Jumat, 15 Maret 2013

Coretan Ajaib, My beloved Friend



Rencana Tuhan Untukku
Di pagi itu mentari bersinar dengan segala keindahannya. Kurasakan kesejukan embun yang menetes di halaman asrama. Saat itu aku mencoba untuk menyambut mentari dengan senyuman terindah yang aku miliki. Meski di pagi itu aku tidak lagi bersama ayah, ibu dan adik.
17 Juli 2006…….. masih sangat teringat dalam memoriku. Pada tanggal itu aku memulai lembaran kehidupan baru di pesantren. Kehidupan yang belum pernah aku temui sebelumnya. Ya…disinilah aku akan memulai kisahku.
Hari sabtu, keluarga besarku mengantarku ke pondok. Masih kuingat lambaian ibu saat itu. Kata-kata beliau yang selalu ku ingat “jaga diri baik-baik nak..!”. Lalu aku berada di dekapannya, begitu terasa kasih sayangnya.  Tak lama kemudian ku lambaikan tanganku pada mereka. Sesekali ingin ku teteskan air mata, namun aku berusaha untuk menahannya karna aku tak ingin melihat ibu bersedih. Suasana haru tersebut tak berlangsung lama, hanya beberapa saat setelah keluargku pamit untuk pulang. “Assalamu’alaikum ya ukhty…..masmuki?”.Salah seorang santriwati menyapaku. “Wa’alaikumsalam…….”. Hanya salamnya yang ku jawab karna aku tak mengerti kata-katanya, setelah itu aku diam dan tertawa kecil. Dia pun membalas dengan senyuman anggun seraya berkata “namanya siapa dek?”. “Farida mbak..” Jawabku sambil tersenyum malu. “Ndak usah takut dek, disini nanti akan ada bimbingan bahasa jadi ndak perlu takut. Dulu saya juga seperti sampeyan kok, kalau perlu apa-apa bilang saja ndak usah sungkan-sungkan”. Jelasnya panjang lebar. Ku pandangi papan nama yang terpasang rapi di kerudungnya. Disana tertulis nama Nanik Puji Lestari dibawahnya tertulis Secretary dan di  samping tulisan itu terdapat logo bentuk segilima yang bertuliskan OPMADA. Seketika itu aku menjawab “iya mbak Nanik, terima kasih banyak”. Aku merasa telah menjadi bagian dari keluarga pondok.
Pondok Modern Darul-Ihsan……
Inilah pondok yang begitu aku banggakan. Tempat dimana aku bisa belajar segala hal, dari sini pula aku mulai belajar untuk memaknai kehidupan. Masih terekam dalam memoriku, saat aku pertama masuk kelas aku merasa sangat minder dengan teman-teman. Waktu itu kami belajar bahasa Inggris dan yang mengajar adalah ustadz Anwar. Beliau adalah salah satu ustadz pengabdian tahun itu. Beliau mengajar dengan penuh wibawa. Dengan kefasihannya berbahasa Inggris beliau memulai pelajaran.
“Ok, now listen to me and look at your book….what the meaning of box? ” beliau mulai mengajar dengan suara yang lantang.
Teman-teman menjawab dengan serentak “kotak”…
“Yes, it’s right..now what the meaning of church?”
“Gereja”…..
Teman-teman menjawab dengan serentak a beberapa pertanyaan berikutnnya, sedangkan aku hanya terdiam. Karena aku tak pernah belajar bahasa Inggris di Sekolah Dasar, bahkan aku juga tak pernah mengenalnya. Aku hanya memandangi buku yang tidak terlalu tebal itu, buku warna orange yang di sampulnya tertulis “English Lesson for Class One”. Lembaran demi lembaran mulai ku buka perlahan namun lagi lagi aku tak mengerti apa yang ada di dalamnya. Aku tak ingin terpuruk dalam ketidaktahuan seperti ini, karena itu aku mulai mencoba bertanya-tanya kepada teman yang duduk di sebelahku. Dia  menjawab semua pertanyaanku dengan penuh kesenangan karena dia merasa telah bisa membantuku.
“Kapan-kapan ajari aku lagi ya..” pintaku padanya
Dengan penuh keramahan dia menjawab “iya..insya Allah selama aku bisa aku akan selalu membantumu”.
“Mbak Ela kan..?” lagakku seperti menebak karena sebelumnya aku telah mendengar ada yang memanggilnya.
“iya…sampeyan siapa?”
