This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 27 Juni 2014

KETIKA HATI MENYIMPAN SATU “NAMA”


Angin sepoi-sepoi menari ria di luar sana, lalu masuk tanpa permisi menerobos jendela tanpa kaca. Seperti bersorak sorai bergembira, berhasil menina bobokan mata kami yang sudah menguap beruntun dari bangku A hingga Z. Aku duduk persis di depan guru, perjuanganku menahan mata harus lebih ekstra.
Glodakkkk.. jdukk.. “Aduh,… sakitt”. Suara seseorang di sudut kiri kelas mengaduh kesakitan. Seseorang yang berbadan tinggi namun kurus kering. Gayanya yang ketika ia berjalan seakan hendak terjatuh tertiup angin. Ditambah dengan rambut tipis ikal, konon kata teman-teman SD-nya rambut dia ikal karena pernah menderita sakit panas selama sebulan.
“Kenapa nak, habis tahajud tadi malam ya??”. Tanya ibu Ian, seorang guru pelajaran Akhlak Tasawuf yang dari tadi mengawasinya hingga ia pun terjatuh dari tiang tangan yang menyanggahnya, sedangkan seisi kelas terbahak-bahak menertawakan ulahnya. Berkat tertangkapnya dia, kita sembuh dari rasa kantuk.
“Hehehe, maaf Bu”. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang “mungkin” saja tidak gatal, hanya saja ia malu dengan kejadian beberapa menit yang lalu.
Pelajaran pun usai, seperti biasa ibu Ian menutup setiap kali pertemuan dengan motivasi yang selalu membakar semangat jiwa. “ jangan mengeluh anak-anakku. Meski dengan segala keterbatasan sekolah kita, kita harus tetap semangat. Sarana bukanlah satu-satunya penunjang kesuksesan”. Begitulah nasihatnya, kita memang angkatan ke-2. Angkatan yang masih premature, harus berjuang dengan segala ketidak nyamanan dan keterbatasan fasilitas.
“Leti, minggu besok kita jadi main ke rumahmu?” Tanya Ulfa. “Aku terserah teman-teman aja, aku udah bilang ko ke Ummiku. Katanya boleh”, jawabku datar. Dua langkah dari bangkuku, dia melangkah meninggalkan kelas. Sekilas aku memperhatikannya. Tiba-tiba dalam hati berkata, “aku bosan sekolah di sini, orangnya gak seru. Temen-temennya semuanya pendiem. Gak ada yang asyik, apalagi lihat dia. Lemah banget sih jadi cowok, gak ada energik-energiknya, apalagi keren” hatiku mengumpat.
Hari minggupun tiba, semua teman-temanku sudah berada di halaman rumahku. Tiba-tiba sahabatku reni mengolok-olokku “Ciee leti, cie adi, siapa tuh yang pake baju biru, cie pangeran biru”. “ih, apaan seh ren? Emang siapa yang pake baju biru? Sejak kapan aku dijodoh-jodohin sama adi coba? Jangan bikin gossip ya?” jawabku ketus. Tiba-tiba aku melangkah kedepan pintu, reni benar. Dia memakai baju biru dan tiba-tiba hatiku deg-degan, aku malu terlebih lagi ketika reni mengolok-olokku keras-keras. Tuhan, sejak saat itu aku selalu salah tingkah dibuatnya, mungkinkah ini pengganti hatiku yang baru. Sosok yang akan menjadi teman hatiku, untuk melupakan seseorang yang sebulan yang lalu melamar tanpa sepengetahuanku, namun akhirnya orang tuaku pun tidak menerimanya dengan alasan aku masih kecil. Maka sejak saat itu aku takut, takut ketika aku harus dijodohkan dengan kondisi aku belum dewasa. Saat itu aku berdo’a, “Rabby, jatuh cintakanlah aku pada seseorang yang mungkin bisa mengobati dan memberiku semangat dalam hari-hariku”. Yup, mungkin saja Do’aku terkabul. Mungkinkah aku jatuh cinta? Entahlah..
