Nama : Ziyadatur Rizky
Fak/Jur : Syari’ah / Muamalah (1)
Asal PTN : IAIN Sunan Ampel Surabaya
Stairs Of Life
Bismillahirrohmaanirrohim.
“Alhamdulillah”, kalimat ini tidak akan pernah terlepaskan dari setiap jejak langkahku. Sejak kita terlahir di Dunia, hingga saat ini nafas masih bisa berhembus tanpa susah payah.
Meski berulang kali aku hampir saja meninggal dunia karena berada diatas kobaran api, atau terseret ombak besar, atau tenggelam di dalam air. Ahirnya, aku masih hidup hingga saat aku menulis sebuah kisah yang tak terlupakan ini.
“aku inigin menjadi wanita yang tegar” kalimat yang terukir besar pada sebuah Diary kecil pemberian dari ayahku sejak 9 tahun yang lalu.
Bagiku, hidup penuh dengan perjuangan, sehingga aku harus selalu menyiapkan diri untuk apa yang akan terjadi, aku harus bisa menerima dan tidak lari darinya.
Bermula dari keinginan untuk melanjutkan study MTs di Pondok Pesantren. Hampir saja aku tak melanjutkan karena masalah perekonomian. Keluargaku sangat sederhana. Ibu memotivasi ayah untuk tetap semangat. Dan akhirnya aku menempuh study di Pondok dan Alhamdulillah, terus semangat dan berusaha mempertahankan prestasi hingga menjelang wisuda. Meski ditengah perjalanan aku harus mengalami rintangan yang bermacam-macam bahkan mengikhlaskan kepergian ayahku ke Rahmatullah karena sakit parah, dan wisuda tanpa ada orang tua. Hanya terpaku sebatang kara. Aku berusaha tersenyum melihat kebahagiaan teman-temanku bersama keluarga mereka yang utuh.
“kepada siapa kabar berita bahagia ini ku sampaikan? Sedang ayahku tidak ada lagi di alam nyata. apakah aku hanya berbagi bahagia pada diri ini sendiri? Tidak, ibu datang diujung acara. Alhamdulillah, Aku sangat bahagia. Meski akupun tak tau apakah aku akan bisa melanjutkan MA. Aku tidak ingin membebani orang tuaku, hingga membuatku terfikir untuk mencari lowongan kerja. Tapi ibu tidak mengizinkanku untuk itu, ibu tetap bersikeras untuk membiayai sekolahku di MA meski hanya single parent. Karena beliau tak menerima tawaran untuk menikah kedua kalinya. Aku pindah ke pondok yang terkenal sangat ketat dan terkenal dengan Bilingualnya. Meski dalam 1 tahun hanya mampu pulang ke rumah 2 kali, aku menerima dan mulai bersemangat kembali. Dan harus menghafalkan 1002 nadlom alfiyah ibnu malik dalam waktu 2 tahun. Alhamdulillah, aku tetap mempertahankan prestasiku dan bebas dari SPP sekolah. Sedikit mengurangi beban ibu. Dan itu berjalan hingga akhir sekolah MA ku. Bahkan di setiap aku kehabisan uang saku, aku tak berani bilang kepada ibu, Aku yakin Allah tak akan membiarkanku kelaparan. Pasti selalu ada Rizki yang Allah berikan padaku melalui perantara hamba-hambanya yang dermawan. Sejak awal di sana, aku sangat berkeinginan untuk mengikuti beasiswa kuliah di Yaman. Karena di sana, banyak para ulama’ yang menjadi muhadlirnya.
Mungkin belum waktunya aku bisa kuliah di luar negri, ibuku tak mengizinkanku untuk mengikuti tes beasiswa kuliah di Yaman. Terlalu jauh, sedangkan aku perempuan anak pertama yang tak memiliki ayah, aku terlalu nekat untuk pergi kesana. Jadi, aku merelakan untuk tetap di Pondok.
Apakah aku berhenti di jenjang MA? Tidak, ibuku masih ingin aku melanjutkan study hingga S-1 minimal. Sungguh ibuku seorang wanita yang pantang menyerah, meski aku tau ibu menyembunyikan sakitnya dari aku, selalu tampak terlihat nafasnya terngah-engah ketika mengunjungiku di pondok. Aku sangat tidak tega melihat kondisi ibu.
Alhamdulillah, seusai ujian nasional, kesempatan mengikuti tes PBSB datang padaku. Dan ini sangat mendadak sekali, hingga membuat ibuku mondar-mandir mengurusi persyaratan untuk mengikuti tes. Aku lagi-lagi tidak tega melihat ibuku lelah dengan kondisinya yang lemah, tapi aku tak bisa lakukan apa-apa karena terikat peraturan yang membuatku terpenjara tak bisa kemana-mana. Ibuku yang sabar terpaksa aku harus merepotkannya. Karena inilah kesempatanku untuk bisa melanjutkan S-1 tanpa harus menyusahkan ibu lagi.
