruntungnya saya. Hanya  ingin berstatus Islam harus mengorbankan jiwa raganya. Sedangkan saya yang sedari kecil sudah diajarkan tentang Islam. Saat itu saya merasa bingung. Sejak kapan saya masuk Islam? Kenapa mereka yang ingin masuk Islam mereka harus membaca syahadat? Kenapa saya tidak? Padahal dalam rukun Islam nomor satu adalah syahadat?
Pertanyaan-pertanyaan yang selalu terbersit itu akhirnya terjawab. Semenjak lahir kedunia ini, Ayah mengumandangkan suara adzan dan iqomah di telinga kanan dan kiri. Lafadz yang pertama Ayah bisikan adalah lafadz Allah dan detik itu juga saya adalah putri dari kedua orang tua yang beragama Islam, dan semenjak saya lahir saya dituntun oleh kedua orang tua untuk mengikuti ajaran-ajaran Islam. Hingga pada akhirnya memang Islam saya bisa dikata Islam keturunan. Namun betapa beruntungnya saya, Allah ciptakan saya dari orang tua yang jelas beragama Islam dan selalu menuntunku menuju jalanNya. Sulit dibayangkan jika Allah mentakdirkan saya hidup dari keluarga Non-muslim. Subhanalloh, nikmat yang tiada tara saat ini saya menjadi orang muslim yang kapanpun dan dimanapun tanpa ada orang yang menghalang-halangi tatkala beribadah. Tidak hanya itu, tatkala saya baru belajar bicara, Ayah dan Ibu selalu mengajarkan saya untuk berkata  Allah langgeng  yang dalam bahasa Indonesianya Allah Maha kekal. Namun, sering kali Ibu bercerita bahwa yang keluar kata-kata saat saya kecil ialah “ao hakkeng”.
Beda usia beda cerita. Saat itu saya menginjak kelas 3 Madrasah Aliyah. Saat itu saya ditanya ustadz mengenai dilanjutkan atau tidaknya setelah lulus. Dan saat itu saya bimbang dan merasa kecil, ustadz pun menyarankan saya untuk mengikuti beberapa beasiswa. “saya tidak mungkin bisa dapatkan beasiswa Ustadz, saya bukan orang pintar”. Mendengar jawaban saya ustadz marah “ Kamu tidak percaya adanya Allah ya? Ingat, Allah maha kuasa. Dia Maha Tahu rahasia yang tidak pernah kau tahu. Berusahalah. Pasti bisa.. Allah selalu mendengar doa-doa hambaNya di sepertiga malam”. Akhirnya mulai saat itu, rasanya keimanan terasa naik ke atas. Semangat belajar terus berkobar, walhasil dengan keteguhan itu saya bisa sampai di IAIN.
Lain cerita lagi tatkala saya di IAIN, belajar filsafat, ilmu kalam mengenai jabariyah dan qodariyah, ilmu tasawuf  dengan maqam-maqamnya yang membuat pikiran ini merasa terusik hingga akhirnya kadang kala hampir menggoyahkan. Pernah saya bimbang mengenai keberadaan Allah. Banyak orang bilang bahwa Allah ada di mana-mana, Allah bersemayam di atas Arasy, dan salah satu nikmat yang paling nikmat ialah bertemu Allah. Itulah kebimbangan yang teramat sehingga ketika berbicara hal itu sering kali saya berimajinasi tentang wujud dzat Allah yang mempunyai tangan kaki layaknya manusia. Dan satu hal lagi yaitu bahwa satu-satunya yang kekal kelak yaitu hanya Allah. Lantas bagaimana surga dan neraka yang jelas-jelas dalam Alquran “kholidiina fiiha abada” Astagfirullah. Sering kali saya istigfar jika sudah berpikiran seperti itu. Karena sejatinya Allah tidak sama dengan mahlukNya dan tidak ada satupun yang menyerupainya. Namun tetap semuanya mengajarkan tentang ke Esaan Allah. Bahwa “Berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang dzat Allah.”
Mengambil kesimpulan di atas bahwa mengapa kita harus memilih agama Islam? Karena Islam itu agama yang sempurna. Islam mengajarkan umatnya mulai dari yang terkecil, seperti etika, akhlak cara bagaimana kita berpakain, bertingkah laku, cara kita makan, minum dan lain sebagainya hingga cara dan etika kita beribadah. Dan satu hal lagi Islam mengatur kerukunan antara lintas agama. Islam itu sangat indah, Islam mengatur bagaimana bergaul dengan sesama dan lawan jenis. Islam pun berbicara tentang betapa mulyanya seorang perempuan sehingga menjadikan salah satu nama surat dalam Alquran (An-nisa).
Islam menuntut umatnya dengan tidak hanya mengaku “saya Islam”. Namun lebih dari itu, harus diyakini oleh hati dan dilaksanakan dengan amalan-amalan yang telah diperintahkan. Jangan jadikan Islam itu sebagai Islam KTP alias Islam status semata. Allah maha melihat hamba-hambaNya yang taat dan tidak padaNya. Oleh karena itu seperti yang telah saya terima dari mata kuliah Study alquran bahwa ada ayat alquran yang muhkam dan ada juga yang mutasyabih. Di sanalah letak kekuasaan Allah yang harus kita pahami sehingga tidak membawa kita pada kesesatan. Satu hal yang lebih penting lagi bahwa Islam menuntun kita untuk selalu sabar dan bersyukur atas apa yang diberikan Allah kepada kita. Dan hal ini mengindikasikan bahwa Allah itu ada dan harus kita yakini. 


                                    Surabaya, 15 November 2013

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More