This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 17 Maret 2013

Coretan Hati Habibie....


“Terima kasih Allah, ENGKAU telah lahirkan Saya untuk Ainun dan Ainun untuk Saya

Terima kasih Allah, Engkau sudah mempertemukan Saya dengan Ainun dan Ainun dengan Saya

Terima kasih Allah, hari Rabu tanggal 7 Maret 1962, ENGKAU titipi kami bibit Cinta yang Murni, Suci, Sejati, Sempurna, dan Abadi melekat pada diri Ainun dan Saya

Terima kasih Allah, ENGKAU telah memungkinkan kami menyiram bibit cinta kami ini dengan kasih saying nilai Iman, Takwa, dan budaya kami tiap saat sepanjang masa

Terima kasih Allah, ENGKAU telah menikahkan Ainun dan Saya sebagai Suami Isteri tak terpisahkan di mana pun kami berada sepanjang masa

Terima kasih Allah, ENGKAU telah perkenankan Ainun dan Saya bernaung dan berlindung di bawah bibit cinta titipanMU ini di mana pun kami berada, sepanjang masa sampai Akhirat

Terima kasih Allah, ENGKAU telah memungkinkan kami dapat menyaksikan, merasakan, menikmati, dan mengalami TitipanMU menjadi Cinta yang Paling Murni, Paling Suci, paling Sejati, Paling Sempurna, dan Paling Abadi di seluruh Alam Semesta dan sifat ini hanya dapat dimiliki oleh ENGKAU Allah

Terima kasih Allah, ENGKAU telah menjadikan Ainun dan Saya Manunggal Jiwa, Roh, Batin, dan Nurani kami melekat pada Diri Kami sepanjang masa di mana pun Kami berada

Terima kasih Allah, ENGKAU telah memungkinkan terjadi sebelum Ainun dan Saya tanggal 22 Mei 2010 pukul 17.30 untuk sementara dipisahkan. Ainun berada dalam Alam Baru dan saya untuk sementara masih di Alam Dunia

Terima kasih Allah, perpisahan kami berlangsung damai, tenang, dan khidmat dengan keyakinan bahwa KebijaksanaanMU adalah terbaik untuk Ainun dan Saya
Berilah Ainun dan Saya petunjuk mengambil jalan yang benar, Kekuatan untuk mengatasi apa yang sedang dan akan Kami hadapi di manapun Kami berada

Lindungilah Ainun dan Saya dari segala Gangguan, Ancaman, dan Godaan yang dapat mencemari Cinta, Murni, Suci, Sejati, Sempurna, dan Abadi kami, sepanjang masa.” Amien.

SEUNTAI NASIHAT UNTUK WANITA

~ ♥ Jadilah wanita yang penyayang & lembut.
Dan janganlah menjadi wanita yang kasar dan keras.

~ ♥ Jadilah wanita yang berjawah berseri & selalu tersenyum.
Dan janganlah menjadi wanita yang bermuka masam dan selalu cemberut.

~ ♥ Jadilah wanita yang bijaksana & sabar.
Dan janganlah menjadi wanita yang plin-plan dan temperamental.

~ ♥ Jadilah seorang ibu yang menghangatkan.
Dan janganlah menjadi wanita yang dingin hingga dijauhi.

~ ♥ Jadilah wanita yang dicintai dan di rindukan.
Dan jangan menjadi wanita yang lalai dan di lalaikan.

Semoga kita termasuk ke dalam kategori di atas. Aamiin.