Aku memilih UIN SUKA. Karena aku sangat menyukai Al-Qur’an, Tafsir dan Hadits. Dan berkeinginan untuk Tahfidzul Qur’an. Sangat bersemangat, dan terus belajar menjelang tes PBSB di Asrama Haji SukoliloSurabaya. Bersama teman-temanku yang lainnya, kami berangkat kesana. Aku merasa banyak sekali rintangan menjelang tes PBSB hingga membuatku yakin, bahwa perjuangan ini tak akan sia-sia. Aku dan teman-teman pasti lulus tes beasiswa ini.
Semasa menunggu hasil, aku dan teman-teman dikirim ke pelosok-pelosok desa untuk IMA (Imtihanul Amaly) mengajar di MI/SD di setiap desa. Pengalaman yang sangat menyenangkan selama 1 bulan lebih.
Saat pertengahan IMA, aku dan teman-teman selalu mencari hasil tes PBSB. Setelah menunggu beberapa hari, ternyata hanya 3 dari temanku yang lulus PBSB. Dan mungkin aku harus rela, aku tidak termasuk dari ketiga orang tersebut. Tetap semangat pesan dari ibuku.
Pada akhirnya aku mengabdi di Pondok menjadi Pengurus Sekretaris Pusat. Yang harus membuatku terkurung di kantor bersama tumpukan kertas-kertas, karena santri putrid di Pondok itu mencapai 2000 jiwa. Jadi, mengurusi data-data ribuan santri. Aku sangat senang, karena banyak sekali pengalaman dan pelajaran yang aku dapat dari sana, di samping itu, aku kuliah di lingkungan pondok itu juga, sesuai yang aku inginkan, Fakultas Ushuluddin, jurusan Tafsir Hadist. Untuk pergi ke kampus, aku harus mengenakan “Tirai Cadar Hitam”. Karena mungkin disana masih terlalu Salafy, sehingga ketika kita berada di lingkungan yang terdapat lawan jenis, kita harus memakai cadar, terasa agak gerah dan sulit bernafas. Aku menikmati masa kuliah itu, banyak terjadi kejadian unik. Sebagai kesempatan berharga bagi teman-teman mahasiswi jika tidak bisa hadir di kelas, untuk menyuruh teman yang lainnya untuk menggantikannya, secara tidak wajah tidak terlihat, hanya mata saja. Atau ketika dosen mengabsen, kita bersuara 2 atau 3 kali menyamar sebagai teman-teman yang tidak hadir untuk menjawab panggilan absen.
Di tengah masa kuliahku, aku mengetahui kondisi ibuku yang kurang baik, kesehatannya terganggu lagi. Aku mulai bingung, apa yang bisa aku lakukan dalam penjara suci ini? Aku ingin meringankan beban ibu untuk membiayai sekolah adikku juga.
Aku mulai mencari informasi mengenai beasiswa kuliah, aku berkeinginan untuk pindah dan mencari beasiswa. Secara sembunyi-sembunyi aku lakukan itu, aku tak ingin ada yang tau, karena aku diharapkan untuk menjadi sekretaris di pondok hingga 4 tahun kedepan, aku diharapkan untuk tidak meninggalkan pondok oleh Ro’isah Ammah.
Ketika Ro’isah Ammah mengetahui kondisi ibuku, ia menjadi tidak tega pula melihatku yang terasa berat untuk bertahan di pondok. Aku selalu meminta permohonan izin pindah agar aku bisa kerja atau mencari beasiswa. Antara Khidmah pada Pondok dan Khidmah terhadap Ibu, mana yang harus aku dahulukan?
Aku terjerat dalam dilema, tak tau harus pilih yang mana, akhirnya sahabatku menawariku untuk mencoba mengikuti tes PBSB yang kedua kalinya, aku agak ragu, karena aku tau tes PBSB itu tidaklah mudah. Sesuai dengan yang telah aku alami 1 tahun yang lalu.
Akupun tetap menerima tawaran itu, dengan memohon yang terbaik. Jika memang memang aku lulus tes PBSB, mungkin yang terbaik adalah pindah, tapi jika tidak lulus untuk kedua-kalinya lebih baik aku tetap berkhimah dipondok hingga 4 tahun kedepan.
Ibuku pasrah, tidak bisa mengurusi persyaratan-persyaratan untuk tes, yang megurusi semua persyaratan adalah ayah sahabatku. Sungguh aku tidak bisa berharap besar, aku takut kecewa lagi. Pada saat ini timbul permasalahan di kantor. Karena seluruh pengurus pusat mengetahui akan perpindahanku jika aku mengikuti PBSB. Mereka tak bisa mencegahku, karena ini adalah hakku. Dan dalam hati inipun sebenarnya terasa berat karena aku tak ingin meninggalkan kantor. Aku menjadi pendiam dan tetap menyelesaikan tugas-tugas di kantor, dan tetap masuk kuliah seperti biasanya.