“farida…”
* * *
Telah menjadi rutinitas tahunan, setiap tahun ajaran baru pondok selalu mengadakan acara Khuthbatul Iftitah atau biasa juga disebut dengan istilah pekan perkenalan. Acara dilakukan pada pagi dan malam hari. Waktu itu aku duduk di bagian terdepan, tepat di belakang tempat asatidzah. Jika di rumah aku terbiasa tidur jam 21.00 maka aku harus merubah kebiasaan tersebut. Ukuran jam seperti itu bukanlah ukuran tidur untuk seorang santri. Namun merubah kebiasaan bukanlah hal yang mudah. Aku sering ngantuk saat acara, bahkan tertidur pun tidak jarang. Kini “Ngantuk” dan Tidur” telah menjadi teman setiaku dalam setiap acara, begitu pula ketika di kelas Kurang lebih selama 1 bulan aku menjalani kegiatan awal tahun ajaran baru, mulai dari khuthbatul Iftitah, Parade Konsulat, dan Class Meeting Sport. Senang dan senang, hanya itu yang aku rasakan  saat itu.
Setelah rentetan kegiatan awal tahun selesai, KBM pondok berjalan aktif. Yang aku tahu kegiatan di pondok hanya belajar dan belajar. Aku bukanlah santri yang rajin, aku lebih banyak tidur, entah di kelas, ketika takror atau pun ketika acara-acara lain.
Tiga bulan sudah aku di pondok, aturan pun semakin bertambah. Semua santri diwajibkan untuk berbahasa Arab dan Inggris dalam percakapan keseharian. Jika salah satu santri yang menggunakan bahasa daerah ataupun bahasa Indonesia maka dia akan dikenai sanksi. Sekali lagi aku bukanlah santri teladan. Tak jarang aku memasuki Mahkamah Bahasa dan Mahkamah Amni. Seperti itulah ku jalani kehidupan di pondok saat aku masih tergolong sebagai santri baru. Bahkan kadang aku juga pernah tidak masuk kelas karna alasan yang tidak jelas. Kadang pura-pura sakit, kadang izin ke belakang tapi tidak kembali lagi, begitu banyak kenakalan yang sering aku lakukan. Aku hanya tertawa geli saat teringat masa-masa nakalku dulu.
* * *
“Bangun Farida…..bangun..”. Suara itu tak asing lagi di telingaku. Aku berusaha untuk membuka kedua mataku. “Ayo Farida belajar dulu, besok ujian..” suara itu kembali lagi terdengar di telingaku. Aku berusaha untuk duduk, begitu terkejut saat aku melihat bahwa yang membangunkanku adalah ustadzah Umi, wali asuh kelasku. Seketika itu aku berdiri seraya berkata malu-malu “Iya ustadzah..saya ketiduran”. Setelah itu aku beranjak pergi dan mengambil air wudhu. Tempat belajarku sangat unik. Masih sangat ku ingat tempat favoritku belajar, di bawah pohon turi di depan asrama. Setiap belajar aku selalu membawa selimut dan bantal. Teman-teman sering tertawa saat melihat tingkahku namun aku tak pernah memperdulikan mereka, karena aku hanya punya satu prinsip “it’s my way”. Setelah ku anggap cukup dalam belajar, ku rebahkan badanku diatas sebuah tikar lalu ku pakai bantal dan selimutku. Absen…hanya absen yang ku tunggu. Rutinitas ketika ujian adalah diadakannya absen sebelum tidur, jika tidak mengikuti absen maka dia akan dikenai sanksi. Inilah metode belajarku setiap malam, aku masih tergolong sebagai pemalas, aku belum terlalu mengenal kesungguhan. Jika ku rasa semuanya telah cukup maka aku tak ingin melakukan yang lebih.
Ujian berlalu begitu cepat, saatnya melihat pengumuman. Hatiku berdebar saat akan ku lihat pengumuman tentang hasil ujianku. Jika salah satu nilaiku ada yang di bawah enam maka aku harus mengulang ujian untuk yang kedua kalinya (her). Sebelum aku melihat papan pengumuman yang sudah ada di depanku dalam hati aku berdoa “bismillah..semoga nilaiku tidak ada yang merah”, dan ternyata saat aku mencoba melihat namaku di urutan terakhir aku sangat bersyukur karena tidak ada nilai merah di kolom nilaiku. Syukur Alhamdulillah pada-Mu ya Robb, kata-kata itu yang sering terucap dari bibirku. Seminggu setelah itu raport dibagikan, dan ini yang lebih mendebarkan bagiku. Ust. Imam Rosyidi, beliau adalah wali kelasku saat itu. Sebelum raport dibagikan beliau menyuruh agar kami berkumpul di kelas. Ketika beliau telah sampai di kelas beliau langsung mengucapkan salam,
 “Assalamu’alaikum Wr.Wb..baiklah saya tidak akan lama-lama disini, sedikit yang akan saya sampaikan kepada kalian. Untuk yang belum menyelesaikan hernya dia belum bisa menerima raport, dan untuk yang lain raport bisa dibawa pulang”.
