Malang, 16
oktober 2013. Adalah hari yang melelahkan dan menyenangkan bagi saya. liburan
idul adha saya tidak berniat untuk pulang kampung ke Ciamis. Selain untuk
menghemat uang saku, juga untuk mengefesiensikan waktu, mengingat banyak
tugas-tugas yang harus saya kerjakan. Salah satunya tugas Kewirausahaan. Ibu
sri menugaskan kami untuk survey pasar. Mencari pedagang yang unik dan kita
sukai atau bahkan menjadi minat kita. Tidak lain tugas ini saya ambil
kesimpulan bahwa hal ini mengajarkan kami bagaimana praktek di lapangan ketika
berwirausaha, sehingga kita tidak mengetahui hanya materi-materi tetapi kita
harus mengetahui kondisi yang sebenarnya melelaui tugas survey pasar ini.
Akhirnya, saya
memutuskan untuk berlibur ke rumah temanku yang di malang, di rumah Indana
tepatnya. Kami menuju pasar besar Malang yang lumayan jauh dari rumahnya. Di
sana, kami keliling-keliling pasar dari satu toko ke took lainnya. namun nahas,
kami tidak menemukan toko unik satupun dan akhirnya kami tertuju pada satu toko
antik, akhirnya kami masuk dan ternyata, luar biasa. Sebuah maha karya tangan-
tangan berjiwa seni hadir di hadapanku menyegarkan mata ini. Betapa tidak?
Kerajinan antik berbau budaya Indonesia dari sabang sampai merauke hadir bin
kumplit di toko ini, mulai dari alat music, wayang, pakaian adat, batik, hingga
miniature jaman dahulu yang dipole dengan warna gold dan kecoklat-coklatan yang
mengkilat sehingga membuat saya dan indana ingin memilikinya. Namun sayang,
ketika kami melihat bandrolnya ternyata tidak cukup dengan uang saku kami, jika
saja kami membelinya, mungkin kita pulang kerumah bisa jadi jalan kaki.
Saya dan
indana berniat untuk mewawancarainya. Dan kebetulan saat itu ada penjaga
tokonya. Namun lagi-lagi keberuntungan kita tidak pada toko ini, dikarenakan
pemilik toko tidak ada di tempat, dan pelayannya enggan untuk kami wawancarai.
Akhirnya dengan berat kaki melangkah, kami lanjutkan jalan-jalan kita dengan
memasuki pasar Besar Malang dari tempat yang paling bawah. Mata kami mulai
berbinar setelah kaki kami mulai kelelahan. Kami melihat para penjual yang
sangat kreatif. Kebetulan komplek itu merupakan toko-toko para pengrajin salah
satunya pengrajin kerinjang buat pernikahan.
Para pedagang,
selain memamerkan barangnya juga memamerkan kekreatifitasannya di tempat itu
juga, mereka memproduksinya di tempat di mana ia berjualan. Sehingga mereka
tidak merasa bosan ketika meraka menunggu tokonya sembari menunggu pembeli
datang. Rata-tara yang berjualan kerajinan itu seorang ibu-ibu cantik dengan
keuletannya. Seperti yang kami wawancarai Ibu Mujiana. Ia pun berjualan
kerajinan untuk pernikahan. Mulai dari tempat untuk mahar, pigura untuk mahar
hingga kerinjang-kerinjang yang akan diperlukan oleh pengantin-pengantin.
Namun, selain ia berjualan kerajinan, ia juga berjualan barang-barang antic
jaman dahulu sehingga di tokonya pun padat dengan warna ke emas-emasan. Perlu
diketahui bahwa Bu mujiana ini berjualan dari tahun 1997 dari mulai orang
tuanya. Sehingga ia meneruskan dari peninggalan orang tuanya.
“barang-barang
antic ini yang beli sudah sampai mancanegara loh dek, bahkan peminatnya
orang-orang asing yang biasa belanja ke toko ibu ya barang-barang ini, ya
diantaranya dari Jepang, bahkan dari Amerika”. Begitulah penuturan Bu Mujiana
saat kami wawancarai. Saya dan indana tidak pernah ketinggalan untuk
menyempatkan sesi Foto-foto dari mulai produk hingga dengan Bu Mujiana.
Akhirnya satu tugas kami selesai. Tinggal satu tugas lagi, akhirnya kami menuju
MATOS. Dan akhirnya kamipun menemukan toko unik kedua sehingga selesailah
perjalanan kami.
Matahari sudah
tidak lagi menampakan batang hidungnya, pertanda hari menjelang malam. Kami
masih di angkutan kota. Dan kami pun sampai di rimah Indana sekitar pukul 20.00.
Perjalanan yang panjang dan melelahkan plus menyenangkan.
Terima kasih
Malang…




0 komentar:
Posting Komentar