Menejelang tes, aku sama sekali tak menyiapkan apa-apa, hanya berbekal do’a dan buku catatan kecil yang aku gunakan untuk mencatat hal-hal penting. Sungguh dalam posisi yang benar-benar pasrah. Aku memohon izin sebelum pemberangkatan pada keamanan pondok yang sangat sulit untuk mendapatkan izin darinya. Ia menanyakan alasan kami untuk tes PBSB hingga akar-akarnya, setelah perjuangan lama, akhirnya kami mendapatkan izin untuk berangkat ke Sukolilo. Dan kemudian berangkat naik angkot bersama sahabatku, kami memilih berangkat sendiri daripada mengikuti rombongan mobil yang lainnya.
Sesampainya di sukolilo, sudah larut malam, kami menginap di Masjid. Dan sesekali membuka buku pelajaran. Di temani dengan nyamuk-nyamuk. Kami tidak bisa menginap di dalam Asrama Haji karena tidak membawa uang banyak untuk membayar sewa.
Hingga keesokan hariya, aku dan sahabatku mempersiapkan diri untuk tes. Untuk saat ini, aku memilih IAIN Sunan Ampel Surabaya, karena dekat dengan rumahku di Gresik. Dan juga ambil jurusan Muamalah, karena aku ingin menjadi Santripreneur.
Pada waktu tes, aku terdiam dengan tenang mengerjakan soal-soal sendiiri. Tak pedulikan orang-orang di sampingku. Baru beberapa menit, perutku terasa begitu sakit, hingga aku mempercepat mengerjakan soal kemudian lari ke masjid. Padahal waktu mengerjakan masih sangat lama. Untuk selanjutnya aku mengikuti tes dengan lancar.
Ketika kembali kepondok, aku tak pernah mengungkit masalah tes PBSB. Aku kembali kuliah bercadar seperti biasanya, sahabatku sudah tidak bersemangat lagi untuk kuliah di Pondok. Dia sangat berharap untuk lulus tes PBSB. Sedangkan aku tetap dalam posisi pasrah. Justru aku berubah keinginan, aku rela jika tidak lulus PBSB. Karena aku ingin meneruskan pengabdian. Dan tak ingin meninggalkan LPM di kampus.
Aku pun tidak mencari info tentang pengumuman santri yang lulus PBSB. Justru sahabatku yang susah payah mencari. Aku tetap saja berangkat kuliah bercadar. Tiba-tiba sahabatku datang ke depan kelas dan memaksaku untuk izin keluar kelas. Akupun menurutinya, dan menghampirinya yang telah sembab matanya. Ia menangis. Dan menyampaikan kabar kelulusanku pada tes PBSB. Sedangkan dia tidak lulus. Hatiku tak bisa merasakan bahagia, karena aku harus terbebani dengan dengan pengabdianku. Siapa yang akan menggantikanku? Dan sahabatku tidak lulus. Hampir saja aku tak mengambil kesempatanku mengikuti PBSB ini. Karena aku tidak ingin meninggalkan pondok. Setelah di musyawarahkan oleh keluarga, akhirnya keputusan terakhir adalah mengambil kesempatan ini, dan pindah ke Surabaya.
Alhamdulillah, ya Allah, setelah kebimbangan ini berakhir dan aku memohon kerelaan pihak kantor untuk pindah dan aku mengajukan seorang pengganti.
Aku baru tersadar akan ibuku yang mengharapkanku memperoleh beasiswa, aku terlalu terfikirkan urusan pondok hingga sedikit terlupa dengan harapan ibu.
Bismillahirrohmaanirrohiim,…. Aku berangkat matrikulasi ke Hotel Delta Sidoarjo. Dan kemudian tinggal di Pesmi bersana teman-teman PBSB lainnya, kami membentuk keluarga baru.
Sungguh seperti mimpi yang melelahkan. Aku sedikitpun tidak menyangka bisa lulus PBSB. Ini adalah mimpi, rasanya masih seperti mimpi. Alhamdulillahi robbil ‘alamin
Ayah,..
Aku telah meraihnya
Meski hanya ada ibu, tapi kami yakin
Allah bersama kita
Allah yang maha kuasa
Telah tuhan anugrahkan padaku
Seorang ibu yang begitu tegar
Ayah,
Aku pasti bisa menjadi seperti ibu
Atau bahkan lebih baik lagi
Hidup penuh dengan perjuangan,
Manis pahit sudah menjadi bagiannya,
Jika tak demikian, hidup akan terasa hambar,
Nikmatilah dan syukurilah apa yang terjadi,
Buat hidupmu lebih bermakna,
Dengan meniti jalan yang benar
Surabaya, 30 November 2012



0 komentar:
Posting Komentar