Sabtu, 16 Maret 2013

Coretan Hidup My Beloved Family



MY SUCCES STORY
*Laila
Kini aku telah menuntut ilmu di  IAIN Sunan Ampel Surabaya. Tak pernah terpikir olehku akan menjadi kenyataan dapat menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi dengan beasiswa. Mungkin jika tidak mendapat beasiswa, aku tidak akan kuliah. Bahkan dulu waktu lulus tsanawiyah, aku tak berniat untuk dapat melanjutkan sekolah ke aliyah. Karena keadaan orang tua yang kurang mampu untuk dapat membiayai sekolahku. Mereka hanya dapat membiayai untuk menuntut ilmu di pondok.
 Kemudian guruku menawarkan beasiswa sekolah dan pondok. Awalnya aku ragu, apakah aku dapat lulus tes beasiswa ini. Sementara aku belum pernah mengenyam pendidikan pondok sama sekali sebelumnya. Kemudian aku belajar pada pak de yang jadi seorang guru ngaji dengan kakak sepupuku yang waktu itu juga ditawari oleh guru kami untuk beasiswa ini. Rasanya asing sekali dengan kitab-kitab ini, warnanya kuning dan tanpa harakat.
Akhirnya dengan izin dan do’a kedua orang tua aku berangkat tes dengan saudara sepupu dan diantar oleh pak de. Banyak yang tak kumengerti dalam soal tersebut, tapi sedikit-sedikit dapat kumengerti, karena aku pernah mempelajarinya ketika berada di MTs dulu. Tes tulis terdiri dari dirasah islamiyah dan bahasa arab, dan Alhamdulillah aku dapat mengerjakan. Kemudian tes lisan terdiri dari tes baca al-Qur’an, qiroatul kitab, dan tes wawancara. Tes baca al-Qur’an dapat terlewati dengan mudah, tapi ketika tes baca kitab aku tidak mengerti sama sekali. Dulu pernah belajar sedikit tentang nahwu shorof ketika masih di madrasah ibtida’, tapi itu hanya sedikit dan belum cukup untuk menjadi bekal dalam membaca kitab. Aku pasrah, apapun hasilnya nanti aku akan menerimanya.
Pengumuman hasil tes dibagikan beberapa hari setelah test dilaksanakan. Pengumuman tersebut diambil langsung ke rumah kepala sekolah. Kami mengambil hasil ujian tersebut ke rumah kepala sekolah. Kepala sekolahnya ternyata seorang wanita. Kami masing-masing diberi sebuah amplop yang berisi hasil test masuk sekolah. Aku tidak berharap banyak untuk dapat lulus test ini. Walaupun lulus, jika kakak sepupuku tidak lulus, maka aku tidak akan masuk ke sekolah tersebut. Karena kami selalu bersama, dan orang tua kami akan khawatir apabila kami tidak hidup berdua. Sedikit cerita tentang kakak sepupuku. Dia seumuran denganku dan cantik. Dia pintar, dan dari dulu kita selalu berdua, belum pernah berpisah sama sekali. Mulai dari kecil, masuk RA, MI, dan MTs selalu bersama, tapi walaupun bersama kami tidak terlalu akrab. Kembali lagi masalah amplop pengumuman. Amplop tersebut dibuka dan isinya betapa jelek nilaiku, tapi yang ku herankan adalah aku masih tetap lulus dan dapat menuntut ilmu di MA Al-I’dadiyyah Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang bersama kakak sepupuku lagi. Kami diberi kesempatan untuk belajar di sini walaupun nilai kami jelek, tapi harapannya akan menjadi lebih baik dan memperbaiki nilai-ninlai yang jelek.
Di dunia ini tak ada yang gratis, begitu juga beasiswa ini. Aku mendapat beasiswa tapi dengan syarat harus memperoleh nilai yang bagus dan menghafal al-Qur’an. Kemudian diadakan kontrak prestasi yang ditulis di atas kertas, istilahnya hitam di atas putih. Awalnya ketika mendengar itu rasanya seperti berat sekali, aku takut tidak dapat menjalankannya. Tapi apapun yang terjadi aku hanya menjalaninya, apapun itu semoga barokah.
Katanya masa putih abu-abu adalah masa yang paling menyenangkan, memang betul dan aku mengalaminya sendiri. Masa itu masa-masa yang menyenangkan, bercanda dengan teman-teman, melewati masa-masa susah dan senang bersama-sama. Teringat ketika ada lomba, walaupun dalam perlombaan kalah, tetap semangat dan bangga. Karena usaha yang dilakukan untuk mencapai itu dengan kerjasama, susah bersama dan senang juga bersama. Tak hanya lomba, di kelas ketika tidak ada ustadz salah satu dari kami maju untuk memimpin belajar bersama. Begitu juga ketika di pondok, setiap malam diadakan taqror atau belajar bersama-sama di aula. Kadang kita belajar bersama-sama, dan kadang salah satu teman yang pintar, memimpin untuk berdiskusi bersama.
