Senin, 30 Desember 2013

MALANG; BERBURU TOKO DAN PRODUK UNIK




Malang, 16 oktober 2013. Adalah hari yang melelahkan dan menyenangkan bagi saya. liburan idul adha saya tidak berniat untuk pulang kampung ke Ciamis. Selain untuk menghemat uang saku, juga untuk mengefesiensikan waktu, mengingat banyak tugas-tugas yang harus saya kerjakan. Salah satunya tugas Kewirausahaan. Ibu sri menugaskan kami untuk survey pasar. Mencari pedagang yang unik dan kita sukai atau bahkan menjadi minat kita. Tidak lain tugas ini saya ambil kesimpulan bahwa hal ini mengajarkan kami bagaimana praktek di lapangan ketika berwirausaha, sehingga kita tidak mengetahui hanya materi-materi tetapi kita harus mengetahui kondisi yang sebenarnya melelaui tugas survey pasar ini.
Akhirnya, saya memutuskan untuk berlibur ke rumah temanku yang di malang, di rumah Indana tepatnya. Kami menuju pasar besar Malang yang lumayan jauh dari rumahnya. Di sana, kami keliling-keliling pasar dari satu toko ke took lainnya. namun nahas, kami tidak menemukan toko unik satupun dan akhirnya kami tertuju pada satu toko antik, akhirnya kami masuk dan ternyata, luar biasa. Sebuah maha karya tangan- tangan berjiwa seni hadir di hadapanku menyegarkan mata ini. Betapa tidak? Kerajinan antik berbau budaya Indonesia dari sabang sampai merauke hadir bin kumplit di toko ini, mulai dari alat music, wayang, pakaian adat, batik, hingga miniature jaman dahulu yang dipole dengan warna gold dan kecoklat-coklatan yang mengkilat sehingga membuat saya dan indana ingin memilikinya. Namun sayang, ketika kami melihat bandrolnya ternyata tidak cukup dengan uang saku kami, jika saja kami membelinya, mungkin kita pulang kerumah bisa jadi jalan kaki.
Saya dan indana berniat untuk mewawancarainya. Dan kebetulan saat itu ada penjaga tokonya. Namun lagi-lagi keberuntungan kita tidak pada toko ini, dikarenakan pemilik toko tidak ada di tempat, dan pelayannya enggan untuk kami wawancarai. Akhirnya dengan berat kaki melangkah, kami lanjutkan jalan-jalan kita dengan memasuki pasar Besar Malang dari tempat yang paling bawah. Mata kami mulai berbinar setelah kaki kami mulai kelelahan. Kami melihat para penjual yang sangat kreatif. Kebetulan komplek itu merupakan toko-toko para pengrajin salah satunya pengrajin kerinjang buat pernikahan.
Para pedagang, selain memamerkan barangnya juga memamerkan kekreatifitasannya di tempat itu juga, mereka memproduksinya di tempat di mana ia berjualan. Sehingga mereka tidak merasa bosan ketika meraka menunggu tokonya sembari menunggu pembeli datang. Rata-tara yang berjualan kerajinan itu seorang ibu-ibu cantik dengan keuletannya. Seperti yang kami wawancarai Ibu Mujiana. Ia pun berjualan kerajinan untuk pernikahan. Mulai dari tempat untuk mahar, pigura untuk mahar hingga kerinjang-kerinjang yang akan diperlukan oleh pengantin-pengantin. Namun, selain ia berjualan kerajinan, ia juga berjualan barang-barang antic jaman dahulu sehingga di tokonya pun padat dengan warna ke emas-emasan. Perlu diketahui bahwa Bu mujiana ini berjualan dari tahun 1997 dari mulai orang tuanya. Sehingga ia meneruskan dari peninggalan orang tuanya.
“barang-barang antic ini yang beli sudah sampai mancanegara loh dek, bahkan peminatnya orang-orang asing yang biasa belanja ke toko ibu ya barang-barang ini, ya diantaranya dari Jepang, bahkan dari Amerika”. Begitulah penuturan Bu Mujiana saat kami wawancarai. Saya dan indana tidak pernah ketinggalan untuk menyempatkan sesi Foto-foto dari mulai produk hingga dengan Bu Mujiana. Akhirnya satu tugas kami selesai. Tinggal satu tugas lagi, akhirnya kami menuju MATOS. Dan akhirnya kamipun menemukan toko unik kedua sehingga selesailah perjalanan kami.
Matahari sudah tidak lagi menampakan batang hidungnya, pertanda hari menjelang malam. Kami masih di angkutan kota. Dan kami pun sampai di rimah Indana sekitar pukul 20.00. Perjalanan yang panjang dan melelahkan plus menyenangkan.
Terima kasih Malang…

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More