Rencana Tuhan Untukku
Di
pagi itu mentari bersinar dengan segala keindahannya. Kurasakan kesejukan embun
yang menetes di halaman asrama. Saat itu aku mencoba untuk menyambut mentari
dengan senyuman terindah yang aku miliki. Meski di pagi itu aku tidak lagi
bersama ayah, ibu dan adik.
17
Juli 2006…….. masih sangat teringat dalam memoriku. Pada tanggal itu aku
memulai lembaran kehidupan baru di pesantren. Kehidupan yang belum pernah aku
temui sebelumnya. Ya…disinilah aku akan memulai kisahku.
Hari
sabtu, keluarga besarku mengantarku ke pondok. Masih kuingat lambaian ibu saat
itu. Kata-kata beliau yang selalu ku ingat “jaga diri baik-baik nak..!”.
Lalu aku berada di dekapannya, begitu terasa kasih sayangnya. Tak lama kemudian ku lambaikan tanganku pada
mereka. Sesekali ingin ku teteskan air mata, namun aku berusaha untuk
menahannya karna aku tak ingin melihat ibu bersedih. Suasana haru tersebut tak
berlangsung lama, hanya beberapa saat setelah keluargku pamit untuk pulang. “Assalamu’alaikum
ya ukhty…..masmuki?”.Salah seorang santriwati menyapaku. “Wa’alaikumsalam…….”.
Hanya salamnya yang ku jawab karna aku tak mengerti kata-katanya, setelah itu
aku diam dan tertawa kecil. Dia pun membalas dengan senyuman anggun seraya
berkata “namanya siapa dek?”. “Farida mbak..” Jawabku sambil
tersenyum malu. “Ndak usah takut dek, disini nanti akan ada bimbingan bahasa jadi ndak perlu takut. Dulu saya
juga seperti sampeyan kok, kalau perlu apa-apa bilang saja ndak usah
sungkan-sungkan”. Jelasnya
panjang lebar. Ku pandangi papan nama yang terpasang rapi di kerudungnya.
Disana tertulis nama Nanik Puji Lestari dibawahnya
tertulis Secretary dan di samping tulisan itu terdapat logo bentuk
segilima yang bertuliskan OPMADA. Seketika itu aku menjawab “iya mbak Nanik,
terima kasih banyak”. Aku merasa telah menjadi bagian dari keluarga pondok.
Pondok
Modern Darul-Ihsan……
Inilah pondok yang begitu aku banggakan. Tempat dimana aku bisa
belajar segala hal, dari sini pula aku mulai belajar untuk memaknai kehidupan.
Masih terekam dalam memoriku, saat aku pertama masuk kelas aku merasa sangat minder
dengan teman-teman. Waktu itu kami belajar bahasa Inggris dan yang mengajar
adalah ustadz Anwar. Beliau adalah salah satu ustadz pengabdian tahun itu.
Beliau mengajar dengan penuh wibawa. Dengan kefasihannya berbahasa Inggris
beliau memulai pelajaran.
“Ok, now listen to me and look at your book….what the meaning of
box? ” beliau mulai mengajar dengan suara
yang lantang.
Teman-teman menjawab dengan serentak “kotak”…
“Yes, it’s right..now what the meaning of church?”
“Gereja”…..
Teman-teman menjawab dengan serentak a beberapa pertanyaan
berikutnnya, sedangkan aku hanya terdiam. Karena aku tak pernah belajar bahasa
Inggris di Sekolah Dasar, bahkan aku juga tak pernah mengenalnya. Aku hanya
memandangi buku yang tidak terlalu tebal itu, buku warna orange yang di
sampulnya tertulis “English Lesson for Class One”. Lembaran demi lembaran mulai
ku buka perlahan namun lagi lagi aku tak mengerti apa yang ada di dalamnya. Aku
tak ingin terpuruk dalam ketidaktahuan seperti ini, karena itu aku mulai
mencoba bertanya-tanya kepada teman yang duduk di sebelahku. Dia menjawab semua pertanyaanku dengan penuh
kesenangan karena dia merasa telah bisa membantuku.
“Kapan-kapan ajari aku lagi ya..”
pintaku padanya
Dengan penuh keramahan dia menjawab “iya..insya Allah selama aku
bisa aku akan selalu membantumu”.
“Mbak Ela kan..?”
lagakku seperti menebak karena sebelumnya aku telah mendengar ada yang
memanggilnya.
“iya…sampeyan siapa?”