Perjalanan kelas satu masih dalam masa-masa pengenalan dengan pelajaran yang masih asing di mataku, dan teman-teman yang ternyata ada banyak yang berlatar belakang tidak dari pondok pesantren. Jadi kita semua belajar bersama-sama, dan ada yang dari pondok mengajari anak yang belum bisa. Lambat laun aku mulai dapat mengerti pelajaran-pelajaran yang dulu terasa asing, dan nilaiku lebih baik dari dulu. Begitu juga seterusnya, nilaiku semakin baik. Kelas satu dan kelas dua ku lalui dengan semangat yang kadang naik dan kadang turun. Tapi kadang di kelas aku kurang dapat mengiku penjelasan ustadz dengan baik, kadang penyakitku kambuh ketika pak ustadz menjelaskan. Yaitu ngantuk, jadinya guru menjelaskan dan murid tidur. Mungkin karena kurangnya interaksi antara murid dan ustadz, sehingga metodenya hanya satu arah dan murid yang mendengarkan saja tidak efektif sehingga terserang ngantuk. Berbeda dengan metode yang ada di kampus, yaitu mahasiswa yang dituntut harus aktif. Membuat makalah, mencari refrensi, membaca banyak buku, presentasi, dan di kelas juga harus aktif. Jadi tidak akan sempat mengantuk, kecuali aku. Walaupun ada dosen yang sedang menjelaskan dan aku sudah duduk di depan, tetap saja kalau sudah ngentuk rasanya tidak bisa ditahan. Mungkin masih terbawa kebiasaan pondok dulu yang sering mengantuk. Teringat dulu ketika ngaji, sering kali tertidur. Hal ini karena kecapekan sekolah waktu siang hari, kemudian ketika mengaji tidak tatap muka langsung, sehingga membuka banyak kesempatan untuk tidur. Dan ketika ngaji dulu tidak ada season Tanya jawab, kalau menurut dosen-dosen kebanyakan santri itu menjadi obyek saja, yaitu posisinya selalu menerima, harus tawadhu’ terhadap pak yai. Ketika di kampus, berbeda sekali dengan ketika berada di pondok. Ketika di pondok seorang santri diharuskan untuk selalu tunduk dan tawadhu’ kepada pak yai, tapi ketika sudah menjadi mahasiswa hal itu tidak diharuskan lagi, bahkan kita bisa mengkritik dan membantah pendapat dosen, tapi harus dengan argument yang logis dan akurat.
Tak terasa sudah kelas tiga. Banyak perguruan tinggi yang promosi ke sekolah, baik itu perguruan tinggi negri maupun perguruan tinggi swasta. Semua sibuk dengan keinginan untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi atau kuliah. Teringat ketika salah satu putri kyai Abdurrahman wahid atau lebih dikenal gus dur yang namanya mbak Yeni berkunjung ke sekolah. Beliau member banyak motivasi, salah satunya adalah kita disuruh menulis cita-cita kita dalam waktu yang akan datang. Ketika itu aku menulis ingin dapat belajar di universitas dengan gratis tanpa bayar. Karena tidak mungkin rasanya jika orang tua akan membiayai kuliahku. Sering sekali aku waktu aliyah aku mendapatkan motivasi-motivasi yang membangun, entah itu dari para ustadz ustadzah ataupun seorang trainer. Dan dulu ketika melihat orang member nasihat atau motivasi aku membayangkan aku bisa menjadi seperti mereka, dapat member motivasi dan membari semangat yang membangun. Semua tangan bertepuk tangan ketika aku memberi sebuah motivasi, membayangkannya sangat menyenangkan. Tapi apakah aku bisa mencapainya, sementara dapat kuliah saja masih belum jelas. Teman-temanku ada yang sudah daftar kuliah dan dibantu oleh ustadz. Ada yang melalui jalur undangan, ada juga yang melalui jalur PMDK. Aku terserang kegalauan. Aku ingin dapat kuliah. Tapi bagaimana caranya. Aku mencari-cari informasi tentang beasiswa dan Tanya-tanya kepada ustadz. Ada beasiswa yang ingin aku ikuti, yaitu beasiswa dari kemenag. Aku berharap dapat memperoleh beasiswa itu. Aku meminta izin kepada orang tua untuk mengikuti test ini, kalau berhasil Alhamdulillah dan kalau tidak berhasil aku siap dipondokkan lagi. Dan orang tua memberi izin asalkan aku bersama dengan saudara sepupuku itu. Kami pun mencari informasi tentang beasiswa ini dan melengkapi persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Dengan bantuan orang tua dan pak ustadz yang mendaftarkan test, kami berharap bisa lolos. Setelah ujian akhir nasional dan ujian yang lain-lainnya, akhirnya hari test pun tiba. Test ini diadakan di asrama haji Surabaya, seluruh santri dari jawa timur kumpul di sini menjadi satu. Test beasiswa ini diadakan di seluruh Indonesia di profinsi masing-masing. Aku berangkat test dengan kakak sepupu dan seorang temanku. Awalnya kami bingung jika berangkat pagi apakah tidak telat, tapi jika kita berangkat sebelum hari test mau menginap di mana kita. Alhamdulillah setelah mencari-cari ada salah seorang adik kelas yang dapat membantu. Dia mempunyai kakak di Surabaya, kakaknya juga salah seorang yang mendapat beasiswa ini di ITS Surabaya. akhirnya kita berangkat siang setelah berpamitan dengan bu nyai. Bismillah semoga berhasil.
