TERSESAT DALAM KEBENARAN
Oleh: Imroatus Sholikhah
Mahasiswa IAIN Sunan Ampel semester I
“tidak semua harapan akan sesuai dengan kenyataan”
kata itulah yang masih dan bahkan akan terus ku pahami dan ku ingat selalu. Setiap orang pasti mempunyai harapan, tetapi tidak semua harapan akan terwujud sesuai dengan yang diharapakan dan kenyataan tersebut mungkin akan lebih baik dari apa yang kita harapkan. Sekilas profilku, namaku imroatus sholikhah anak ketiga dari tiga bersaudara, dari pasangan bapak ghozali dan ibu syafa’ah, yang empunyai riwayat pendidikan sebagai berikut:
TK : Roudlotul Athfal AL-HIKMAH Gempolmanis
MI : Madrasa Ibtida’iyah AL-HIKMAH Gempolmanis
Mts: Madrasah Tsanawiyyah AL-HIKMAH Gempolmanis
MA: Madrslah Aliyah Wahab Hasbulloh Bahrul Ulum tambak beras Jombang
Ӝ Ӝ Ӝ
Terlalu mudah untuk diingat dan terlalu sulit untuk dilupakan pada saat dimana perjuangan dimulai. 12 juni 2009 pada tanggal itulah predikat santri melekat dalam diriku, menjadi seorang santri memang bukan pilihanku sendiri terdapat campur tangan orang tua dalam hal ini, ya sedikit ada paksaan.......^_*, banyak alasan mengapa aku bisa ada disini dan menjadi santri,salah satunya yakni keinginan orangtua untuk memiliki anak yang sholikhah, pintar agama dan yang super religius, dan motivasi yang lain yakni karena pengaruh ketrauma ibu terhadap kecelakaan kakak laki-laki tercinta.
sangat pahit untuk diingat ketika pertama kali nyantri terdapat kata-kata yang sampai sekarang tidak bisa kulupakan“ tersesat dalam kebaikan” ya, aku memang tersesat saat itu tapi dalam hal ini yakni tersesat dalam kebenaran, MA Wahab Hasbulloh dan PP.Al-wahabiyyah II Al-lathufiyyah III dalah tempat yang berhasil mendidik aku menjadi seseorang yang seperti sekarang ini, tidak ada kata tidak bisa dalam proses belajar, walaupun aku bukan termasuk orang yang dikagumi oleh semua orang tetapi setidaknya aku siap menjadi seperti mereka.
Ӝ Ӝ Ӝ
Awal semester pada MA Wahab Hasbulloh yakni masa keputus asaan datang menyelundup dalam hati dan pikiranku, “ aku tidak bisa apa-apa disini, aku mau pindah” kata-kata tersebut selalu mengelilingi benak pikiranku, tetapi teringat kembali atas amanah yang diberikan orangtua terhadapku. Aku bukanlah tipe murid yang pintar, rajin, dan yang yang lain, tipe orang pintar bahkan tidak terdapat sama sekali dalam diriku, sejak awal sekolah hingga lulus sekolah aku hanya menjadi anak yang semangat dan patuh dalam belajar tidak lebih dari itu. ketidak bisaan bisa terkalahkan dengat semangat yang tinggi ( by ustdzah tercinta) maka yang tertanam dalan diriku yakni keterpakuan terhadap teks yang ada atau yang diajarkan oleh guru, dalam tatanan pemahaman pembelajaran maupun akidah pondok pesantren sering dikenal dengan konsep kepatuhan tehadap kyai ataupun ustadz ustadzah yang dalam istilah jawanya dikenal dengan “ngalap barokah” . dari sinilah maka terbentuklah santri yang kaku dalam berfikir atau yang lebih dikenal dengan berfikir dangkal. Tetapi terdapat terdapat pula pembelajaran yang menarik dalam pembelajaran dalam pondok pesantren yakni kegiatan yang bisa menggerakan otak santri yang disebut dengan jidal ( debat) yang diadakan satu kali dalam setahun. Selain itu kepatuhan seorang santri memberi efek positif yakni mengedepankan menghafal dalam sema hal.
Selama pembelajaran di pondok selama 3 tahun aku merasakan banyak ilmu yang aku dapatkan, Pengalaman paling indah, unik dan menyenangkan yakni ketika pertama kali aku ditunjuk untuk menjadi perwakilan pondok sebagai delegasi taqdimul qhisoh (bercerita menggunakan bahasa arab) pada lomba yang diadakan PP. BAHRUL ‘ULUM dalam rangka HUMAPON yang aku lakukan bersama dengan sahabat karibku, menjadi faizah pada saat itu adalah hadiah terbesar yang Allah berikan, karena selama aku nyantri tidak ada yang bisa aku banggakan dalam diriku untuk podoku, seiring berjalannya jarum jam, semangat yang ada dalam dirikupun mulai tumbuh dengan indah, sampai akhirnya semester genap pada kelas dua pun tiba, hati pikiran mulai ku tata dengan semestinya, ku lenyapkan semua kata-kata tidak bisa dalam benakku, kubulatkan tekadku unuk berubah menjadi yang lebih baik dari hari kemaren.