“farida…”
* * *
Telah menjadi rutinitas tahunan, setiap tahun ajaran baru pondok
selalu mengadakan acara Khuthbatul Iftitah atau biasa juga disebut dengan
istilah pekan perkenalan. Acara dilakukan pada pagi dan malam hari. Waktu itu
aku duduk di bagian terdepan, tepat di belakang tempat asatidzah. Jika di rumah
aku terbiasa tidur jam 21.00 maka aku harus merubah kebiasaan tersebut. Ukuran
jam seperti itu bukanlah ukuran tidur untuk seorang santri. Namun merubah
kebiasaan bukanlah hal yang mudah. Aku sering ngantuk saat acara, bahkan
tertidur pun tidak jarang. Kini “Ngantuk” dan Tidur” telah menjadi teman
setiaku dalam setiap acara, begitu pula ketika di kelas Kurang lebih selama 1
bulan aku menjalani kegiatan awal tahun ajaran baru, mulai dari khuthbatul
Iftitah, Parade Konsulat, dan Class Meeting Sport. Senang dan senang, hanya itu
yang aku rasakan saat itu.
Setelah rentetan kegiatan awal tahun selesai, KBM pondok berjalan
aktif. Yang aku tahu kegiatan di pondok hanya belajar dan belajar. Aku bukanlah
santri yang rajin, aku lebih banyak tidur, entah di kelas, ketika takror atau
pun ketika acara-acara lain.
Tiga bulan sudah aku di pondok, aturan pun semakin bertambah. Semua
santri diwajibkan untuk berbahasa Arab dan Inggris dalam percakapan keseharian.
Jika salah satu santri yang menggunakan bahasa daerah ataupun bahasa Indonesia
maka dia akan dikenai sanksi. Sekali lagi aku bukanlah santri teladan. Tak
jarang aku memasuki Mahkamah Bahasa dan Mahkamah Amni. Seperti itulah ku jalani
kehidupan di pondok saat aku masih tergolong sebagai santri baru. Bahkan kadang
aku juga pernah tidak masuk kelas karna alasan yang tidak jelas. Kadang
pura-pura sakit, kadang izin ke belakang tapi tidak kembali lagi, begitu banyak
kenakalan yang sering aku lakukan. Aku hanya tertawa geli saat teringat
masa-masa nakalku dulu.
* * *
“Bangun Farida…..bangun..”.
Suara itu tak asing lagi di telingaku. Aku berusaha untuk membuka kedua mataku.
“Ayo Farida belajar dulu, besok ujian..” suara itu kembali lagi
terdengar di telingaku. Aku berusaha untuk duduk, begitu terkejut saat aku
melihat bahwa yang membangunkanku adalah ustadzah Umi, wali asuh kelasku.
Seketika itu aku berdiri seraya berkata malu-malu “Iya ustadzah..saya
ketiduran”. Setelah itu aku beranjak pergi dan mengambil air wudhu. Tempat
belajarku sangat unik. Masih sangat ku ingat tempat favoritku belajar, di bawah
pohon turi di depan asrama. Setiap belajar aku selalu membawa selimut dan
bantal. Teman-teman sering tertawa saat melihat tingkahku namun aku tak pernah
memperdulikan mereka, karena aku hanya punya satu prinsip “it’s my way”.
Setelah ku anggap cukup dalam belajar, ku rebahkan badanku diatas sebuah tikar
lalu ku pakai bantal dan selimutku. Absen…hanya absen yang ku tunggu. Rutinitas
ketika ujian adalah diadakannya absen sebelum tidur, jika tidak mengikuti absen
maka dia akan dikenai sanksi. Inilah metode belajarku setiap malam, aku masih
tergolong sebagai pemalas, aku belum terlalu mengenal kesungguhan. Jika ku rasa
semuanya telah cukup maka aku tak ingin melakukan yang lebih.
Ujian berlalu begitu cepat, saatnya melihat pengumuman. Hatiku
berdebar saat akan ku lihat pengumuman tentang hasil ujianku. Jika salah satu
nilaiku ada yang di bawah enam maka aku harus mengulang ujian untuk yang kedua
kalinya (her). Sebelum aku melihat papan pengumuman yang sudah ada di depanku
dalam hati aku berdoa “bismillah..semoga nilaiku tidak ada yang merah”,
dan ternyata saat aku mencoba melihat namaku di urutan terakhir aku sangat
bersyukur karena tidak ada nilai merah di kolom nilaiku. Syukur Alhamdulillah
pada-Mu ya Robb, kata-kata itu yang sering terucap dari bibirku. Seminggu
setelah itu raport dibagikan, dan ini yang lebih mendebarkan bagiku. Ust. Imam
Rosyidi, beliau adalah wali kelasku saat itu. Sebelum raport dibagikan beliau
menyuruh agar kami berkumpul di kelas. Ketika beliau telah sampai di kelas
beliau langsung mengucapkan salam,
“Assalamu’alaikum
Wr.Wb..baiklah saya tidak akan lama-lama disini, sedikit yang akan saya
sampaikan kepada kalian. Untuk yang belum menyelesaikan hernya dia belum bisa
menerima raport, dan untuk yang lain raport bisa dibawa pulang”.