Surabaya diguyur hujan ketika kita menjalankan test. Melihat peserta lainnya rasanya minder. Mereka terlihat hebat-hebat dan luar biasa, sementara aku hanya pas-pasan. Tapi apapun yang terjadi kami tetap harus mengikuti test tersebut. Aku test bersama kakakku di IAIN sunan ampel, sedangkan temanku yang satunya di UIN sunan kalijaga Jogjakarta. Test usai dan pengumuman dapat dilihat melalui internet, setelah test kami langsung kembali pulang ke jombang. Karena dari Surabaya busnya melewati rumah, maka aku tidak ke pondok dan langsung turun di mojoagung saja bersama kakak sepupuku. Sampai di rumah sudah malam.
Hari demi hari berlalu, dan hari itu tibalah hari pengumuman. Aku pergi ke warnet dan melihat pengumuman. Apakah aku akan berhasil. Setelah mencari-cari, ternyata tidak ketemu. Yasudahlah mungkin aku belum beruntung. Kemudian aku pulang. Selang beberapa hari ada temanku tiba-tiba sms dan memberiku selamat atas keberhasilan dalam test pbsb ini. Aku belum percaya tapi aku tidak memeriksanya di internet. Karena diketahui yang lolos test ini hanya aku, aku pun tak berniat untuk mengambil test ini. Karena dari dulu aku selalu bersama dengan kakak sepupuku, maka jika berpisah orang tua pasti akan khawatir. Teringat ketika boyong bu nyai memberi nasihat untuk ke STAIN tulungagung. Akhirnya kami mencoba untuk ikut daftar mengikuti bidik misi di STAIN tulungagung. Kemudian kami mulai melengkapi beberapa persyaratan yang diperlukan, ada yang harus di lengkapi di sekolah juga, jadi kami pergi ke jombang mengurusi persyaratan test. Ketika beberapa hari berada di pondok, tiba-tiba ada yang menelpon. Ternyata dia adalah anak MA wahab hasbullah yang juga lulus pbsb di IAIN. Aku ditanya apakah sudah mengirimkan fax tentang kebersediaan menerima beasiswa ini. Aku tidak tahu apapun, dan ketika itu ustadku belum mengetahui sama sekali kalau aku telah lulus test kemaren. Setelah aku member tahu, aku dibantu untuk melengkapi persyaratan. Dan semua itu kulakukan tanpa sepengetahuan orang tua. Kemudian setelah semua persyaratan beres, aku baru memberi tahu orang tua. Awalnya mereka tidak setuju jika aku nantinya akan pisah dengan kakak sepupuku. Apalagi bapakku, beliau tidak enak hati dengan pak de karena dulu pernah tidak memperbolehkan kakak sepupuku kuliah di Jogjakarta karena kita tidak bersama-sama. Kemudian setelah dibujuk, akhirnya bapakku memperbolehkanku mengambil besiswa ini. Dan kakak sepupuku yang dari dulu ingin pergi ke jogja akhirnya diperbolehkan oleh orang tuanya untuk mengikuti test di sana, tapi karena memang belum diikhlaskan oleh orangtuanya, maka dia tidak lolos. Dan akhirnya sekarang belajar di pondok.
Akhirnya keinginan yang dulu pernah kutulis di buku tentang hal yang ingin kucapai sekarang telah terwujud. Aku menjadi seorang mahasiswa. Rasanya berbeda sekali ketika aku masih aliyah dulu. Dulu yang menjadi pendengar ketika di kelas, sekarang harus menjadi orang yang banyak bicara dan aktif dalam belajar. Dan juga lingkungan, dulu semua tertutup, antara putra dan putri tidak bisa berinteraksi. Tapi sekarang pergaulan bebas, mau berteman dengan siapa saja bisa, tapi juga harus mengetahui batas-batasnya. Salah-salah dalam bergaul dapat berakibat fatal. Dulu belajar bersama-sama ketika di pondok, tapi sekarang ketika di asrama belajarnya individu. Mahasiswa juga dituntut untuk membaca banyak buku agar luas pengetahuannya dan kuat argumennya. Itulah mahasiswa, awalnya aku tidak terbiasa dengan hal ini. Dan sekarang pun masih belum dapat menyesuaikan diri.
Itulah kisah suksesku dari awal dapat menuntut ilmu di pondok hingga dapat menjadi mahasiswa IAIN sunan ampel Surabaya. entah mengapa aku bisa sukses seperti ini, padahal aku bukanlah dikategorikan orang yang pintar sekali, tapi hanya pas-pasan. Bahkan dulu aku mendapatkan sbeasiswa ini hanya keberuntungan semata. Tapi kemudian tidak mungkin Allah memberikan sesuatu tanpa alas an. Sampai sekarang aku tidak tahu alasan Allah telah memberiku nikmat sebesar ini. Semoga saja aku bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Kultum Leti,