Tergambar ekspresi wajah berbeda-beda di antara kami, karena sebagian dari kami memang ada yang belum menyelesaikan hernya. Lalu ustadz Imam melanjutkan perkataannya.
“Sebelum saya bagikan raport ini akan saya bacakan 3 juara kelas untuk semester ini”.
Hatiku semakin berdebar tak karuan, entah kenapa aku pun tak tahu. Meski aku tak pernah mengharap untuk mendapat juara.
“Juara ke-3 diraih oleh  Binti Nur Laila Rohmah”
Applaus dari teman-teman terdengar amat keras. Aku pun ikut bertepuk tangan dan ku ucapkan selamat kepada temanku yang mendapat juara, dia adalah temanku belajar. Aku turut senang atas keberhasilannya.
“Untuk juara 2 diraih oleh 2 orang, mereka adalah Binti Aminatul F. dan Binti Chaerun Nisa, dan untuk juara pertama diraih oleh Umul Farida”
Aku sangat terkejut dengan pengumuman ini, karena ini semua bisa dikatakan di luar dugaan, berkali-kali ku ucap syukur pada-Nya. Teman-teman juga memberikan selamat kepadaku. Aku sangat senang dengan semua ini. Dalam hatiku bebisik “Alhamdulillah…aku bisa membawa oleh-oleh untuk ayah dan ibu di rumah. Inilah yang menjadi motivasi awalku untuk selalu berusaha mendapatkan yang terbaik. Dari sini pula aku memlai langkah kesungguhanku.

 * * *
Kini aku duduk di kelas 2 MTs. Aku masih tetap seperti dulu, kenakalanku masih tetap melekat dalam diriku. Bahkan aku telah berlangganan dengan Mahkamah Lughah dan Amni. Namun di kelas ini pula aku mulai aktif mengikuti kegiatan di dalam maupun di luar pondok, mulai dari PMR, Pramuka, Drum Band dll. Berbagai rintangan selalu ku temui dalam perjalannaku, aku selalu berusaha tegar dan sabar dalam menghadapi semua masalah.
 Singkat cerita hari-hariku berlalu begitu cepat, tak terasa aku telah berada di kelas 3 MTs. Di kelas ini kenakalanku agak berkurang karena masa-masa kelas 3 adalah masa-masa ujian, seakan-akan semua ini telah menjadi adat di pondok. Aku selalu termotivasi dengan hasil yang aku dapatkan di kelas 1 dan 2, karena itu aku selalu berusaha untuk bisa mempertahankan hasil yang sering akau dapatkan. Ku mulai belajar dengan kesungguhan, ku tinggalkan kemalasanku. Dan akhirnya aku pun bisa bertahan di urutan pertama. Semua itu tak lepas dari sebuah kesungguhan, tak hanya itu, kesungguhan juga harus diseimbangkan dengan doa.
 Aku mulai belajar membangun sebuah mimpi. Karna bagiku mimpi merupakan hal penting dalam kehidupan ini. Namun aku bingung, apa yang harus aku impikan???...Pertanyaan ini selalu terngiang dalam anganku. Saat aku mulai memasuki masai Aliyah aku mencoba untuk membangun kembali mimpiku, kini aku bisa bermimpi. Aku bermimpi aku bisa belajar di Universitas Al-Azhar, Cairo. Ya…itulah mimpiku.
Aku semakin disibukkan dengan berbagai kegiatan di pondok, hingga aku tak begitu  memikirkan mimpiku. Di kelas 2 Aliyah aku mulai belajar berorganisasi. Organisasi yang dulu  hanya ku ketahui namanya kini aku berada di dalamnya. Aku menjadi bagian bahasa (Qismu al-Lughah). Jika dulu aku sering masuk Mahkamah Lughah sekarang aku menjadi pemberi sanksi dalam Mahkamah Lughah.Aku tak mempermasalahkan semua itu, justru akau begitu bersyukur  bisa menjadi bagian Bahasa, dari sini aku bisa lebih banyak belajar mengenai bahasa. Aku yang awalnaya tak pernah mengerti  bahasa Arab maupun Inggris kini di tuntut untuk bisa keduanaya. Dalam struktur kepengurusan pondok putri aku terpilih sebagai ketua, inilah hal yang ku rasa begitu berat untuk orang sepertiku. Aku yang sering berlangganan dalam Mahkamah Lughah dan Amni kini harus menjadi seorang ketua, sosok yang menjadi panutan para anggotanya. Terbesit pertanyaan di hatiku “Mampukah aku menjalankan semua ini??”. Dengan dukungan orang-orang di sekitarku aku berfikir optimis. Aku juga ingat akan firman-Nya “laa yukallifullaaha nafsan illa wus’ahaa”.Kata-kata inilah yang ku jadikan pedoman dalam menjalankan amanat yang telah diberikan kepadaku.
