Mengukir Sejarah?
Oleh: Indana Zulfa
Mahasiswi Semester I, IAIN Sunan Ampel Surabaya
Siapakah aku? Aku bukanlah orang yang dikenal oleh banyak orang, tapi sejarah telah mengukir namaku untuk bergabung di organisasi besar, yaitu CSS Mora.
Berawal dari orang tua yang telah membesarkanku dan membiayai segala keperluan hidupku. Berangkat dari situlah, aku harus memeberikan yang terbaik untuk mereka. Bagaimanapun caranya, aku harus berusaha dengan keras, agar mereka tidak pernah akan merasa kecewa karena telah membesarkanku. Segala usaha telah mereka curahkan agar nantinya aku menjadi orang yang lebih baik dari mereka, dan itulah memang harapan setiap orang tua.
Terlahir di desa, bukan berarti aku tak bisa ke kota. Menjadi santri, bukan berarti aku tak bisa menjadi mahasiswa. Semuanya telah diatur oleh Yang Maha Kuasa, tinggal kita sekarang yang harus berusaha dan berdo’a. Dan harus selalu ingat, ”Man jadda wajada…!!!!!”
Bismillahirrohmanirrohim…..
Ku langkahkan kaki ini menuju penjara suci yang akan membawaku mengarungi indahnya samudera ilmu, meski nantinya akan terdapat ombak yang menerpa, aku akan tetap berlayar mengarunginya. Meski pada awalnya pesantren bukanlah pilihan pertamaku, tapi karena orang tua ridlo, maka itulah jalan yang ku pilih. Dan aku benar-benar tersadar bahwa itulah pilihan yang terbaik, ketika ku melihat seorang yang lulus dari pesantren lebih bermanfaat dan ditunggu masyarakat untuk segera mengamalkan ilmu yang telah diperoleh. Apalagi di desa, tempat dimana aku dibesarkan, aku merasa terpanggil untuk berkhidmat setelah aku tamat dari pesantren.
Dengan dibekali ridlo orang tua, aku mantapkan diri untuk tholibil ilmi di pesantren yang jarakhya tak begitu jauh dari tempat dimana aku tinggal bersama keluarga tercinta.
Al-Ittihad, itulah nama pesantren yang sampai sekarang tetap membekas dan akan selalu terukir di hati. Karena pesantren inilah, salah satu syarat untuk mendapatkan beasiswa dapat tewujud. Dan disinilah tempatku menempuh ilmu mulai dari tamat MI hingga lulus aliyah. Banyak sekali kesan dan pesan yang ku peroleh dari menjalani hari-hari di pesantren ini, di antaranya aku dapat bertemu dengan asatidz yang dengan semangatnya mengajarkan ilmu yang mereka miliki, aku bisa merasakan indahnya kebersamaan dengan para rekan yang awalnya aku sama sekali tak mengenal mereka, belajar untuk qona’ah, apalagi ketika kiriman dari orang tua telat, dan salah satunya lagi……..^_^…
Tapi sayangnya semua itu sudah menjadi kenangan.
PBSB?
Pertama kali aku mendengarnya ketika aku hampir melangkahkan kaki dari aliyah. Yakni atas saran seorang guru yang sampai kini tak kan pernah ku lupakan jasanya. Nasihat-nasihatnya diberikan untuk ku tatkala aku tak semangat untuk melanjutkan study ke perguruan tinggi. Aku bingung pada waktu itu, di dalam otak ku hanya terpikirkan, “Bagaimana orang tuaku mendapatkan uang untuk biaya kuliahku?, sedangkan aku memiliki empat orang adik, yang mereka semua masih sekolah”. Ternyata lewat beliau lah, Alloh memberikan petunjuk Nya kepadaku. Inilah suatu bukti bahwa,” Innalloha yatakaffalu litholibil ilmi firrizqy”.