Haripun berlalu dengan cepat, secepat gossip tentang aku dan dia yang menurut mereka “cocok”. Sejak saat itu, di kelas, di asrama, yang menjadi topik teman-teman ialah “aku dan dia” dan parahnya lagi gosip ini menyebar luas pada adek-adek kelas dan guru-guru. Hal ini membuatku tidak nyaman. Yup tidak nyaman sekali. Dan aku takut, takut suatu hari akan menyakitkanku. Hingga suatu ketika, keadaan pun berubah 180 derajat, kepala sekolah menyarankan kami untuk mengikuti ekstra kulikuler, Silat setia hati tepatnya yang membawa perubahan besar pada dia. Kami dipaksa untuk mengikuti kegiatan itu, menurutnya ini akan menjadi bekal kekuatan fisik kita suatu hari nanti. Kamipun terpaksa mengikutinya. Namun tidak bagi dia, sejak saat itu ia rutin olah raga pagi. Ia rutin main footsal hingga kekuatan fisiknya berubah. Dia tak lagi si tinggi kurus kering yang hendak tertiup angin. Dia tampil energik setiap saat, ia tampil mempesona dengan tinggi semampainya. Mulai menjadi anak band dengan suara merdunya. Sudah tak perlu diragukan lagi soal keaktifannya di kelas. Dia memang telah “menyilaukan” mata hatiku. Ya, dia memang punya karisma. Dalam diam, aku mengaguminya.
Waktu berlalu begitu cepat, sampailah aku di kelas sebelas IPS. Kelas yang penuh dengan “Cinta membara”, persis seuntai lirik lagu yang kami ciptakan. Tepat di kelas sebelas ini, rasaku padanya semakin hidup. Sulit untuk aku melupakannya. Aku tak pernah mengatakan segala rasaku pada siapapun, sekalipun pada teman dekatku. Tapi entah mengapa, mereka seperti memahami aku memendam “rasa”. Tibalah saatnya ketika hati ini harus memendam lebih dalam, dan mencoba menghapuskan segala rasa.
“Ehem, siapa neh,, yang ketemuan tadi malem??” tiba-tiba temanku Rizky nyeletuk sambil senyum-senyum saat kami belajar di Lab Komputer. “Siapa? Siapa?” temanku Reni tak kalah penasaran mendengar celetukannya Rizky. “ah, nanti juga tau. Biar waktu yang menjawab” timbal Rizky yang bikin tambah penasaran.
Saat itu aku tak begitu menghiraukannya. Aku tak memahami apa yang mereka bahas. Namun akhirnya, tak lama setelah kejadian itu aku memahaminya. Dia telah bersama orang lain. Dia telah lama memendam rasa pada seseorang yang tak lain adalah temanku sendiri, sejak dia masuk Aliyah. Dan akhirnya malam tertanggal 28 Februari, cintanya terbalaskan. Aku terkulai lemas saat itu, aku tak sanggup lagi menahan air mata yang dari tadi berkaca-kaca. Aku menangis, inilah kali pertama aku menetesakn air mata karena Cinta. Air mata sebab cinta yang tak terbalaskan. Air mata cinta yang mungkin tak kan terlupakan.
Kabar jadian dia dengan sahabatku menyebar sangat cepat, lebih cepat dengan yang kubayangkan seperti gosipku tentang aku dan dia. Ini membuatku semakin sesak. Hari-hari yang kujalani selalu terasa buruk dan semakin buruk. Hingga akhirnya berimbas pada nilai raporku. Aku jatuh dua kali dalam satu masalah. Karena Cinta, karena dia.
Aku selalu berusaha keras untuk melupakannya. Dengan segala kekuatanku, aku bisa tulus untuk melupakannya. Ya, aku lupa dengan segala rasa yang pernah ada padanya. Dan ini membuatku semakin bebas. Aku bersahabat baik baik dengannya, terlebih ketika dia menjadi ketua OSIS dan aku sebagai bendaharanya. Dalam organisasi, kami saling melengkapi satu sama lain, atau bahkan terkadang curhat dengan masalah yang menimpaku, dengan bijak sebagai seorang sahabt dia menasehatiku. Aku mulai mengaguminya. Mengaguminya sebagai sosok sahabat yang solid di hatiku. Ya, Solid.