“Syubbanul Yaum, Rijaalul Ghod”
*Leti Latifah
Masa muda adalah masa dimana keberanian, semangat, dan tujuan hidup harus sudah dirancang, harus sudah menggenggam target-target hidup yang cemerlang,  harus anti dengan istilah “MALAS”, harus berperang dengan yang namanya “GENGSI”, harus pandai bergaul, pandai berkomitmen dan cerdas dalam menentukan pilihan alias think smart, positif tinking,  dan harus berjuang untuk meraih CITA dan CINTA dan HARAPAN. Sehingga, pemuda saat ini mempunyai kepribadian yang berkualitas sebagai cikal bakal pemipin bangsa dan negara yang ideal, dan cikal bakal pemimpin yang super ideal bagi keluarganya dikemudian hari, baik laki-laki ataupun perempuan. Sebagaimana disebutkan dalam syair Arab  yang sangat populer, mengatakan ”syubbanul yaum, rijalul Ghod”. Yang artinya, pemuda hari ini adalah pemimpin di kemudian hari (esok).
Pemuda muslim haruslah menjadi pionir, menjadi agent of change, terutama pada era modern ini, yang mana mayoritas  pemuda Indonesia kehilangan akhlaknya, kepribadiannya, mereka bangga dengan budaya-budayya negara lain, mereka lupa akan kepribadian bangsanya sendiri, bak seekor harimau yang kehilangan taringanya, bak seekor singa jantan yang kehilangan bulunya. Naudzubillah himindzalik.
Di era modern ini juga, masih ada pemuda yang kehilangan sifat kemandiriannya, dan kepercaya diriannya. Mereka tidaklah lagi membanggakan dirinya. Contohnya, Mereka yang berasal dari keluarga kaya mengatakan “Tuh liat Bapak saya, tuh liat, Ibu saya, tuh liat keluarga saya, mereka mempunyai segalanya, aku tinggal minta pada mereka, tidak ada susahnya, santai aja,,, ”. Adapun seorang pemuda yang berasal dari keluarga miskin tidak berusaha untuk memperbaikinya, mereka hanya mengatakan,” Ah, hidup itu cuma gitu-gitu aja, apalagi hidup di desa. Gak usah sekolah tinggi-tinggi, tetap aja, ayahku juga jadi seorang petani, ibuku hanya seorang tukang cuci, kerja di dapur,  jadi buat apa sekolah tinggi-tinggi paling anaknya juga tiak jauh dari orang tuanya..”
Sungguh miris bila kita saksikan dengan keadaan dan mental pemuda seperti itu, tak terbayangkan jika semua pemuda mempunyai mental picik, mental kerupuk seperti itu, yang pada hakikatnya, mereka yang kaya, mereka hanya membanggakan apa yang dimiliki orang tuanya, padahal hakikatnya ia (pemuda)  tidak mempunyai apa-apa, ia miskin. Sedangkan ia yang miskin, sungguh lemot pemuda seperti itu, tidak berjiwa besar, sungguhlah kedudukan itu bisa dirubah, asalkan mempunyai keberanian dan kepercaya dirian. Tidak sedikit orang yang yang berasal dari keluarga miskin, anak desa, namun ia bisa merubah nasib dan keadaan ekonominya, ia bisa sukses, ia bisa jadi orang besar, karna ia berangkat dari jiwa-jiwa yang tegar, kuat, dan percaya diri, tidak berhati kerdil. Seperti yang kita ketahui tokoh kita, Chairul Tanjung si anak singkong… Bukan begitu?. Dalam hal ini, lagi-lagi syair Arab mengajarkan kita yang petuahnya sangat fenomenal bagi jiwa-jiwa pemberani yaitu ”Laisal fata, man yaqulu kana abi, walakinnal fata, man yaqulu haa anada,“ yang artiya, bukanlah seorang pemuda yang mengatakan itu lihat Bapak saya, tapi seorang pemuda ialah mereka yang berani mengatakan inilah SAYA…!!”. Subhanalloh.. itulah syair-syair Arab yang pernah Ustadz berikan kepada saya, sebagai pembakar semangat, sebagai suntikan energi positif agar mampu meraih mimpi.  Seperti bang Haji Roma pun berkata dalam syairnya dan pernah tertulis dalam novelnya sang pemimpi karya Andrea hirata,  yaitu  seuntai larik” masa muda adalah masa yang berapi-api
Jadi, kita sebagai generasi muda yang beberapa tahun mendatang akan menjadi pemeran utama di panggung yang nyata bagi bangsa ini. Sehingga wajiblah kita memupuk rasa semangat kebangsaan, dan harus dipupuk dari sekarang. Mulailah mimpi-mimpi itu kita rajut. Seperti salah satu pembakar jiwaku berkhotbah dalam dalihnya ” Saat ini, bukanlah saatnya bermimpi, tapi saat ini adalah saatnya kita beraksi…!!”. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Semuanya pasti terjadi sesuai bagaimana kita memaksimalkan ikhtiar kita, selalu ada jalan untuk menuju Roma, selalu ada cara untuk meraih CITA-CITA, selalu ada cerita, untuk mendapat CINTA. “Man jadda wajada..!!” adalah syair Arab yang dinobatkan sebagai sihir ampuh bagi para pemuda pemudi yang sedang berkelana untuk meraih cita, cinta dan harapnya.
Oleh karena itu, mari kita genggam tangan kita, satukan tekad untuk meraih mimpi… saatnya pemuda bicara, saatnya pemuda beraksi untuk negeri ini.
******

