Jumat, 27 Juni 2014

KETIKA HATI MENYIMPAN SATU “NAMA”


Angin sepoi-sepoi menari ria di luar sana, lalu masuk tanpa permisi menerobos jendela tanpa kaca. Seperti bersorak sorai bergembira, berhasil menina bobokan mata kami yang sudah menguap beruntun dari bangku A hingga Z. Aku duduk persis di depan guru, perjuanganku menahan mata harus lebih ekstra.

Glodakkkk.. jdukk.. “Aduh,… sakitt”. Suara seseorang di sudut kiri kelas mengaduh kesakitan. Seseorang yang berbadan tinggi namun kurus kering. Gayanya yang ketika ia berjalan seakan hendak terjatuh tertiup angin. Ditambah dengan rambut tipis ikal, konon kata teman-teman SD-nya rambut dia ikal karena pernah menderita sakit panas selama sebulan.
“Kenapa nak, habis tahajud tadi malam ya??”. Tanya ibu Ian, seorang guru pelajaran Akhlak Tasawuf yang dari tadi mengawasinya hingga ia pun terjatuh dari tiang tangan yang menyanggahnya, sedangkan seisi kelas terbahak-bahak menertawakan ulahnya. Berkat tertangkapnya dia, kita sembuh dari rasa kantuk.
“Hehehe, maaf Bu”. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang “mungkin” saja tidak gatal, hanya saja ia malu dengan kejadian beberapa menit yang lalu.
Pelajaran pun usai, seperti biasa ibu Ian menutup setiap kali pertemuan dengan motivasi yang selalu membakar semangat jiwa. “ jangan mengeluh anak-anakku. Meski dengan segala keterbatasan sekolah kita, kita harus tetap semangat. Sarana bukanlah satu-satunya penunjang kesuksesan”. Begitulah nasihatnya, kita memang angkatan ke-2. Angkatan yang masih premature, harus berjuang dengan segala ketidak nyamanan dan keterbatasan fasilitas.
“Leti, minggu besok kita jadi main ke rumahmu?” Tanya Ulfa. “Aku terserah teman-teman aja, aku udah bilang ko ke Ummiku. Katanya boleh”, jawabku datar. Dua langkah dari bangkuku, dia melangkah meninggalkan kelas. Sekilas aku memperhatikannya. Tiba-tiba dalam hati berkata, “aku bosan sekolah di sini, orangnya gak seru. Temen-temennya semuanya pendiem. Gak ada yang asyik, apalagi lihat dia. Lemah banget sih jadi cowok, gak ada energik-energiknya, apalagi keren” hatiku mengumpat.
Hari minggupun tiba, semua teman-temanku sudah berada di halaman rumahku. Tiba-tiba sahabatku reni mengolok-olokku “Ciee leti, cie adi, siapa tuh yang pake baju biru, cie pangeran biru”. “ih, apaan seh ren? Emang siapa yang pake baju biru? Sejak kapan aku dijodoh-jodohin sama adi coba? Jangan bikin gossip ya?” jawabku ketus. Tiba-tiba aku melangkah kedepan pintu, reni benar. Dia memakai baju biru dan tiba-tiba hatiku deg-degan, aku malu terlebih lagi ketika reni mengolok-olokku keras-keras. Tuhan, sejak saat itu aku selalu salah tingkah dibuatnya, mungkinkah ini pengganti hatiku yang baru. Sosok yang akan menjadi teman hatiku, untuk melupakan seseorang yang sebulan yang lalu melamar tanpa sepengetahuanku, namun akhirnya orang tuaku pun tidak menerimanya dengan alasan aku masih kecil. Maka sejak saat itu aku takut, takut ketika aku harus dijodohkan dengan kondisi aku belum dewasa. Saat itu aku berdo’a, “Rabby, jatuh cintakanlah aku pada seseorang yang mungkin bisa mengobati dan memberiku semangat dalam hari-hariku”. Yup, mungkin saja Do’aku terkabul. Mungkinkah aku jatuh cinta? Entahlah..
Haripun berlalu dengan cepat, secepat gossip tentang aku dan dia yang menurut mereka “cocok”. Sejak saat itu, di kelas, di asrama, yang menjadi topik teman-teman ialah “aku dan dia” dan parahnya lagi gosip ini menyebar luas pada adek-adek kelas dan guru-guru. Hal ini membuatku tidak nyaman. Yup tidak nyaman sekali. Dan aku takut, takut suatu hari akan menyakitkanku. Hingga suatu ketika, keadaan pun berubah 180 derajat, kepala sekolah menyarankan kami untuk mengikuti ekstra kulikuler, Silat setia hati tepatnya yang membawa perubahan besar pada dia. Kami dipaksa untuk mengikuti kegiatan itu, menurutnya ini akan menjadi bekal kekuatan fisik kita suatu hari nanti. Kamipun terpaksa mengikutinya. Namun tidak bagi dia, sejak saat itu ia rutin olah raga pagi. Ia rutin main footsal hingga kekuatan fisiknya berubah. Dia tak lagi si tinggi kurus kering yang hendak tertiup angin. Dia tampil energik setiap saat, ia tampil mempesona dengan tinggi semampainya. Mulai menjadi anak band dengan suara merdunya. Sudah tak perlu diragukan lagi soal keaktifannya di kelas. Dia memang telah “menyilaukan” mata hatiku. Ya, dia memang punya karisma. Dalam diam, aku mengaguminya.
