Angin
sepoi-sepoi menari ria di luar sana, lalu masuk tanpa permisi menerobos jendela
tanpa kaca. Seperti bersorak sorai bergembira, berhasil menina bobokan mata
kami yang sudah menguap beruntun dari bangku A hingga Z. Aku duduk persis di
depan guru, perjuanganku menahan mata harus lebih ekstra.
Glodakkkk..
jdukk.. “Aduh,… sakitt”. Suara seseorang di sudut kiri kelas mengaduh
kesakitan. Seseorang yang berbadan tinggi namun kurus kering. Gayanya yang
ketika ia berjalan seakan hendak terjatuh tertiup angin. Ditambah dengan rambut
tipis ikal, konon kata teman-teman SD-nya rambut dia ikal karena pernah
menderita sakit panas selama sebulan.
“Kenapa
nak, habis tahajud tadi malam ya??”. Tanya ibu Ian, seorang guru pelajaran
Akhlak Tasawuf yang dari tadi mengawasinya hingga ia pun terjatuh dari tiang
tangan yang menyanggahnya, sedangkan seisi kelas terbahak-bahak menertawakan
ulahnya. Berkat tertangkapnya dia, kita sembuh dari rasa kantuk.
“Hehehe,
maaf Bu”. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang “mungkin” saja tidak gatal, hanya saja
ia malu dengan kejadian beberapa menit yang lalu.
Pelajaran
pun usai, seperti biasa ibu Ian menutup setiap kali pertemuan dengan motivasi
yang selalu membakar semangat jiwa. “ jangan mengeluh anak-anakku. Meski dengan
segala keterbatasan sekolah kita, kita harus tetap semangat. Sarana bukanlah
satu-satunya penunjang kesuksesan”. Begitulah nasihatnya, kita memang angkatan
ke-2. Angkatan yang masih premature, harus berjuang dengan segala ketidak
nyamanan dan keterbatasan fasilitas.
“Leti,
minggu besok kita jadi main ke rumahmu?” Tanya Ulfa. “Aku terserah teman-teman
aja, aku udah bilang ko ke Ummiku. Katanya boleh”, jawabku datar. Dua langkah
dari bangkuku, dia melangkah meninggalkan kelas. Sekilas aku memperhatikannya.
Tiba-tiba dalam hati berkata, “aku bosan sekolah di sini, orangnya gak seru.
Temen-temennya semuanya pendiem. Gak ada yang asyik, apalagi lihat dia. Lemah
banget sih jadi cowok, gak ada energik-energiknya, apalagi keren” hatiku
mengumpat.
Hari
minggupun tiba, semua teman-temanku sudah berada di halaman rumahku. Tiba-tiba
sahabatku reni mengolok-olokku “Ciee leti, cie adi, siapa tuh yang pake baju
biru, cie pangeran biru”. “ih, apaan seh ren? Emang siapa yang pake baju biru?
Sejak kapan aku dijodoh-jodohin sama adi coba? Jangan bikin gossip ya?” jawabku
ketus. Tiba-tiba aku melangkah kedepan pintu, reni benar. Dia memakai baju biru
dan tiba-tiba hatiku deg-degan, aku malu terlebih lagi ketika reni
mengolok-olokku keras-keras. Tuhan, sejak saat itu aku selalu salah tingkah
dibuatnya, mungkinkah ini pengganti hatiku yang baru. Sosok yang akan menjadi
teman hatiku, untuk melupakan seseorang yang sebulan yang lalu melamar tanpa sepengetahuanku,
namun akhirnya orang tuaku pun tidak menerimanya dengan alasan aku masih kecil.
Maka sejak saat itu aku takut, takut ketika aku harus dijodohkan dengan kondisi
aku belum dewasa. Saat itu aku berdo’a, “Rabby, jatuh cintakanlah aku pada
seseorang yang mungkin bisa mengobati dan memberiku semangat dalam hari-hariku”.
Yup, mungkin saja Do’aku terkabul. Mungkinkah aku jatuh cinta? Entahlah..
Haripun
berlalu dengan cepat, secepat gossip tentang aku dan dia yang menurut mereka
“cocok”. Sejak saat itu, di kelas, di asrama, yang menjadi topik teman-teman
ialah “aku dan dia” dan parahnya lagi gosip ini menyebar luas pada adek-adek
kelas dan guru-guru. Hal ini membuatku tidak nyaman. Yup tidak nyaman sekali.
Dan aku takut, takut suatu hari akan menyakitkanku. Hingga suatu ketika,
keadaan pun berubah 180 derajat, kepala sekolah menyarankan kami untuk
mengikuti ekstra kulikuler, Silat setia hati tepatnya yang membawa perubahan
besar pada dia. Kami dipaksa untuk mengikuti kegiatan itu, menurutnya ini akan
menjadi bekal kekuatan fisik kita suatu hari nanti. Kamipun terpaksa mengikutinya.
Namun tidak bagi dia, sejak saat itu ia rutin olah raga pagi. Ia rutin main
footsal hingga kekuatan fisiknya berubah. Dia tak lagi si tinggi kurus kering
yang hendak tertiup angin. Dia tampil energik setiap saat, ia tampil mempesona
dengan tinggi semampainya. Mulai menjadi anak band dengan suara merdunya. Sudah
tak perlu diragukan lagi soal keaktifannya di kelas. Dia memang telah
“menyilaukan” mata hatiku. Ya, dia memang punya karisma. Dalam diam, aku
mengaguminya.