**Nama saya leti latifah. Asal kota saya dari ciamis, Jawa Barat. Namun saat ini saya melanjutkan studi ku di IAIN sunan ampel Surabaya ambil fakultas syariah jurusan Muamalah semester 2. Alamat FB saya leti_zie@yahoo.com dan nama FB nya Leti Latifah. No HP. 085721127120. Di kampus saat ini, saya aktif di LPM Solidaritas, KAMMI, IPPNU, nyantri di pesantren mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan saya termasuk keluarga dari CSSMORA IAIN Sunan Ampel Surabaya.


Jumat, 15 Maret 2013

Coretan ajaib My Beloved friend



TERSESAT DALAM KEBENARAN
Oleh: Imroatus Sholikhah
Mahasiswa IAIN Sunan Ampel semester I
“tidak semua harapan akan sesuai dengan kenyataan”
kata itulah yang masih dan bahkan akan terus ku pahami dan ku ingat selalu. Setiap orang pasti mempunyai harapan, tetapi  tidak semua harapan akan terwujud sesuai dengan yang diharapakan dan kenyataan tersebut mungkin akan lebih baik dari apa yang kita harapkan. Sekilas profilku, namaku imroatus sholikhah anak ketiga dari tiga bersaudara, dari pasangan bapak ghozali dan ibu syafa’ah, yang empunyai riwayat pendidikan sebagai berikut:
TK : Roudlotul Athfal AL-HIKMAH Gempolmanis
MI : Madrasa Ibtida’iyah AL-HIKMAH Gempolmanis
Mts: Madrasah Tsanawiyyah AL-HIKMAH Gempolmanis
MA: Madrslah Aliyah Wahab Hasbulloh Bahrul Ulum tambak beras Jombang
Ӝ  Ӝ  Ӝ
Terlalu mudah untuk diingat dan terlalu sulit untuk dilupakan pada saat dimana perjuangan dimulai. 12 juni 2009 pada tanggal itulah predikat santri melekat dalam diriku, menjadi seorang santri memang bukan pilihanku sendiri terdapat campur tangan orang tua dalam hal ini, ya sedikit ada paksaan.......^_*, banyak alasan mengapa aku bisa ada disini dan menjadi santri,salah satunya yakni keinginan orangtua untuk memiliki anak yang sholikhah, pintar agama dan yang super religius, dan motivasi yang lain yakni karena pengaruh ketrauma ibu terhadap kecelakaan kakak laki-laki tercinta.
sangat pahit untuk diingat ketika pertama kali nyantri terdapat kata-kata yang sampai sekarang tidak bisa kulupakan“ tersesat dalam kebaikan” ya, aku memang tersesat saat itu tapi dalam hal ini yakni tersesat dalam kebenaran, MA Wahab Hasbulloh dan  PP.Al-wahabiyyah II  Al-lathufiyyah III dalah tempat yang berhasil mendidik  aku menjadi seseorang yang seperti sekarang ini, tidak ada kata tidak bisa dalam proses belajar,  walaupun aku bukan termasuk orang yang dikagumi oleh semua orang tetapi setidaknya aku siap menjadi seperti mereka.
Ӝ  Ӝ  Ӝ
Awal semester pada MA Wahab Hasbulloh yakni masa keputus asaan datang menyelundup dalam hati dan pikiranku, “ aku tidak bisa apa-apa disini, aku mau pindah” kata-kata tersebut selalu mengelilingi benak pikiranku, tetapi teringat kembali atas amanah yang diberikan orangtua terhadapku. Aku bukanlah tipe murid yang pintar, rajin, dan yang yang lain, tipe orang pintar bahkan tidak terdapat sama sekali dalam diriku, sejak awal sekolah hingga lulus sekolah aku hanya menjadi anak yang semangat dan patuh dalam belajar tidak lebih dari itu. ketidak bisaan bisa terkalahkan dengat semangat yang tinggi ( by ustdzah tercinta) maka yang tertanam dalan diriku yakni keterpakuan terhadap teks yang ada atau yang diajarkan oleh guru, dalam tatanan pemahaman pembelajaran maupun akidah pondok pesantren sering dikenal dengan konsep kepatuhan tehadap kyai ataupun ustadz ustadzah yang dalam istilah jawanya dikenal dengan  ngalap barokah” . dari sinilah maka terbentuklah santri yang kaku dalam berfikir atau yang lebih dikenal dengan berfikir dangkal. Tetapi terdapat terdapat pula  pembelajaran yang menarik dalam pembelajaran dalam pondok pesantren yakni kegiatan yang bisa menggerakan otak santri yang disebut dengan jidal           ( debat) yang diadakan satu kali dalam setahun. Selain itu kepatuhan seorang santri memberi efek positif yakni mengedepankan menghafal dalam sema hal.