Waktu berlalu begitu cepat, sampailah aku di kelas sebelas IPS. Kelas yang penuh dengan “Cinta membara”, persis seuntai lirik lagu yang kami ciptakan. Tepat di kelas sebelas ini, rasaku padanya semakin hidup. Sulit untuk aku melupakannya. Aku tak pernah mengatakan segala rasaku pada siapapun, sekalipun pada teman dekatku. Tapi entah mengapa, mereka seperti memahami aku memendam “rasa”. Tibalah saatnya ketika hati ini harus memendam lebih dalam, dan mencoba menghapuskan segala rasa.
“Ehem, siapa neh,, yang ketemuan tadi malem??” tiba-tiba temanku Rizky nyeletuk sambil senyum-senyum saat kami belajar di Lab Komputer. “Siapa? Siapa?” temanku Reni tak kalah penasaran mendengar celetukannya Rizky. “ah, nanti juga tau. Biar waktu yang menjawab” timbal Rizky yang bikin tambah penasaran.
Saat itu aku tak begitu menghiraukannya. Aku tak memahami apa yang mereka bahas. Namun akhirnya, tak lama setelah kejadian itu aku memahaminya. Dia telah bersama orang lain. Dia telah lama memendam rasa pada seseorang yang tak lain adalah temanku sendiri, sejak dia masuk Aliyah. Dan akhirnya malam tertanggal 28 Februari, cintanya terbalaskan. Aku terkulai lemas saat itu, aku tak sanggup lagi menahan air mata yang dari tadi berkaca-kaca. Aku menangis, inilah kali pertama aku menetesakn air mata karena Cinta. Air mata sebab cinta yang tak terbalaskan. Air mata cinta yang mungkin tak kan terlupakan.
Kabar jadian dia dengan sahabatku menyebar sangat cepat, lebih cepat dengan yang kubayangkan seperti gosipku tentang aku dan dia. Ini membuatku semakin sesak. Hari-hari yang kujalani selalu terasa buruk dan semakin buruk. Hingga akhirnya berimbas pada nilai raporku. Aku jatuh dua kali dalam satu masalah. Karena Cinta, karena dia.
Aku selalu berusaha keras untuk melupakannya. Dengan segala kekuatanku, aku bisa tulus untuk melupakannya. Ya, aku lupa dengan segala rasa yang pernah ada padanya. Dan ini membuatku semakin bebas. Aku bersahabat baik baik dengannya, terlebih ketika dia menjadi ketua OSIS dan aku sebagai bendaharanya. Dalam organisasi, kami saling melengkapi satu sama lain, atau bahkan terkadang curhat dengan masalah yang menimpaku, dengan bijak sebagai seorang sahabt dia menasehatiku. Aku mulai mengaguminya. Mengaguminya sebagai sosok sahabat yang solid di hatiku. Ya, Solid.
Hingga pada akhirnya, kamipun menginjak akhir kelas 3 Aliyah. Kami berjuang bersama meraih masa depan yang lebih indah. Berjuang meraih mimpi bersama “Laskar Pelangi Jilid 2” itulah julukan kelas kami. Dengan berbagai tujuan hidup, sahabatku Vida meraih Beastudi Etos di UGM, dan aku mendapatkan Beasiswa Santri (PBSB) di UIN Sunan Ampel. Sebuah mimpi dan rizki yang tak terhingga. Dia? Ya, dia melanjutkan Tahfidzul Quran di Cianjur bersama 2 sahabtku. Sedangkan Ika? Dia merantau ke Bandung, mencari pengalaman kerja. Ya, mereka memang sudah memiliki jalan yang berbeda. Sejak setahun saat kita berpisah, aku mendengar kabar bahwa mereka tak lagi bersama. Mengharukan sekali kisah mereka. Sejak ketulusanku untuk melepaskan rasa itu pada dia, aku sangat takjub pada Ika, ia berubah total menjadi seorang muslimah yang anggun dan dewasa. Akupun sering terinspirasi olehnya.
Dua tahun berlalu, hidup memang penuh misteri. 27 Januari 2014, aku mendengar kabar yang membuat lututku tak berhenti bergetar. Mata yang tak kuasa lagi menahan air mata. Mendengar kabar yang seharusnya ini menjadi kabar terindah bagi kami, namun apalah daya. Pahit, dan rasa pahit ini yang mungkin sedang Ika rasakan. Ika telah menikah tanpa ia mengabari kami. Ia menikah tepat di depan jenazah ayahandanya. Seketika itu, aku teringat dua tahun yang lalu, tentang kisah Ika dan dia. Dia yang saat ini masih tekun dengan hafalannya, kitab suci yang menjadi penyemangat jiwanya. Kisah tentangnya masih masih melekat di hati ini. Panggil dia, Adi.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More