Hingga pada akhirnya, kamipun menginjak akhir kelas 3 Aliyah. Kami berjuang bersama meraih masa depan yang lebih indah. Berjuang meraih mimpi bersama “Laskar Pelangi Jilid 2” itulah julukan kelas kami. Dengan berbagai tujuan hidup, sahabatku Vida meraih Beastudi Etos di UGM, dan aku mendapatkan Beasiswa Santri (PBSB) di UIN Sunan Ampel. Sebuah mimpi dan rizki yang tak terhingga. Dia? Ya, dia melanjutkan Tahfidzul Quran di Cianjur bersama 2 sahabtku. Sedangkan Ika? Dia merantau ke Bandung, mencari pengalaman kerja. Ya, mereka memang sudah memiliki jalan yang berbeda. Sejak setahun saat kita berpisah, aku mendengar kabar bahwa mereka tak lagi bersama. Mengharukan sekali kisah mereka. Sejak ketulusanku untuk melepaskan rasa itu pada dia, aku sangat takjub pada Ika, ia berubah total menjadi seorang muslimah yang anggun dan dewasa. Akupun sering terinspirasi olehnya.
Dua tahun berlalu, hidup memang penuh misteri. 27 Januari 2014, aku mendengar kabar yang membuat lututku tak berhenti bergetar. Mata yang tak kuasa lagi menahan air mata. Mendengar kabar yang seharusnya ini menjadi kabar terindah bagi kami, namun apalah daya. Pahit, dan rasa pahit ini yang mungkin sedang Ika rasakan. Ika telah menikah tanpa ia mengabari kami. Ia menikah tepat di depan jenazah ayahandanya. Seketika itu, aku teringat dua tahun yang lalu, tentang kisah Ika dan dia. Dia yang saat ini masih tekun dengan hafalannya, kitab suci yang menjadi penyemangat jiwanya. Kisah tentangnya masih masih melekat di hati ini. Panggil dia, Adi.

Senin, 30 Desember 2013

MALANG; BERBURU TOKO DAN PRODUK UNIK




Malang, 16 oktober 2013. Adalah hari yang melelahkan dan menyenangkan bagi saya. liburan idul adha saya tidak berniat untuk pulang kampung ke Ciamis. Selain untuk menghemat uang saku, juga untuk mengefesiensikan waktu, mengingat banyak tugas-tugas yang harus saya kerjakan. Salah satunya tugas Kewirausahaan. Ibu sri menugaskan kami untuk survey pasar. Mencari pedagang yang unik dan kita sukai atau bahkan menjadi minat kita. Tidak lain tugas ini saya ambil kesimpulan bahwa hal ini mengajarkan kami bagaimana praktek di lapangan ketika berwirausaha, sehingga kita tidak mengetahui hanya materi-materi tetapi kita harus mengetahui kondisi yang sebenarnya melelaui tugas survey pasar ini.
Akhirnya, saya memutuskan untuk berlibur ke rumah temanku yang di malang, di rumah Indana tepatnya. Kami menuju pasar besar Malang yang lumayan jauh dari rumahnya. Di sana, kami keliling-keliling pasar dari satu toko ke took lainnya. namun nahas, kami tidak menemukan toko unik satupun dan akhirnya kami tertuju pada satu toko antik, akhirnya kami masuk dan ternyata, luar biasa. Sebuah maha karya tangan- tangan berjiwa seni hadir di hadapanku menyegarkan mata ini. Betapa tidak? Kerajinan antik berbau budaya Indonesia dari sabang sampai merauke hadir bin kumplit di toko ini, mulai dari alat music, wayang, pakaian adat, batik, hingga miniature jaman dahulu yang dipole dengan warna gold dan kecoklat-coklatan yang mengkilat sehingga membuat saya dan indana ingin memilikinya. Namun sayang, ketika kami melihat bandrolnya ternyata tidak cukup dengan uang saku kami, jika saja kami membelinya, mungkin kita pulang kerumah bisa jadi jalan kaki.