            Selama pembelajaran di pondok selama 3 tahun aku merasakan banyak ilmu yang aku dapatkan, Pengalaman paling indah, unik dan menyenangkan yakni ketika pertama kali aku ditunjuk untuk menjadi perwakilan pondok sebagai delegasi  taqdimul qhisoh (bercerita menggunakan bahasa arab) pada lomba yang diadakan PP. BAHRUL ‘ULUM dalam rangka HUMAPON  yang aku lakukan bersama dengan sahabat karibku, menjadi faizah pada saat itu adalah hadiah terbesar yang Allah berikan, karena selama aku nyantri tidak ada yang bisa aku banggakan dalam diriku untuk podoku, seiring berjalannya jarum jam, semangat yang ada dalam dirikupun mulai tumbuh dengan indah, sampai akhirnya semester genap pada kelas dua pun tiba, hati pikiran mulai ku tata dengan semestinya, ku lenyapkan semua kata-kata tidak bisa dalam benakku, kubulatkan tekadku unuk berubah menjadi yang lebih baik dari hari kemaren.
Ӝ  Ӝ  Ӝ
Akhirnya usahaku tidak sia-sia  aku berhasil mengalahkan kemalasanku utuk menjadi yang lebih baik, walaupun aku tidak menjadi yang terbaik tetapi setidaknya aku bisa memberikan kabar gembira ke pada orang yang telah melahirkanku.masuk kedalam salah satu murid yang baik nilainya. Kujalani pembelajaran kembali seperti biasa tetapi dengan semangat baru. Hari demi hari telah terlewati dengan hati yang riang gembira sampai akhirnya ujian akhir madrasah pun tiba, kusiapkan hal-hal yang akan menjadi pembahasan dalam ujian tersebut mulai dari ujian tulis sampek ujian praktek.
Ӝ  Ӝ  Ӝ
“ bagaimana jika ayah tidak bisa membiayai kamu untuk masuk kuliahmu nak, ayah minta kepada kamu agar belajar yang giat, yang dapat  menjadikan ayah bersemanagt untuk membiayai kamu”. Aku terdiam dan suasana menjadi sunyi ketika ayah berkata demikian dengan hati, perasaan yang sedikit kecewa, maka seketika itu pula aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku harus bisa membanggakan kedua orang tuaku minimal jika aku tidak bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Setiap ujian datang maka setiap waktu itu pula aku teringat kata-kata ayahku, itula yang menjadi semangat tersendiri untuku. Dimana temapt nantinya aku belajar tidak menjadi masalah, tempat tidak berpengaruhkepada pelajaran atau ilmu yang diperolehnya bagiku penuntut ilmulah yang berpengaruh, tetapi semua orang pasti mempunya cita-cita ataupun harapan begitu pula aku keinginanku untuk kuliah di Institut Agama IslamNegeri Surabaya sangatlah kuat, dan aku berharap itu akan terjadi.
Ӝ  Ӝ  Ӝ
Kesibukan para murid kelas akhirpun dimulai, mereka sibuk dengan rencana mereka kedepan tentang dimana mereka akan kuliah, atau dimana mereka akan kerja bahkan siapa orang yang pertama kali mengadakan pesta pernikahan. Aku terdiam merenungi kata-kata yang diucapkan ayah tempo hari, tiba-tiba suara panggilan salah satu guru membuyarkan lamunanku, sesegera mungkin aku melangkahkan kakiku satu persatu dengan hati yang bercampur aduk layaknya permen nano-naro rame rasanya. Sampailah aku didepan kantor, maka yang muncul dalam benaku adalah apa yang terjadi?, apakah aku melakukan kesalahan?  Dan banyak lagi pertanyaan yang seketika itu belum menemukan jawabanya.
” Atus tolong kamu panggikan 10 teman-teman kamu baik yang putri maupun yaang putra yang masuk dalam kategori anak dalam kelas sepuluh besar “. Ku telusuri tiap sudut sekolah kucari satu persatu diantara mereka. Selang beberapa menit kemudian aku kembali ke kantor bersamaan dengan teman-teman,disana akupun tetap  masuk kedalam ruangan yang penuh dengan tanda tanya.
“ kalian dipanggil kesini karena bapak kira kaliam mampu dan layak untuk mengikuti program ini, bapak tahu dalam detik-detik menjelang ujian disamping kalian sibuk memikir ujian kalian juga sibuk memikirkan dimana kalian akan melanjutkan pembelajaran kalian, disini bapaa akan meginformasikan kepada kalian bahwa setiap tahun sekolah kita ini mengikutu program beasiswa dari kemenag RI yang lebih kita dengar dengan Program Beasiswa santri Berprestasi, dan bapak sarankan kalian mengikutinya dan mempersiapkanya. Dari setiap angkatan terdapat muri dari Madrasah kita yang masuk dalam program beasiswa tersebut, dan bapak harap tali silahturahmi denagn kemenag tidak putus sampai disini”.
Bisikan-bisikan mulai terdengar dari sudut-sudut ruangan, bermula dari itu maka terlintas juga dalam fikiranku bahwa inilah jawaban Allah selama ini, mungkin dengan adanya ini aku bisa memberi kebanggaan pada orang tuaku walaupun aku belum tentu masuk didalamnya.