Bersama lima belas teman ku, ku beranikan diri untuk bergabung dengan mereka untuk mengikuti tes yang diikuti oleh ratusan santri yang tersebar di pelosok negeri ini. Begitu terasa kecilnya aku, ketika aku harus berkompetisi dengan mereka. Terlintas rasa kurang percaya diri, minder, campur aduk seperti gado-gado. Tapi satu pesan dari ibu ku yang selalu ku ingat ketika itu,” Alloh akan selalu bersamamu dan adik pasti bisa”. Dan aku yakin, doa seorang ibu itu pasti mustajabah dan jika baik, insya Alloh akan dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Dan itulah yang membuatku yakin, kalau aku pasti bisa.
Tapi, ketika memasuki ruang tes, hatiku menciut karena melihat betapa banyaknya santri yang terlihat sangat berintelektual dan semangat menggebu-gebu untuk mengerjakan soal yang akan diberi. dan sekali lagi aku terasa tertinggal jauh dari mereka. Ada peristiwa sederhana yang terjadi, namun selalu ku ingat, yakni ketika akan memasuki ruang tes, salah satu dari ke empat teman ku yang memilih IAIN Sunan Ampel tidak memiliki penghapus, yang itu adalah salah satu dari hal yang seharunya dibawa oleh setiap calon penerima beasiswa. Tanpa berpikir panjang aku memotong penghapus ku menjadi dua bagian, yang salah satunya ku peruntukkan untuknya. Alhamdulillah, ternyata aku dan teman ku tersebut lolos dalam seleksi PBSB. Meskipun itu adalah seperti hal yang sepele, tapi bagiku, itu adalah salah satu rahasia Alloh yang sering tak terpikirkan dan menjadi suatu rahasia besar.
1 Juni 2012, adalah tanggal yang ikut menjadi tanggal bersejarah dalam hidupku. Tanggal diumumkannya siapa saja yang lolos dalam tes PBSB. Melihat banyaknya peserta yang mengikuti dan sepertinya sangat menguasai soal, harapanku untuk lolos dalam tes itu sangat minim. Hingga akhirnya aku mempunyai pemikiran, jika tak lolos, aku akan mondok dan tak kuliah, seperti yang diinginkan ibuku pada awalnya. Namun, Alloh berkehendak lain, malam harinya aku dipanggil ustadzah di pesantren, aku bingung, karena aku merasa tidak melakukan pelanggaran ketika itu. Ketika ku memasuki kantor, aku disambut dengan senyuman, dan beliau langsung memberikan selamat. Dan satu yang sangat istimewa, yang jarang sekali santri-santri lain memperolehnya, beliau memelukku, dan itu adalah suatu kebanggaan tersendiri bagiku.
Aku tak menyangka, hal ini Alloh percayakan terhadapku, amanat yang bagiku sangat berat. Tak perlu dibayangkan karena ini adalah kenyataan, “ aku menggunakan uang rakyat????? dan ini bukanlah hal yang sepele…”
Ini harus benar-benar dijalankan sesuai dengan prosedur yang telah ada., agar ilmu yang ku dapat pun menjadi ilmu yang bermanfaat dan tidak mengecewakan rakyat negeri ini yang telah membiayai study ku…
Bismillahirrohmanirrohim….. tafaqquh fid din adalah niat yang harus harus selalu aku pegang dengan erat dan tak akan boleh ku lepaskan.
Tanpa pikir panjang, aku segera menghubungi orang tuaku, dan tak terasa air mataku secara spontan keluar ketika aku mengatakan kabar bahagia itu. Dan yang membuat ku bingung, orang kedua yang langsung ku beri tau adalah ……^_^…..
Dan aku langsung tersentak ketika aku diingatkan teman ku, “ sujud syukur!!!!”,
Itulah kesalahanku yang hingga kini terngiang-ngiang dipikiranku. Hal terpenting yang sering terlupakan.
Ya Alloh…………… ampuni hamba Mu ini…
Tidak boleh merasa menjadi yang terhebat, itu adalah prinsip yang selalu ku pegang, karena masih sangat banyak, orang yang jauh lebih hebat berapa kali lipat dariku diluar sana. Tapi bukan berarti aku tetap berdiam diri dengan keadaan yang ada.