Saya dan indana berniat untuk mewawancarainya. Dan kebetulan saat itu ada penjaga tokonya. Namun lagi-lagi keberuntungan kita tidak pada toko ini, dikarenakan pemilik toko tidak ada di tempat, dan pelayannya enggan untuk kami wawancarai. Akhirnya dengan berat kaki melangkah, kami lanjutkan jalan-jalan kita dengan memasuki pasar Besar Malang dari tempat yang paling bawah. Mata kami mulai berbinar setelah kaki kami mulai kelelahan. Kami melihat para penjual yang sangat kreatif. Kebetulan komplek itu merupakan toko-toko para pengrajin salah satunya pengrajin kerinjang buat pernikahan.
Para pedagang, selain memamerkan barangnya juga memamerkan kekreatifitasannya di tempat itu juga, mereka memproduksinya di tempat di mana ia berjualan. Sehingga mereka tidak merasa bosan ketika meraka menunggu tokonya sembari menunggu pembeli datang. Rata-tara yang berjualan kerajinan itu seorang ibu-ibu cantik dengan keuletannya. Seperti yang kami wawancarai Ibu Mujiana. Ia pun berjualan kerajinan untuk pernikahan. Mulai dari tempat untuk mahar, pigura untuk mahar hingga kerinjang-kerinjang yang akan diperlukan oleh pengantin-pengantin. Namun, selain ia berjualan kerajinan, ia juga berjualan barang-barang antic jaman dahulu sehingga di tokonya pun padat dengan warna ke emas-emasan. Perlu diketahui bahwa Bu mujiana ini berjualan dari tahun 1997 dari mulai orang tuanya. Sehingga ia meneruskan dari peninggalan orang tuanya.
“barang-barang antic ini yang beli sudah sampai mancanegara loh dek, bahkan peminatnya orang-orang asing yang biasa belanja ke toko ibu ya barang-barang ini, ya diantaranya dari Jepang, bahkan dari Amerika”. Begitulah penuturan Bu Mujiana saat kami wawancarai. Saya dan indana tidak pernah ketinggalan untuk menyempatkan sesi Foto-foto dari mulai produk hingga dengan Bu Mujiana. Akhirnya satu tugas kami selesai. Tinggal satu tugas lagi, akhirnya kami menuju MATOS. Dan akhirnya kamipun menemukan toko unik kedua sehingga selesailah perjalanan kami.
Matahari sudah tidak lagi menampakan batang hidungnya, pertanda hari menjelang malam. Kami masih di angkutan kota. Dan kami pun sampai di rimah Indana sekitar pukul 20.00. Perjalanan yang panjang dan melelahkan plus menyenangkan.
Terima kasih Malang…

Minggu, 29 Desember 2013

MERAJUT; MAGANG DI KUTISARI BERSAMA UMMI



Bismillahirrahmanirrahim…
            Surabaya, 9 oktober 2013. Tepatnya di pagi buta, saya mendapatkan 2 pesan yang sangat jauh dari yang dibayangkan. “Hari ini mata kuliah Filsafat dan Hadits LIBUR”. Berita yang jarang sekali saya dengar jika hari rabu kelas Muamalah D harus libur, mengingat dari pertama masuk perkuliahan inilah kali pertamanya. Namun, setelah mendapatkan berita ini pikiranku sontak pada satu tugas yang hingga saat ini belum saya kerjakan, MAGANG.
Segera saya bersama teman-teman berunding untuk memulai magang pada hari itu, tempat tujuan kami magang yaitu di jalan kutisari nomor 22. Kami berangkat menggunakan angkutan kota tepat pukul 09.00. Jarak antara kampus dan tepat di mana kami magang, ternyata tidak sejauh yang kami bayangkan. Hanya dengan ongkos sekitar Rp 3.000 rupiah kami sampai di tujuan. Namun, jika saya kalkulasikan dengan biaya ongkos magang selama 25 hari, tentu biaya yang harus kami keluarkan tidak sedikit, dan itu tentu akan mengurangi jatah uang saku kami terutama saya. Dan hal ini membuat kami berbalik pikir untuk mengenakan sepeda ontel untuk hari-hari berikutnya agar menghemat uang saku.