Ӝ  Ӝ  Ӝ
Kabar gembira yang aku peroleh aku bawa dari pondok menuju rumah, dirumah kedatanganku disambut dengan baik oleh orangtuaku, ku kabarkan semua informasi yang telah aku peroleh kepada orang tuaku, dan aku pasrah dengan keputusan keduanya. Dan pada akhirnya mereka memberi respon positif lebih-lebih mereka memberi dukungan penuh terhadap itu semua.            
Ӝ  Ӝ  Ӝ
Syarat untuk mengikuti Progarm Beasiswa Santri Berprestasi memang tidaklah mudah, pada tahap pertama aku harus menyiapkan apa yang disyaratkan kemenag, dengan niat yang baik aku bulatkan tekadku demi orang tuaku, demi guruku dan demi lingkungan disekitarku. Aku sadar bahwa kemungkinan aku masuk dalam program beasiswa santri berprestasi sangat kecil tetapi setidaknya aku bisa mencoba dan memberi kabar gembira dan harapan kepada orang tuaku. Banyak diantara teman-temanku yang mengundurkan diri dari progaram tersebut dengan berbagai alasan salah satu yakni keharusan kembali kepondok dan juga tidak diperbolehkanya menikah dalam proses belajar. Dan sampai akhirnya dari 20 calon yang disarankan oleh guru yang tersisa hanyalah 8 orang, inilah yang dinamakan seleksi alam.
 Meski bukan keinginanku untuk ikut berpartisipasi dalam progaram beasiswa ini tetapi aku akan berusaha untuk dapat menjadi peserta yang setidaknya tidak membuat malu madrasahku. Waktu mengalir layaknya air yang ada disungai, dan seiring dengan berjalanya waktu maka sampailah pada saat dimana tes Program Beasiswa Santri Berprestasi yang diadakan di Asrama Haji. Perjuangan yang sangat terasa ketika perjalanan menuju Asrama Haji, ketakutan yang ada dalam diriku menjadikan kestabilanku berkurang dan yang akhirnya sakit yang kurasa, sesampai aku di tempat tes aku terbaring lemas tak berdaya. Tepat pukul 04:00 aku terbangun oleh ketukan pintu dari  anak kamar sebelah yakni teman sekelasku, akupun segera membangunkan teman-teman dan bersegera mungkin untuk  berangkat ke tempat dimana tes akan diadakan, perjuangan yang kedua yakni ketika bunyi bel terdengar dengan lantangnya sementara aku belum siap dengan peralatan tulis, pengorbanan temanku tak akan pernah aku lupakan dia telah merelakan separuh dari penghapusnya untukku dan juga memberikan pensilnya untuku, pada detik itu aku berdo’a kepada Allah agar semua tema-temanku bisa diterima.
Ӝ  Ӝ  Ӝ
Di rumah,,,,
Kring,,, kring,,,,
Bunyi handphon gembira lagi-lag membangunkanku dalam pelayaran mimpiku, satu pesan diterima “ atus ajak ayah sama ibukamu kemadrasah pada hari mingguya”. Tanpa tau maksud akupun tidur kembali menyambung mimpi yang mesih mengganjal. Pagipun tiba lagi-lagi aku dibangunkan pesan, “ atus selamat ya kamu lolos” tanpa tersadar aku bangun dan membangunkan ayah dan ibuku dan memberi tahu kepada mereka tentang pesan yang aku peroleh. Tangisan, kegembira, sujud syukur, bercampur menjadi satu.  Wujud dari syukunya orang tuaku tampak ketika lima hari seelah itu mereka mengadakan acara besar-besaran yang bertujuan mensyukuri atas apa yang diberikan Allah kepadaku.
Ӝ  Ӝ  Ӝ
Institut Agama Islam Negeri Surabaya sudah didepan mata, ya Allah ternyata kasih sayang_Mu terhadapku sangatlah besar tak sebanding dengan ibadah yang aku kerjakan kepada_Mu. Disini mimpiku akan kuwujudkan menjadi seorang pembisnis yang berlebel Islam. Kehidupan di kampus sanagtlah berbeda dengan kehidupan dipondok, disini aku dituntut untuk berfikir kritis tidak hanya taklid kepada ucapan dosen. Berbeda dengan pembelajaran yang ada dipondok yang menganut pada kitab tanpa ada komentar. Kampus membuka kebebasan berfikir pada mahasiswa, jika dulu di pondok aku hanya menemui bahkan menggunakan kitab yang dalam hal fikih merujuk pada karangan imam syafi’i tapi disini kita ditunjukan bagaimana fikih pada madzhab-madzhab yang lain, walaupun aku mengikuti madzhab syafi’i tetapi aku juga tahu bagaimana fikih menurut imam-imam yang lain, yang menjadikan pikiran ku tidak menjadi dangkal dan juga kritis.
Ini ceritaku, ceritamu?
# All is well

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More