Tergambar ekspresi wajah berbeda-beda di antara kami, karena
sebagian dari kami memang ada yang belum menyelesaikan hernya. Lalu ustadz Imam
melanjutkan perkataannya.
“Sebelum saya bagikan raport ini akan saya bacakan 3 juara kelas
untuk semester ini”.
Hatiku semakin berdebar tak karuan, entah kenapa aku pun tak tahu.
Meski aku tak pernah mengharap untuk mendapat juara.
“Juara ke-3 diraih oleh
Binti Nur Laila Rohmah”
Applaus dari teman-teman terdengar amat keras. Aku pun ikut
bertepuk tangan dan ku ucapkan selamat kepada temanku yang mendapat juara, dia
adalah temanku belajar. Aku turut senang atas keberhasilannya.
“Untuk juara 2 diraih oleh 2 orang, mereka adalah Binti Aminatul F.
dan Binti Chaerun Nisa, dan untuk juara pertama diraih oleh Umul Farida”
Aku sangat terkejut dengan pengumuman ini, karena ini semua bisa
dikatakan di luar dugaan, berkali-kali ku ucap syukur pada-Nya. Teman-teman
juga memberikan selamat kepadaku. Aku sangat senang dengan semua ini. Dalam
hatiku bebisik “Alhamdulillah…aku bisa membawa oleh-oleh untuk ayah dan ibu
di rumah. Inilah yang menjadi motivasi awalku untuk selalu berusaha
mendapatkan yang terbaik. Dari sini pula aku memlai langkah kesungguhanku.
* * *
Kini aku duduk di kelas 2 MTs. Aku masih tetap seperti dulu,
kenakalanku masih tetap melekat dalam diriku. Bahkan aku telah berlangganan
dengan Mahkamah Lughah dan Amni. Namun di kelas ini pula aku mulai aktif
mengikuti kegiatan di dalam maupun di luar pondok, mulai dari PMR, Pramuka,
Drum Band dll. Berbagai rintangan selalu ku temui dalam perjalannaku, aku
selalu berusaha tegar dan sabar dalam menghadapi semua masalah.
Singkat cerita hari-hariku
berlalu begitu cepat, tak terasa aku telah berada di kelas 3 MTs. Di kelas ini kenakalanku
agak berkurang karena masa-masa kelas 3 adalah masa-masa ujian, seakan-akan
semua ini telah menjadi adat di pondok. Aku selalu termotivasi dengan hasil
yang aku dapatkan di kelas 1 dan 2, karena itu aku selalu berusaha untuk bisa
mempertahankan hasil yang sering akau dapatkan. Ku mulai belajar dengan
kesungguhan, ku tinggalkan kemalasanku. Dan akhirnya aku pun bisa bertahan di
urutan pertama. Semua itu tak lepas dari sebuah kesungguhan, tak hanya itu,
kesungguhan juga harus diseimbangkan dengan doa.
Aku mulai belajar membangun
sebuah mimpi. Karna bagiku mimpi merupakan hal penting dalam kehidupan ini.
Namun aku bingung, apa yang harus aku impikan???...Pertanyaan ini selalu
terngiang dalam anganku. Saat aku mulai memasuki masai Aliyah aku mencoba untuk
membangun kembali mimpiku, kini aku bisa bermimpi. Aku bermimpi aku bisa
belajar di Universitas Al-Azhar, Cairo. Ya…itulah mimpiku.
Aku semakin disibukkan dengan berbagai kegiatan di pondok, hingga
aku tak begitu memikirkan mimpiku. Di
kelas 2 Aliyah aku mulai belajar berorganisasi. Organisasi yang dulu hanya ku ketahui namanya kini aku berada di
dalamnya. Aku menjadi bagian bahasa (Qismu al-Lughah). Jika dulu aku sering
masuk Mahkamah Lughah sekarang aku menjadi pemberi sanksi dalam Mahkamah
Lughah.Aku tak mempermasalahkan semua itu, justru akau begitu bersyukur bisa menjadi bagian Bahasa, dari sini aku
bisa lebih banyak belajar mengenai bahasa. Aku yang awalnaya tak pernah
mengerti bahasa Arab maupun Inggris kini
di tuntut untuk bisa keduanaya. Dalam struktur kepengurusan pondok putri aku
terpilih sebagai ketua, inilah hal yang ku rasa begitu berat untuk orang
sepertiku. Aku yang sering berlangganan dalam Mahkamah Lughah dan Amni kini
harus menjadi seorang ketua, sosok yang menjadi panutan para anggotanya.