Setibanya di tempat, kami tidak begitu saja langsung masuk dan mengucapkan salam. Kami yang sepertinya bahkan orang asing di sana. Berpikiran bahwa rumah itu tidak ada siapa-siapa. Ternyata setelah kami hubungi ibu Sri, dan ibu sri bersedia untuk menghubungi rumah pemilik dimana kami akan magang, tidak lama kemudian terbukalah pintu dengan seorang bapak-bapak mengenakan kaos hijau mempersilahkan kami untuk masuk. Segera kami masuk, dan kami merasa takjub melihat dekorasi hasil tangan-tangan kreatifitas di rumah Rhima Collection menghiasi seluruh sudut ruangan rumah. Sungguh mengesankan..!
Magang membuat bros. Itulah target saya dan teman-teman selama kurang lebih 25 hari ke depan. Namun sudah barang tentu, hari pertama kami magang hanya perkenalan dengan pemilik usaha. Kemudian kami mulai dengan pengenalan tehnik- tehnik dasar seperti pengenalan jenis jarum, pembuatan kancing press dan membersihkan benang-benang pada bross, setelah itu belajar ngelem bross, hingga pemasangan bross pada kertas tebal putih dan dibungkus dengan plastik transparan. Namun sebelum itu tentu dalam penyimpanan bros-bros itu sendiri ditata berdasarkan 6 warna yang harus berbeda dan pemilihan warna yang sangat cocok satu sama lainnya sehingga konsumen terpikat dengan barang yang akan dibeli. 
Setelah beberapa lama kami belajar di tempat magang, akhirnya rasa lelah mulai menghampiri kami dan tak lama kemudian kami pamitan pada ibu pemilik usaha. Dan  akhirnya target kami mulai berkurang satu hari.
Bismillahirrahmanirrahim…
            Surabaya, 11 Oktober 2013. Inilah hari kedua kami magang. Tepatnya hari jum’at. Kami berangkat lebih awal dengan tujuan setelah dzuhur kami segera pulang. Dan akhirnya kami sampai di tempat tujuan pukul 08.30. Sesampainya di sana, kami langsung saja melanjutkan kegiatan seperti kemarin, menata bros yang akan dipasarkan dan membuat kancing press. Dan setelah itu kami satu persatu diberi jarum dan segelondong benang. Ibu pemilik usaha akan mengajari kami tehnik dasar menyulam.
            Pertama kali saya dan teman-teman mencoba memegang benang dan jarum, sungguh sangat kaku sekali. Inilah kali pertama kami memegangnnya. Setelah itu, ibu mengajari kami membuat sulam rantai karena menurut beliau inilah tehnik dasarnya. Awalnya memang sulit, namun lama-lama kami berusaha dan akhirnya bisa. Dan ibu menyuruh kita untuk membuat sepanjang mungkin dan secepat mungkin, dan ibu tidak mensyaratkan kami harus dengan hasil bagus, namun menuntut kami agar terbiasa memegang benang dan jarum karena itu modal awal.
            Setelah hasil kita dianggap cukup oleh ibu, kami pun diajari bikin buletan. Dan tugas ini sangatlah tidak mudah seperti yang dibayangkan. Tidak semudah saat kita membuat rantai. Membuat buletan harus penuh dengan ketelitian. Dan tentu dengan ketelitian kami setelah berulang kali ibu dan putrinya mengajari kami. Akhirnya  kami pun bisa membuat buletan. Dan rasa lelah pun terobati dengan mampu membuat hanya sebuah buletan kecil. Dan setelah itu saya membagi kebahagiaan itu dengan teman-teman yang belum mampu membuatnya hingga akhirnya mereka pun bisa.