Tanpa ku sadari aku telah belajar banyak hal dari organisasi. Kedudukanku sebagai Qismu Lughah secara tidak langsung telah menjadi pendukung menuju mimpiku. Aku mulai belajar dan berfikir dewasa saat aku menjadi ketua. Subhanallah!! inilah rencana Tuhan yang tak pernah diketahui oleh siapapun.
 Dua kejadian yang begitu aku sayangkan saat aku duduk di bangku Aliyah adalah yang pertama saat aku mengikuti lomba Peserta Terbaik PMR se-Jatim, ketika itu aku sedang mengikuti seleksi ketiga yang diadakan di Nganjuk, ada dua tes yang harus kulewati, tes yang pertama ku lewati dengan hasil yang cukup memuaskan namun saat aku akan mengikuti tes yang kedua aku mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang ke pondok hingga akhirnya aku gagal untuk dikirim ke Malang. Yang kedua saat aku telah berhasil meraih juara 2 dalam lomba cerdas cermat bahasa Arab. Juara 1,2 dan 3 akan dikirim ke Surabaya untuk mengikuti lomba yang kedua kalinya, namun karena posisiku saat itu berada di kelas 3 Aliyah maka aku tidak diperbolehkan mengikuti lomba dengan alasan UN telah dekat, padahal dari sekolah lain banyak yang mengirim anggota kelas 3 sebagai perwakilan. Sungguh…hal ini benar-benar aku sayangkan. Namun aku tak pernah tahu rencana Tuhan dibalik semua itu.
Ketika pertengahan ujian syamilah yang diadakan oleh pondok pada bulan Mei ada pengumuman mendadak dari ustadzah Risa bagian TU kepada 10 anak yang telah dipilih dari kelasku, diantaranya adalah aku. Aku dan teman-teman diminta untuk mengikuti seleksi program PBSB. Aku pun bersedia untuk mengikuti tes tersebut.
Hari yang ditunggu pun telah tiba, seleksi PBSB diadakan pada tanggal 14 Mei 2012.  Saat aku memasuki ruang seleksi aku merasa berada diantara ratusan orang-orang hebat, meski aku tak begitu hebat namun aku memiliki keyakinan bahwa aku pasti bisa. Ku kerjakan soal demi soal dengan penuh ketelitian, berkali-kali ku ucap basmalah. Akhirnya aku menyelesaikan semua soal yang diberikan meski kebenarannya masih banyak yang diragukan namun sekali lagi aku yakin dan yakin kalau aku pasti bisa.
Kini aku hanya menanti, menanti sampai saat pengumuman itu tiba. Bulan Juli yang kutunggu telah datang. Ku cari-cari namaku dari pengumuman dalam internet tapi aku tak menemukannya, bahkan aku juga tak menemukan satu pun nama teman-temanku. Ku lirik ke atas ternyata yang kulihat adalah pengumuman tahun 2011. Aku pun tertawa sendiri layaknya orang gila. Hatiku berdebar kencang namun yang ku dapati hanyalah pengumuman tahun 2011. Esoknya aku dikejutkan bahwa aku diterima menjadi PBSB, awalnya aku tidak terlalu percaya namun ternyata berita itu nyata, seketika itu juga aku tersungkur di hadapan-Nya. Aku terhanyut dalam sujud syukurku, tak kuat aku menahan tetesan air mata ini. Subhanallah !!! inilah jawaban dari Tuhan. Inilah rencana itu, rencana Tuhan untukku………………
Kini aku adalah seorang Mahasiswa yang sekaligus berindentitas sebagai Mahasantri. Namun aku tak ingin semua itu hanyalah sekedar identitas, terlebih untuk Mahasantri. Mahasantri merupakan status diatas santri, untuk itu secara tidak langsung mahasantri dituntut untuk “lebih” dari seorang santri. Semua yang ku dapatkan tak lepas dari kesungguhanku sendiri dan dukungan orang-orang terdekat dalam hidupku. Terima kasih pondokku…aku akan kembali untuk mengabdikan diri padamu atas rasa terima kasihku. Terima kasih ibu…yang selalu mendukung dan mendoakanku dalam siang dan malammu. Terima kasih ayah…yang juga selalu berdoa untukku. Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian. Amiin……

                                                                                  Created by
Umul Farida CSS ’12 IAIN Supel

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More