Pangeran Kecil
Angin sepoi menyapu wajah ku yang tengah melongok jendela di pagi hari yang sejuk nan indah, burung-burung berkicauan saling membalas di atas dedaunan yang rimbun nan hijau, seakan sedang bersiulan menggodaku tanpa henti. Ayam- ayam jantan yang tengah berlomba-lomba memamerkan suara merdunya. Embun pagi yang masih tercium segar baunya dan gemiricik air sungai… bak lagu yang romantispun membuatku tak ingin melewati momen-momen ini. Ya.. itu lah suasana rumah ku yang indah, di kaki gunung yang masih asri dan terawat. Suasana yang selalu ku rindukan dikala aku tak berada di rumah. Sungguh surga dunia yang tak bisa di pungkiri kenyamanannya.
Aku pun terhayut dalam lamunan, dan tiba-tiba teringat dengan satu nama “Harrys”.. ya,, harrys adalah teman kecilku saat aku berada di bangku TK. Aku sering diajak beramin kerumahnya begitu pun dia, sering main kerumah ku, maklum, karena orang tua kami teman akrab dengan orang tuanya harrys. Dan tempat favorit kami adalah tepat di depan jendela ku. Ya,, kenangan masa silam. “Aku merindukan masa-masa itu, namun kini aku tak tau di mana kamu berada kawan” Gumamku dalam hati
“ Azka sayang, ayo cepat makan nanti telat sekolahnya lho.. ini, udah ibu siapkan makanan kesukaan mu nak!” Ibu memanggilku sekaligus membuyarkan lamunanku , dengan penuh kasih sayang. Kini, azka duduk di kelas 2 MAN Cianjur.
“Iya bun, bentar lagi..” Teriakku sambil turun ke bawah menemui ibu.
“Hati-hati makannya, nanti keselek lagi…!” Tegur ibu setiap aku makan. Maklum, ketika aku TK, aku pernah keselek sampai hampir pingsan, untungnya ada harrys kerumah mau mengajak aku brangkat sekolah bareng.namun, ketika melihat keadaanku tanpa piker panjang ia langsung memukul pundak ku, seketika itu, aku selamat meski bekas pukulan harrys masih terasa hingga beberapa hari. Ya..lagi-lagi aku teringat anak itu… aku jadi merindukannya. Kembali gumamku mengingatnya.
Setelah selesai makan aku pun persiapan untuk beragkat sekolah.
“assalamu’alaikum… azka pamit bu” salam hangat ku, dan mencim tangan ibu adalah rutinitas yang wajib ketika hendak berangkat sekolah.
“wa’alikum salam… hati-hati nak… “ sahut ibu dengan nada yang khas kelembutannya.
“iya. Bu, do’a kan azka juga ya, hari ini azka mau ulangan bahasa inggris.”
“iya, pasti ibu do’akan.” Kembali ibu melontarkan senyuman ramahnya.
Tak lama aku menunggu angkutan desa, cap cus seketika itupun datang. Dengan semangat akupun menaikinya dan angdes pun siap meluncur. Namun, tak lama ketika itu… tiba-tiba dari belakang angdes, ada yang berteriak-teriak memberhentikan, akupun menolehnya, dan meminta pa supir untuk memeberhentikannya.
“mang, berhenti mang, masih ada yang ketinggalan tuh dibelakang..” ujar ku
“o iya neng.. hatur nuhun….” Jawab sang supir sambil memberhentikan mobilnya.
Seketika itu, seorang pria yang manis dengan badan yang tegap dan rambut yang hitam pun berhasil menaiki angdes itu, azka pun sempat penasaran, serasa pernah mengenalinya.
“Huhh… akhirnya,, terima kasih banyak pa,..” ucapnya laki-laki itu.
“Uye… nak. Aden anak baru ya di kampung ini.. ? baru lihat amang..” kata pak sopir.
“Iya… baru kesini lagi lebih tepatnya pak, ehh mang,,, hee,, lupa,, “ sahutnya.
“emang dulu pernah tinggal di sisni jang,,? Tanya pak sopir yang tak hilang dengan logat sundanya.
“Iya aku dulu tinggal sama nenek ku, tapi ketika aku mulai menginjak sekolah dasar, orang tuaku membawaku ke kota, ke Jakarta tepatnya, dan sekarang entah kenapa, orang tuaku memindahkan sekolahku ke sini lagi pak.. eh mang..”
“waduh,, udah lama di Jakarta udah lupa atuh bahasa sunda ya? “ Tanya si amang
“iya pak.. tapi sedikit-dikit masih ingat lah.. “ hee
Azka yang sedang bersebrangan duduk bersama laki-laki itu, hanya bisa menunduk, diam, dan penasaran, sesekali ia melirik wajah laki-laki itu, berharap ia adalah harrys, teman kecil yang saat ini ia rindukan. Namun kembali hati nya menyatakan tidak. Mana mungkin harrys adalah orang yang berada satu mobil bersamanya saat ini. Mustahil. Namun tetap, azka ingin sekali menanyakan namanya, tapi mana mungkin juga, gengsi baginya, dan akhirnya ia mengurungkna niatnya hingga tak terasa angdes itu sudah berada tepat di depan gerbang sekolah.