              Tepatnya pukul satu kamipun pamit pulang…
Selasa, 22 Oktober 2013 adalah kali ketiga aku dan teman-teman magang di Kutisari. Setelah beberapa hari sebelumnya kami belajar membuat buletan sebagai dasar membuat bunga. Dan akhirnya di hari kamis ini Ummi (panggilan Ibu pemilik Rhima Collection: Sebutan murid-murid Ummi agar mempunyai ikatan emosional yang bagus dengan beliau) melanjutkannya cara selanjutnya yaitu membuat kelopak, dan ternyata setelah beberapa kali Ummi mengajarkan kami, tak lama kamipun mampu membuatnya.
Membuat kelopak tidak sesusah ketika kami membuat buletan dasar, walaupun dicontohkan beberapa kali tetap saja kami tak mampu melakukannya, namun membuat kelopak hanya beberapa kali saja, saya mampu membuatnya sehingga dikala itu yang awalnya mata terasa ngantuk, hilang seketika ketika saya sudah mampu membuat beberapa bunga. Namun inti dari membuat rajutan itu ialah kecerdikan kita dalam mengoprasikan dua tangan kanan dan kiri untuk saling bekerja sama meskipun kali pertama melaksanakannya terasa kaku.
Sekitar setengah dua, akhirnya kamipun pamit pulang mengingat beberapa jam lagi kami harus masuk kuliah dan Ummi menugaskan kami untuk membuat rajutan bunga sebanyak enam warna dan akan ummi lihat di hari kamis.
            Kamis, 24 Oktober 2013 adalah magang keempat kami di kutisari. Dan untuk agenda hari kamis ini, seperti biasa sebelum ummi melanjutkan materi baru, kami membantu ummi memasang  bros kedalam kertas yang disediakan dan kamipun masukan kedalam plastik hingga kami beri label pada bros-bros yang telah kami beri plastik.
            Namun hari kamis ini, berbeda dengan hari sebelumnya. Setelah ummi memeriksa hasil rajutan kami yang 6 warna, dan Alhamdulillah ummi memberikan komentar yang sangat positif akan hasil kami. Betapa tidak, rata-rata kami mengerjakannya hingga larut malam. Dan tidak terasa sia-sia ketika ummi memuji hasil karya perdana kami.
            Hari ini, ummi tidak memberikan materi baru, namun kami sibuk mengajarkan teman-teman baru yang baru bergabung dengan kami, dan akhirnya setelah kami ajari, ia pun mampu membuat bunga yang memang awalnya yang mereka sulitkan adalah mengontrol kedua tangan yang kedua tangan ini harus saling membantu sehingga tidak menyulitkan dalam pengerjaannya.
            Sianngpun telah tiba, sekitar setengah dua belas, kamipun pamit pulang memngingat setengah satu kami harus mengikuti perkuliahan. Dan pe’er kami untuk hari jum’at ialah melanjutkan membuat rajutan bunga lima kelopak dan besok kami akan diajari ngelem.           
            Jum’at, 25 oktober 2013. Adalah hari kelima aku mengikuti magang di Kutisari, setelah kemarin hari jum’at UMMI memberi tugas kami untuk membuat bunga dengan enam warna. Hari ini Ummi mengajarkan kami membuat bros yang tergabung dari enam warna yang telah Ummi tugaskan pada kami. Awalnya Ummi yang mengajari kami, namun setelah itu kami yang harus mengerjakannya sesuai intrusksi yang diberikan. Hasilnya setelah kami selesai mengelem memang tak sebagus yang dicontohkan Ummi, namun membuat bros saat itu merupakan kali pertama saya dan teman-teman membuatnya. Walaupun dengan hasil apa adanya namun setelah Ummi cek Ummi sungguh mengapresiasi karya kami menurutnya karya kami sudah bagus, cantik, dan pujian lain yang Ummi lontarkan. Kami senang sekali. Dan akhirnya kami semangat untuk membuat bunga kecil-kecil warna-warna dan mencoba untuk menggabungkannya menadi sebuah bros besar.
