MY
SUCCES STORY
*Laila
Kini
aku telah menuntut ilmu di IAIN Sunan
Ampel Surabaya. Tak pernah terpikir olehku akan menjadi kenyataan dapat
menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi dengan beasiswa. Mungkin jika tidak
mendapat beasiswa, aku tidak akan kuliah. Bahkan dulu waktu lulus tsanawiyah,
aku tak berniat untuk dapat melanjutkan sekolah ke aliyah. Karena keadaan orang
tua yang kurang mampu untuk dapat membiayai sekolahku. Mereka hanya dapat membiayai
untuk menuntut ilmu di pondok.
Kemudian guruku menawarkan beasiswa sekolah
dan pondok. Awalnya aku ragu, apakah aku dapat lulus tes beasiswa ini.
Sementara aku belum pernah mengenyam pendidikan pondok sama sekali sebelumnya.
Kemudian aku belajar pada pak de yang jadi seorang guru ngaji dengan kakak
sepupuku yang waktu itu juga ditawari oleh guru kami untuk beasiswa ini.
Rasanya asing sekali dengan kitab-kitab ini, warnanya kuning dan tanpa harakat.
Akhirnya
dengan izin dan do’a kedua orang tua aku berangkat tes dengan saudara sepupu
dan diantar oleh pak de. Banyak yang tak kumengerti dalam soal tersebut, tapi
sedikit-sedikit dapat kumengerti, karena aku pernah mempelajarinya ketika
berada di MTs dulu. Tes tulis terdiri dari dirasah islamiyah dan bahasa arab,
dan Alhamdulillah aku dapat mengerjakan. Kemudian tes lisan terdiri dari tes
baca al-Qur’an, qiroatul kitab, dan tes wawancara. Tes baca al-Qur’an dapat
terlewati dengan mudah, tapi ketika tes baca kitab aku tidak mengerti sama
sekali. Dulu pernah belajar sedikit tentang nahwu shorof ketika masih di madrasah
ibtida’, tapi itu hanya sedikit dan belum cukup untuk menjadi bekal dalam
membaca kitab. Aku pasrah, apapun hasilnya nanti aku akan menerimanya.
Pengumuman
hasil tes dibagikan beberapa hari setelah test dilaksanakan. Pengumuman
tersebut diambil langsung ke rumah kepala sekolah. Kami mengambil hasil ujian
tersebut ke rumah kepala sekolah. Kepala sekolahnya ternyata seorang wanita.
Kami masing-masing diberi sebuah amplop yang berisi hasil test masuk sekolah.
Aku tidak berharap banyak untuk dapat lulus test ini. Walaupun lulus, jika
kakak sepupuku tidak lulus, maka aku tidak akan masuk ke sekolah tersebut.
Karena kami selalu bersama, dan orang tua kami akan khawatir apabila kami tidak
hidup berdua. Sedikit cerita tentang kakak sepupuku. Dia seumuran denganku dan
cantik. Dia pintar, dan dari dulu kita selalu berdua, belum pernah berpisah
sama sekali. Mulai dari kecil, masuk RA, MI, dan MTs selalu bersama, tapi
walaupun bersama kami tidak terlalu akrab. Kembali lagi masalah amplop
pengumuman. Amplop tersebut dibuka dan isinya betapa jelek nilaiku, tapi yang
ku herankan adalah aku masih tetap lulus dan dapat menuntut ilmu di MA
Al-I’dadiyyah Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang bersama kakak sepupuku lagi.
Kami diberi kesempatan untuk belajar di sini walaupun nilai kami jelek, tapi
harapannya akan menjadi lebih baik dan memperbaiki nilai-ninlai yang jelek.
Di
dunia ini tak ada yang gratis, begitu juga beasiswa ini. Aku mendapat beasiswa
tapi dengan syarat harus memperoleh nilai yang bagus dan menghafal al-Qur’an.
Kemudian diadakan kontrak prestasi yang ditulis di atas kertas, istilahnya
hitam di atas putih. Awalnya ketika mendengar itu rasanya seperti berat sekali,
aku takut tidak dapat menjalankannya. Tapi apapun yang terjadi aku hanya
menjalaninya, apapun itu semoga barokah.
Katanya
masa putih abu-abu adalah masa yang paling menyenangkan, memang betul dan aku
mengalaminya sendiri. Masa itu masa-masa yang menyenangkan, bercanda dengan
teman-teman, melewati masa-masa susah dan senang bersama-sama. Teringat ketika
ada lomba, walaupun dalam perlombaan kalah, tetap semangat dan bangga. Karena
usaha yang dilakukan untuk mencapai itu dengan kerjasama, susah bersama dan
senang juga bersama. Tak hanya lomba, di kelas ketika tidak ada ustadz salah
satu dari kami maju untuk memimpin belajar bersama. Begitu juga ketika di
pondok, setiap malam diadakan taqror atau belajar bersama-sama di aula. Kadang
kita belajar bersama-sama, dan kadang salah satu teman yang pintar, memimpin
untuk berdiskusi bersama.