“Terima kasih pa..” tiba-tiba dengan ketidak sengajaan azka dan laki-laki itu memberi kasih bersama-sama. Akhirnya mereka pun bertemu pandang, hati azka tiba-tiba berdegup tidak biasanya. Seketika itu pula, azka cepat-cepat memalingkan wajah dari pertemuan dua pandang itu. “ya rabb… maafkan aku” gumam azka dalam hati. Cepat-cepat azka memasuki kelas, mengingat lima menit lagi jam pelajaran akan dimulai. Pa guru pun mulai memasuki kelas, namun hati azka tiba-tiba tersontak melihatnya, pa guru masuk kelas bersama laki-laki tadi. Ya, laki-laki yang tadi satu angdes bersamanya.
“Ok anak-anak, kita mempunyai satu teman baru, namanya harrys, ia siwa pindahan dari MAN 1 jakarta”. Ucap pa guru. Azka pun tersontak hebat yang kesekian kalinya, ia masih tak percaya kalau laki-laki yang dihadapannya adalah Harrys. Namun, tak dipungkiri lagi, azka pun sungguh bahagia luar biasa atas kedatangannya. Namun, kebahagianna itu tiba tiba meredup. “ apakah harrys masih mengingatku,, huft… ? gumam azka dalam hati.
“Ok harrys, silahkan duduk, cari bangku yang masih kosong”. Seru pak guru. Harrys pun memilih duduk di belakang azka, kebetulan, bangku itu satu-satunya yang tak ditempati. Azka pun makin deg-degan menjadi-jadi. Harrys duduk dibelakang.
“woy.. neng,, ?? kaget ya?? … maaf aku ngga ngasih tau kamu neng… “ucap harrys yang ternyata mengenal azka semenjak di angkutan desa.
“Sudah biasa… kamu selalu mengagetkanku…” jawab azka. Namun harrys, hanya membalas dengan senyuman indahnya, seakan ia sedang tebar pesona pada azka.
Jam istirahat pun telah di ambang pintu, tanpa pikir panjang harrys pun mengajak azka pergi ke kantin.
“Ayo.. neng, kamu wajib menemaniku ke kantin, jangan kau tolak okey.. ” Paksa harrys pada azka, dan azka pun tak mampu berkata sepatah pun ia, langsung mengiya kannya. Ketika samapai di kantin, harrys pun tak berhentinya menceritakan keadaannya dan pengalamnnya selama di Jakarta, dan azka sebagai pendengar setianya, ia hanya berkomentar “o.. ya.. o.. ya..” karena ia merasa lidahnya masih kelu untuk berbicara banyak dengannya. Tanpa terasa, jam istirahat pun berakhir. Azka dan harrys kembali ke kelas.
“Azka, makasih ya, telah menemaniku makan siang…. Plus menjadi pendengar setiaku”. Ucap haryys dengan gaya khasnya. Dengan keadaan menunduk azka pun menjawab.
“iya, sama-sama.. terima kasih juga dengan traktirannya..”
*******
Jam sekolahpun telah selesai. Azka pun pulang, dan lagi-lagi harrys mengejutkan azka.
“Neng,, ko ngga nunggu.. ?” Harrys menggodanya. Azka yang sekian lama memendam rindu padanya sangatlah terheran-heran dengan sikap harrys yang gak selengehan.
“terus… aku harus kaya babby sitter gitu, harus nungguin anak asuhnya…?” jawab azka sambil tersenyum renyah.
“idih… si eneng,, meni manis euy senyumnya,,, ?” harrys lagi-lagi menggodanya.
Kini azka dan harrys kembali bersama, satu kampung, satu sekolah, dan satu rasa. Teman yang dulu sebagai pangeran penyelamatnya, kini ia kembali dihadapannya dengan kegagahan dan ketampanan meski harrys sering nyeleneh. Begitupun, ia kini bertemu sang gadis yang ia sayangi, gadis yang selalu ia rindukan ketika ia di Jakarta, baginya ia jauh di mata, namun tetap dekat di hati.
Namun, cinta kasih mereka sungguhlah sederhana, azka tak pernah mengungkapkan rasa sukanya pada harrys, begitupun harrys, ia tidak pernah menyatakan cinta pada azka. Karna mereka yakin, jodoh, tidak akan pergi kemana, meski azka di barat dan harrys di timur, pasti akan dipersatukan kembali.
Nama saya leti latifah, biasa dipanggil Leti. Asal kota saya dari ciamis, jawa barat. Namun saat ini saya melanjutkan studi ku di IAIN sunan ampel Surabaya ambil fakultas syariah jurusan Muamalah semester 2. Saya menulis cerpen ini, melanjutkan hobby ku dalam kepenulisan semenjak duduk di madrasah tsanawiyah dan ketika di aliyah, saya aktif di bulletin al-amin post. Alamat FB saya leti_zie@yahoo.com dan nama FB nya Leti Latifah. Di kampus saat ini, saya aktif di LPM Solidaritas, KAMMI, IPPNU, nyantri di pesantren mahasiswa IAIN sunan ampel Surabaya, dan saya termasuk keluarga dari CSSMORA IAIN sunan ampel Surabaya.



0 komentar:
Posting Komentar