            Sperti biasa, kami berangkat sekitar jam 8 mengenakan angkutan kota. Kami berjalan menuju jalan kutisari gang VI. Sesampainya di sana, seperi biasa kami mengemas barang-barang yang akan dipasarkan ummi ke berbagai took dan super market sebelum ummi memberikan materi baru. Setelah selesai mengemas hingga membereskannya. Kamipun diberi materi ummi membuat sulam bross yang lebih besar dari kemarin, dan tentu dengan cara-cara yang baru dan agak sulit dari kemarin. Namun, ummi bilang bahwa asal kita tahu kunci awal buat pola bagaimanapun pasti akan mudah. Awalnya ummi mencontohkannya dan akhirnya kami mengikutinya. Setelah beberapa menit kamipun bisa membuatnya.
            Saya dan teman-teman senang sekali, meskipun ummi mencontohkannya hanya sekali. Kami langsung bisa membuatnya meskipun hanya satu dua orang, termasuk saya. namun setelah itu, kami yang mengajarkan kepada teman-teman yang belum bisa membuatnya. Ketika hari menjelang sore, kamipun pulang.
            Kami berangkat seperti biasanya, mengendarai angkutan kota dengan land hijau tosca tujuan kutisari gang iv. Setelah sampai, kami harus melintasi dua jalan raya dan harus besabar menunggu kendaraan lenggang mengingat di daerah sana sangatlah ramai dengan kendaraan. Ketika lampu merah, di saat itulah kesempatan kami untuk menyebrangi jalan bersama-sama. Sungguh sangat menakutkan, melihat mobil besar-besar melaju beberapa meter di hadapan kita. Namun dengan lambaian tangan kita, mobil itupun mengurangi volume kecepatannya hingga kamipun berhasil menyebrang.
            Sesampainya di rumah Ummi, tidak lupa kami membantu pekerjaan Ummi, entah itu membuang benang-benang ataupun meneglem, dan lain sebagainya. Sehingga beberapa menit selanjutnya selesai kami pun melanjutkan rajutan kami.
            Untuk tugas kali ini, Ummi memerintahkan kami untuk membuat Bros besar dengan beberapa tingkatan / tumpuk namun berbeda warna, dan ini bukan tantangan baru. Dan kami tidak merasa kesulitan karena punya modal dasar. Dan akhirnya,  hanya sekali ummi memberi contoh, kami pun segera bisa membuat bros besar dengan beberapa tumpukan beda warna. Sangat produktif sekali, Ummi biasa menjual bros yang kami buat saat itu sekitar 5.000 rupiah.
            Seperti biasa, setelah jam menunjukan pukul 2, kami segera membereskan benang-benang dengan rasa bahagia, dan kamipun pamit pulang.
            Untuk magang kedelapan, seperti biasa kami menaiki angkutan umum. Sesampainya di sana, kami segera membantu Ummi, setelah selesai kami ditugaskan ummi untuk membuat bunga kecil-kecil sebanyak mungkin dari enam warna, masing-masing satu lusin sehingga total 72 buah bunga kecil yang nantinya jika hasilnya bagus akan Ummi beli.
            Kamipun semangat membuatnya, dengan canda-tawa saya bersama teman-teman merajut bunga-bunga. Selain untuk mengejar target, melainkan juga melatih tangan agar lihai dalam memainkan benang dan hakpen terutama kelenturan tangan kita yang harus terbiasa merajut.
            Kutisari, 29 Oktober 2013. Sambil kita membuat bunga-bunga kecil, ummi memberi kami ilmu baru. Yaitu membuat BANDANA. Kami sangat senang sekali, saatnya kita berkreasi dengan tangan kita sendiri tanpa kita harus membelinya. Dalam membuatnya, kita tidak perlu banyak bahan dan motif. Yang kita butuhkan hanya Sembilan bunderan dan kita baluti dengan benang. Agar bandana terlihat lebih elegan, kami mebuatnya dari dua warna seperti warna hijau dan orange. Membuatnya juga tidak perlu membutuhkan waktu yang lama, satu hari juga sudah selesai.