Waktu
berlalu begitu cepat, sampailah aku di kelas sebelas IPS. Kelas yang penuh
dengan “Cinta membara”, persis seuntai lirik lagu yang kami ciptakan. Tepat di
kelas sebelas ini, rasaku padanya semakin hidup. Sulit untuk aku melupakannya.
Aku tak pernah mengatakan segala rasaku pada siapapun, sekalipun pada teman
dekatku. Tapi entah mengapa, mereka seperti memahami aku memendam “rasa”.
Tibalah saatnya ketika hati ini harus memendam lebih dalam, dan mencoba
menghapuskan segala rasa.
“Ehem,
siapa neh,, yang ketemuan tadi malem??” tiba-tiba temanku Rizky nyeletuk sambil senyum-senyum saat kami
belajar di Lab Komputer. “Siapa? Siapa?” temanku Reni tak kalah penasaran
mendengar celetukannya Rizky. “ah, nanti juga tau. Biar waktu yang menjawab”
timbal Rizky yang bikin tambah penasaran.
Saat
itu aku tak begitu menghiraukannya. Aku tak memahami apa yang mereka bahas.
Namun akhirnya, tak lama setelah kejadian itu aku memahaminya. Dia telah
bersama orang lain. Dia telah lama memendam rasa pada seseorang yang tak lain
adalah temanku sendiri, sejak dia masuk Aliyah. Dan akhirnya malam tertanggal
28 Februari, cintanya terbalaskan. Aku terkulai lemas saat itu, aku tak sanggup
lagi menahan air mata yang dari tadi berkaca-kaca. Aku menangis, inilah kali
pertama aku menetesakn air mata karena Cinta. Air mata sebab cinta yang tak
terbalaskan. Air mata cinta yang mungkin tak kan terlupakan.
Kabar
jadian dia dengan sahabatku menyebar sangat cepat, lebih cepat dengan yang
kubayangkan seperti gosipku tentang aku dan dia. Ini membuatku semakin sesak.
Hari-hari yang kujalani selalu terasa buruk dan semakin buruk. Hingga akhirnya
berimbas pada nilai raporku. Aku jatuh dua kali dalam satu masalah. Karena
Cinta, karena dia.
Aku
selalu berusaha keras untuk melupakannya. Dengan segala kekuatanku, aku bisa
tulus untuk melupakannya. Ya, aku lupa dengan segala rasa yang pernah ada
padanya. Dan ini membuatku semakin bebas. Aku bersahabat baik baik dengannya,
terlebih ketika dia menjadi ketua OSIS dan aku sebagai bendaharanya. Dalam
organisasi, kami saling melengkapi satu sama lain, atau bahkan terkadang curhat
dengan masalah yang menimpaku, dengan bijak sebagai seorang sahabt dia
menasehatiku. Aku mulai mengaguminya. Mengaguminya sebagai sosok sahabat yang
solid di hatiku. Ya, Solid.
Hingga
pada akhirnya, kamipun menginjak akhir kelas 3 Aliyah. Kami berjuang bersama
meraih masa depan yang lebih indah. Berjuang meraih mimpi bersama “Laskar
Pelangi Jilid 2” itulah julukan kelas kami. Dengan berbagai tujuan hidup,
sahabatku Vida meraih Beastudi Etos di UGM, dan aku mendapatkan Beasiswa Santri
(PBSB) di UIN Sunan Ampel. Sebuah mimpi dan rizki yang tak terhingga. Dia? Ya,
dia melanjutkan Tahfidzul Quran di Cianjur bersama 2 sahabtku. Sedangkan Ika?
Dia merantau ke Bandung, mencari pengalaman kerja. Ya, mereka memang sudah
memiliki jalan yang berbeda. Sejak setahun saat kita berpisah, aku mendengar
kabar bahwa mereka tak lagi bersama. Mengharukan sekali kisah mereka. Sejak
ketulusanku untuk melepaskan rasa itu pada dia, aku sangat takjub pada Ika, ia
berubah total menjadi seorang muslimah yang anggun dan dewasa. Akupun sering
terinspirasi olehnya.
Dua
tahun berlalu, hidup memang penuh misteri. 27 Januari 2014, aku mendengar kabar
yang membuat lututku tak berhenti bergetar. Mata yang tak kuasa lagi menahan
air mata. Mendengar kabar yang seharusnya ini menjadi kabar terindah bagi kami,
namun apalah daya. Pahit, dan rasa pahit ini yang mungkin sedang Ika rasakan.
Ika telah menikah tanpa ia mengabari kami. Ia menikah tepat di depan jenazah
ayahandanya. Seketika itu, aku teringat dua tahun yang lalu, tentang kisah Ika
dan dia. Dia yang saat ini masih tekun dengan hafalannya, kitab suci yang
menjadi penyemangat jiwanya. Kisah tentangnya masih masih melekat di hati ini.
Panggil dia, Adi.



0 komentar:
Posting Komentar