Dan itu terasa sangat terbukti, ketika aku harus mengikuti matrikulasi bersama rekan-rekan yang kini berproses bersama-sama di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Banyak sekali hal-hal yang bisa ku buat sebagai motivasi untuk bisa menjadi lebih baik kedepannya. Dan pada saat itulah, rasa penyesalanku mencapai tingkat yang lumayan tinggi, “kenapa aku dulu tak belajar dengan giat di pesantren?” aku merasa sangat tertinggal dengan mereka, apalagi ketika ku tau terdapat salah satu temanku adalah sang juara nasional baca kitab kuning, Subhanalloh………..
Ibarat berjalan dari Surabaya dan tujuannya adalah Malang, teman-teman sudah berada di Pasuruan dan aku masih di Sidoarjo……
Lantas apa yang harus ku lakukan??? Ini adalah pertanyaan yang jawabannya harus sebisa mungkin ku lakukan,,,
Hati kecil ku pun berbisik, “ kamu pasti bisa !!!!”,
Dan aku bertanya pada diriku sendiri, “ Tapi kapan???”
Tapi yang terpenting adalah aku harus semangat dan bersungguh-sungguh serta tidak lupa untuk berdo’a. Ada yang terselip… dan juga harus selalu mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Alloh.
Memang, mengarungi samudera ilmu di bangku perkuliahan, bagiku bukan semudah membalikkan tangan. Banyak sekali hal yang sebelumnya tak pernah ku jumpai ketika ku berada di pesantren. Disamping belajar di pesantren, aku dulu juga bersekolah formal, tapi perbedaan yang ada sungguh mencolok antara lingkungan yang ada di kampus, yang juga berada di kota besar dengan pesantren ku dulu yang apalagi berada di desa. Ibarat orang yang katrok, itulah aku. Orang dari desa yang tiba-tiba saja harus hidup di kota besar. Seperti sebuah mimpi yang mendadak menjadi sebuah kenyataan.
Jauh dari orang tua, itulah yang ku rasakan saat ini, meski tak sejauh teman-teman yang berasal dari Medan, Palembang. Padang, maupun Sulawesi…
Tapi bagiku, Malang Surabaya sudah cukup memakan waktu. Jauh dari orang tua pun, bukan berarti ini adalah sebuah kesempatan untuk melakukan hal yang diinginkan dengan seenaknya sendiri. Tapi, ini adalah uji nyali rasa hormat kita yang sesungguhnya terhadap orang tua.
Sejarah juga telah mengukir namaku di Perguruan Tinggi ini, rasanya akan sangat berdosa jika aku tak bersungguh-sungguh dalam belajar. Dengan tidak menghilangkan tradisi yang ada di pesantren, ini adalah salah satu cara yang ku tekankan pada diriku sendiri untuk tetap semangat dalam menempuh ilmu di IAIN Sunan Ampel ini. Harus bisa memilah dan memilih hal-hal yang baik, mungkin akan terasa sangat sulit, jika aku dulu tidak pernah merasakan indahnya belajar di pesantren.
Banyak sekali hal-hal yang terindah yang Alloh berikan padaku, dan ini adalah bagian yang menempati urutan yang cukup penting, yakni bisa kuliah dengan mendapatkan beasiswa. Di samping aku bisa semangat, orang tuaku pun tinggal memikirkan biaya study ke empat adik ku.
Dan inilah waktuku untuk berproses, bergabung dengan organisasi besar yakni CSS Mora dan atas izin Alloh pun aku bisa bersama-sama dengan rekan-rekan seperjuangan menyanyikan Mars CSS Mora,
Genggam tangan satukan tekad
Tuk meraih mimpi
Saatnya santri gapai prestasi
Untuk Negeri ini
Satu padu kita bersama
Tuk menggapai cita
Langkahkan kaki tetapkan hati
Demi bumi pertiwi
Bangkitlah kawan wujudkan impian
Perjuanganmu kan selalu dikenang
Bangkitlah kawan tuk kita buktikan
Pesantren kita selalu di depan
Bersama CSS Mora
Salam, loyalitas tanpa batas.



0 komentar:
Posting Komentar