            Kutisari, 12 Nopember 2013. Tidak seperti biasanya kami melangkah menuju kutisari, saat itu kami menaiki sepeda ontel bersama 5 teman lainnya. Selain untuk menghemat ongkos yang menghabiskan enam sampai tujuh ribu pulang pergi jika menaiki angkot, juga kita niatkan untuk olah raga dan mencoba menlanjutkan rutinitas kita ketika masa- masa putih biru dulu. Mengendarai sepeda, tidak terlalu menghabiskan waktu yang lama. Bahkan lebih cepat dari pada menaiki angkot. Sekitar 15 menit pun kami sudah sampai tujuan.
            Magang kali ini, tentu tidak pernah ketinggalan. Membantu ummi making bros yang akan Ummi pasarkan atau bahkan pesanan. Setelah itu, Ummi menyuruhku untuk untuk pergi ke tempat tumpukan benangnya untuk memilih benang yang duo warna sesuai yang kita sukai. Materi kita untuk hari itu adalah membuat syal. Sungguh senang sekali dan semangat kami memilih warna yang kita sukai. Akhirnya warna yang aku ambil warna merah dan kuning. Namun sebelum itu, ummi mengajarkan kami untuk membaca pola, agar kita tahu teknis yang bisa mempermudah kita membuat syal atau bahkan selainnya. Setelah kita faham, Ummi pun mulai memberi materinya. Diawali dengan membuat rantai sekitar 46 enam kemudian membuat pagar. Begitu seterusnya.
Dengan motif yang sangat sederhana memudahkan kami dalam proses pengerjaannya. Meskipun hanya saya yang awalnya tidak memahami pola awalnya. Dan Alhamdulillah akhirnya saya bisa mengikuti teman-teman yang sudah mulai banyak rajutannya. Lagi-lagi saya berpikir, saatnya kita menikmati proses berkarya sehingga kita bangga dengan karya kita sendiri.
            Kutisari, 13 Nopember 2013. Kami tak seperti biasanya membantu Ummi making. Karena tidak ada yang harus kami bantu. Dan kamipun langsung melanjutkan syal kami. Yang masih kurang banyak terutama saya yang beberapa hari berhalangan karena ada beberapa tugas yang tidak bisa ditinggalkan. Dari mulai jam 9 hingga jam 12 kami merajut, hingga ketika kami merasa lelah kamipun mengisinya dengan bercanda dengan teman-teman untuk menghilangkan kepenatan. Atau bahkan kita putar music agar kepenatan dan rasa bosan duduk hilang.
            Untuk beberapa hari kita magang Ummi tidak memberi kami materi baru mengingat syal kami belum selesai. Akhirnya kami isi hari-hari itu dengan membuat syal, syal dan syal. Namun, beberapa langkah proses pengerjaan, ummi memberi kami matari membuat taplak, bandana, sehingga syal harus kami selesaikan di luar jam magang. Agar materi yang kita dapat bertambah mengingat kami hanya magang sekitar 25 hari saja, sehingga kita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
            Kutisari, 3 Desember 2013. Setelah beberapa hari kami menyelesaikan syal, akhirnya Ummi memberi kami materi baru. Yaitu membuat cardigan. Namun sebelumnya Ummi memberi kami contoh untuk beberapa motif yang akan kita kerjakan dan kita sukai juga mudah kita fahami sebagai pemula. Akhirnya kami memilih model bunga kotak yang sederhana.
            Kami buat cardigan ini dari satu warna polos dan satu warna dual. Dan saya memilih warna putih polos dan dual warna biru dan putih. Awalnya memang agak ribet, namun ketika sudah kita jalani akhirnya mudah juga. Saya pun mulai menyicil beberapa bunga dahulu. Berbeda dengan teman-teman yang langsung menggabungkannya dgan beberapa bunga lainnya.
            Begitulah seterusnya, dari mulai 3 Desember, 15 desember, 17 desember, hingga hari terakhir pada tanggal 22 Desember kami akhiri magang di Ummi dengan masih belum selesainya cardigan kami. Mengingat untuk membuatnya membutuhkan waktu yang lama.
                                                                        Kutisari Gang IV, 22 Desember 2013

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More