Ӝ Ӝ Ӝ
Akhirnya usahaku tidak sia-sia aku berhasil mengalahkan kemalasanku utuk menjadi yang lebih baik, walaupun aku tidak menjadi yang terbaik tetapi setidaknya aku bisa memberikan kabar gembira ke pada orang yang telah melahirkanku.masuk kedalam salah satu murid yang baik nilainya. Kujalani pembelajaran kembali seperti biasa tetapi dengan semangat baru. Hari demi hari telah terlewati dengan hati yang riang gembira sampai akhirnya ujian akhir madrasah pun tiba, kusiapkan hal-hal yang akan menjadi pembahasan dalam ujian tersebut mulai dari ujian tulis sampek ujian praktek.
Ӝ Ӝ Ӝ
“ bagaimana jika ayah tidak bisa membiayai kamu untuk masuk kuliahmu nak, ayah minta kepada kamu agar belajar yang giat, yang dapat menjadikan ayah bersemanagt untuk membiayai kamu”. Aku terdiam dan suasana menjadi sunyi ketika ayah berkata demikian dengan hati, perasaan yang sedikit kecewa, maka seketika itu pula aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku harus bisa membanggakan kedua orang tuaku minimal jika aku tidak bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Setiap ujian datang maka setiap waktu itu pula aku teringat kata-kata ayahku, itula yang menjadi semangat tersendiri untuku. Dimana temapt nantinya aku belajar tidak menjadi masalah, tempat tidak berpengaruhkepada pelajaran atau ilmu yang diperolehnya bagiku penuntut ilmulah yang berpengaruh, tetapi semua orang pasti mempunya cita-cita ataupun harapan begitu pula aku keinginanku untuk kuliah di Institut Agama IslamNegeri Surabaya sangatlah kuat, dan aku berharap itu akan terjadi.
Ӝ Ӝ Ӝ
Kesibukan para murid kelas akhirpun dimulai, mereka sibuk dengan rencana mereka kedepan tentang dimana mereka akan kuliah, atau dimana mereka akan kerja bahkan siapa orang yang pertama kali mengadakan pesta pernikahan. Aku terdiam merenungi kata-kata yang diucapkan ayah tempo hari, tiba-tiba suara panggilan salah satu guru membuyarkan lamunanku, sesegera mungkin aku melangkahkan kakiku satu persatu dengan hati yang bercampur aduk layaknya permen nano-naro rame rasanya. Sampailah aku didepan kantor, maka yang muncul dalam benaku adalah apa yang terjadi?, apakah aku melakukan kesalahan? Dan banyak lagi pertanyaan yang seketika itu belum menemukan jawabanya.
” Atus tolong kamu panggikan 10 teman-teman kamu baik yang putri maupun yaang putra yang masuk dalam kategori anak dalam kelas sepuluh besar “. Ku telusuri tiap sudut sekolah kucari satu persatu diantara mereka. Selang beberapa menit kemudian aku kembali ke kantor bersamaan dengan teman-teman,disana akupun tetap masuk kedalam ruangan yang penuh dengan tanda tanya.
“ kalian dipanggil kesini karena bapak kira kaliam mampu dan layak untuk mengikuti program ini, bapak tahu dalam detik-detik menjelang ujian disamping kalian sibuk memikir ujian kalian juga sibuk memikirkan dimana kalian akan melanjutkan pembelajaran kalian, disini bapaa akan meginformasikan kepada kalian bahwa setiap tahun sekolah kita ini mengikutu program beasiswa dari kemenag RI yang lebih kita dengar dengan Program Beasiswa santri Berprestasi, dan bapak sarankan kalian mengikutinya dan mempersiapkanya. Dari setiap angkatan terdapat muri dari Madrasah kita yang masuk dalam program beasiswa tersebut, dan bapak harap tali silahturahmi denagn kemenag tidak putus sampai disini”.
Bisikan-bisikan mulai terdengar dari sudut-sudut ruangan, bermula dari itu maka terlintas juga dalam fikiranku bahwa inilah jawaban Allah selama ini, mungkin dengan adanya ini aku bisa memberi kebanggaan pada orang tuaku walaupun aku belum tentu masuk didalamnya.