Terbesit pertanyaan di hatiku “Mampukah aku menjalankan semua ini??”. Dengan
dukungan orang-orang di sekitarku aku berfikir optimis. Aku juga ingat akan
firman-Nya “laa yukallifullaaha nafsan illa wus’ahaa”.Kata-kata inilah
yang ku jadikan pedoman dalam menjalankan amanat yang telah diberikan kepadaku.
Tanpa ku sadari aku telah belajar banyak hal dari organisasi.
Kedudukanku sebagai Qismu Lughah secara tidak langsung telah menjadi pendukung
menuju mimpiku. Aku mulai belajar dan berfikir dewasa saat aku menjadi ketua.
Subhanallah!! inilah rencana Tuhan yang tak pernah diketahui oleh siapapun.
Dua kejadian yang begitu aku
sayangkan saat aku duduk di bangku Aliyah adalah yang pertama saat aku
mengikuti lomba Peserta Terbaik PMR se-Jatim, ketika itu aku sedang mengikuti
seleksi ketiga yang diadakan di Nganjuk, ada dua tes yang harus kulewati, tes
yang pertama ku lewati dengan hasil yang cukup memuaskan namun saat aku akan
mengikuti tes yang kedua aku mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang ke
pondok hingga akhirnya aku gagal untuk dikirim ke Malang. Yang kedua saat aku
telah berhasil meraih juara 2 dalam lomba cerdas cermat bahasa Arab. Juara 1,2
dan 3 akan dikirim ke Surabaya untuk mengikuti lomba yang kedua kalinya, namun
karena posisiku saat itu berada di kelas 3 Aliyah maka aku tidak diperbolehkan mengikuti
lomba dengan alasan UN telah dekat, padahal dari sekolah lain banyak yang
mengirim anggota kelas 3 sebagai perwakilan. Sungguh…hal ini benar-benar aku
sayangkan. Namun aku tak pernah tahu rencana Tuhan dibalik semua itu.
Ketika pertengahan ujian syamilah yang diadakan oleh pondok pada
bulan Mei ada pengumuman mendadak dari ustadzah Risa bagian TU kepada 10 anak
yang telah dipilih dari kelasku, diantaranya adalah aku. Aku dan teman-teman
diminta untuk mengikuti seleksi program PBSB. Aku pun bersedia untuk mengikuti
tes tersebut.
Hari yang ditunggu pun telah tiba, seleksi PBSB diadakan pada
tanggal 14 Mei 2012. Saat aku memasuki
ruang seleksi aku merasa berada diantara ratusan orang-orang hebat, meski aku
tak begitu hebat namun aku memiliki keyakinan bahwa aku pasti bisa. Ku kerjakan
soal demi soal dengan penuh ketelitian, berkali-kali ku ucap basmalah. Akhirnya
aku menyelesaikan semua soal yang diberikan meski kebenarannya masih banyak
yang diragukan namun sekali lagi aku yakin dan yakin kalau aku pasti bisa.
Kini aku hanya menanti, menanti sampai saat pengumuman itu tiba.
Bulan Juli yang kutunggu telah datang. Ku cari-cari namaku dari pengumuman
dalam internet tapi aku tak menemukannya, bahkan aku juga tak menemukan satu
pun nama teman-temanku. Ku lirik ke atas ternyata yang kulihat adalah
pengumuman tahun 2011. Aku pun tertawa sendiri layaknya orang gila. Hatiku
berdebar kencang namun yang ku dapati hanyalah pengumuman tahun 2011. Esoknya
aku dikejutkan bahwa aku diterima menjadi PBSB, awalnya aku tidak terlalu
percaya namun ternyata berita itu nyata, seketika itu juga aku tersungkur di
hadapan-Nya. Aku terhanyut dalam sujud syukurku, tak kuat aku menahan tetesan
air mata ini. Subhanallah !!! inilah jawaban dari Tuhan. Inilah rencana itu,
rencana Tuhan untukku………………
Kini aku adalah
seorang Mahasiswa yang sekaligus berindentitas sebagai Mahasantri. Namun aku
tak ingin semua itu hanyalah sekedar identitas, terlebih untuk Mahasantri.
Mahasantri merupakan status diatas santri, untuk itu secara tidak langsung
mahasantri dituntut untuk “lebih” dari seorang santri. Semua yang ku dapatkan
tak lepas dari kesungguhanku sendiri dan dukungan orang-orang terdekat dalam hidupku.
Terima kasih pondokku…aku akan kembali untuk mengabdikan diri padamu atas rasa
terima kasihku. Terima kasih ibu…yang selalu mendukung dan mendoakanku dalam
siang dan malammu. Terima kasih ayah…yang juga selalu berdoa untukku. Semoga
Allah membalas semua kebaikan kalian. Amiin……
Created
by
Umul
Farida CSS ’12 IAIN Supel



0 komentar:
Posting Komentar