Ӝ Ӝ Ӝ
Kabar gembira yang aku peroleh aku bawa dari pondok menuju rumah, dirumah kedatanganku disambut dengan baik oleh orangtuaku, ku kabarkan semua informasi yang telah aku peroleh kepada orang tuaku, dan aku pasrah dengan keputusan keduanya. Dan pada akhirnya mereka memberi respon positif lebih-lebih mereka memberi dukungan penuh terhadap itu semua.
Ӝ Ӝ Ӝ
Syarat untuk mengikuti Progarm Beasiswa Santri Berprestasi memang tidaklah mudah, pada tahap pertama aku harus menyiapkan apa yang disyaratkan kemenag, dengan niat yang baik aku bulatkan tekadku demi orang tuaku, demi guruku dan demi lingkungan disekitarku. Aku sadar bahwa kemungkinan aku masuk dalam program beasiswa santri berprestasi sangat kecil tetapi setidaknya aku bisa mencoba dan memberi kabar gembira dan harapan kepada orang tuaku. Banyak diantara teman-temanku yang mengundurkan diri dari progaram tersebut dengan berbagai alasan salah satu yakni keharusan kembali kepondok dan juga tidak diperbolehkanya menikah dalam proses belajar. Dan sampai akhirnya dari 20 calon yang disarankan oleh guru yang tersisa hanyalah 8 orang, inilah yang dinamakan seleksi alam.
Meski bukan keinginanku untuk ikut berpartisipasi dalam progaram beasiswa ini tetapi aku akan berusaha untuk dapat menjadi peserta yang setidaknya tidak membuat malu madrasahku. Waktu mengalir layaknya air yang ada disungai, dan seiring dengan berjalanya waktu maka sampailah pada saat dimana tes Program Beasiswa Santri Berprestasi yang diadakan di Asrama Haji. Perjuangan yang sangat terasa ketika perjalanan menuju Asrama Haji, ketakutan yang ada dalam diriku menjadikan kestabilanku berkurang dan yang akhirnya sakit yang kurasa, sesampai aku di tempat tes aku terbaring lemas tak berdaya. Tepat pukul 04:00 aku terbangun oleh ketukan pintu dari anak kamar sebelah yakni teman sekelasku, akupun segera membangunkan teman-teman dan bersegera mungkin untuk berangkat ke tempat dimana tes akan diadakan, perjuangan yang kedua yakni ketika bunyi bel terdengar dengan lantangnya sementara aku belum siap dengan peralatan tulis, pengorbanan temanku tak akan pernah aku lupakan dia telah merelakan separuh dari penghapusnya untukku dan juga memberikan pensilnya untuku, pada detik itu aku berdo’a kepada Allah agar semua tema-temanku bisa diterima.
Ӝ Ӝ Ӝ
Di rumah,,,,
Kring,,, kring,,,,
Bunyi handphon gembira lagi-lag membangunkanku dalam pelayaran mimpiku, satu pesan diterima “ atus ajak ayah sama ibukamu kemadrasah pada hari mingguya”. Tanpa tau maksud akupun tidur kembali menyambung mimpi yang mesih mengganjal. Pagipun tiba lagi-lagi aku dibangunkan pesan, “ atus selamat ya kamu lolos” tanpa tersadar aku bangun dan membangunkan ayah dan ibuku dan memberi tahu kepada mereka tentang pesan yang aku peroleh. Tangisan, kegembira, sujud syukur, bercampur menjadi satu. Wujud dari syukunya orang tuaku tampak ketika lima hari seelah itu mereka mengadakan acara besar-besaran yang bertujuan mensyukuri atas apa yang diberikan Allah kepadaku.
Ӝ Ӝ Ӝ
Institut Agama Islam Negeri Surabaya sudah didepan mata, ya Allah ternyata kasih sayang_Mu terhadapku sangatlah besar tak sebanding dengan ibadah yang aku kerjakan kepada_Mu. Disini mimpiku akan kuwujudkan menjadi seorang pembisnis yang berlebel Islam. Kehidupan di kampus sanagtlah berbeda dengan kehidupan dipondok, disini aku dituntut untuk berfikir kritis tidak hanya taklid kepada ucapan dosen. Berbeda dengan pembelajaran yang ada dipondok yang menganut pada kitab tanpa ada komentar. Kampus membuka kebebasan berfikir pada mahasiswa, jika dulu di pondok aku hanya menemui bahkan menggunakan kitab yang dalam hal fikih merujuk pada karangan imam syafi’i tapi disini kita ditunjukan bagaimana fikih pada madzhab-madzhab yang lain, walaupun aku mengikuti madzhab syafi’i tetapi aku juga tahu bagaimana fikih menurut imam-imam yang lain, yang menjadikan pikiran ku tidak menjadi dangkal dan juga kritis.
Ini ceritaku, ceritamu?
# All is well