Perjalanan
kelas satu masih dalam masa-masa pengenalan dengan pelajaran yang masih asing
di mataku, dan teman-teman yang ternyata ada banyak yang berlatar belakang
tidak dari pondok pesantren. Jadi kita semua belajar bersama-sama, dan ada yang
dari pondok mengajari anak yang belum bisa. Lambat laun aku mulai dapat
mengerti pelajaran-pelajaran yang dulu terasa asing, dan nilaiku lebih baik
dari dulu. Begitu juga seterusnya, nilaiku semakin baik. Kelas satu dan kelas
dua ku lalui dengan semangat yang kadang naik dan kadang turun. Tapi kadang di
kelas aku kurang dapat mengiku penjelasan ustadz dengan baik, kadang penyakitku
kambuh ketika pak ustadz menjelaskan. Yaitu ngantuk, jadinya guru menjelaskan
dan murid tidur. Mungkin karena kurangnya interaksi antara murid dan ustadz,
sehingga metodenya hanya satu arah dan murid yang mendengarkan saja tidak
efektif sehingga terserang ngantuk. Berbeda dengan metode yang ada di kampus,
yaitu mahasiswa yang dituntut harus aktif. Membuat makalah, mencari refrensi,
membaca banyak buku, presentasi, dan di kelas juga harus aktif. Jadi tidak akan
sempat mengantuk, kecuali aku. Walaupun ada dosen yang sedang menjelaskan dan
aku sudah duduk di depan, tetap saja kalau sudah ngentuk rasanya tidak bisa
ditahan. Mungkin masih terbawa kebiasaan pondok dulu yang sering mengantuk.
Teringat dulu ketika ngaji, sering kali tertidur. Hal ini karena kecapekan
sekolah waktu siang hari, kemudian ketika mengaji tidak tatap muka langsung,
sehingga membuka banyak kesempatan untuk tidur. Dan ketika ngaji dulu tidak ada
season
Tanya
jawab, kalau menurut dosen-dosen kebanyakan santri itu menjadi obyek saja,
yaitu posisinya selalu menerima, harus tawadhu’ terhadap pak yai. Ketika di
kampus, berbeda sekali dengan ketika berada di pondok. Ketika di pondok seorang
santri diharuskan untuk selalu tunduk dan tawadhu’ kepada pak yai, tapi ketika
sudah menjadi mahasiswa hal itu tidak diharuskan lagi, bahkan kita bisa
mengkritik dan membantah pendapat dosen, tapi harus dengan argument yang logis
dan akurat.
Tak
terasa sudah kelas tiga. Banyak perguruan tinggi yang promosi ke sekolah, baik
itu perguruan tinggi negri maupun perguruan tinggi swasta. Semua sibuk dengan
keinginan untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi atau kuliah. Teringat
ketika salah satu putri kyai Abdurrahman wahid atau lebih dikenal gus dur yang
namanya mbak Yeni berkunjung ke sekolah. Beliau member banyak motivasi, salah
satunya adalah kita disuruh menulis cita-cita kita dalam waktu yang akan
datang. Ketika itu aku menulis ingin dapat belajar di universitas dengan gratis
tanpa bayar. Karena tidak mungkin rasanya jika orang tua akan membiayai
kuliahku. Sering sekali aku waktu aliyah aku mendapatkan motivasi-motivasi yang
membangun, entah itu dari para ustadz ustadzah ataupun seorang trainer. Dan
dulu ketika melihat orang member nasihat atau motivasi aku membayangkan aku
bisa menjadi seperti mereka, dapat member motivasi dan membari semangat yang
membangun. Semua tangan bertepuk tangan ketika aku memberi sebuah motivasi,
membayangkannya sangat menyenangkan. Tapi apakah aku bisa mencapainya,
sementara dapat kuliah saja masih belum jelas. Teman-temanku ada yang sudah
daftar kuliah dan dibantu oleh ustadz. Ada yang melalui jalur undangan, ada
juga yang melalui jalur PMDK. Aku terserang kegalauan. Aku ingin dapat kuliah.
Tapi bagaimana caranya. Aku mencari-cari informasi tentang beasiswa dan
Tanya-tanya kepada ustadz. Ada beasiswa yang ingin aku ikuti, yaitu beasiswa
dari kemenag. Aku berharap dapat memperoleh beasiswa itu. Aku meminta izin
kepada orang tua untuk mengikuti test ini, kalau berhasil Alhamdulillah dan
kalau tidak berhasil aku siap dipondokkan lagi. Dan orang tua memberi izin
asalkan aku bersama dengan saudara sepupuku itu. Kami pun mencari informasi
tentang beasiswa ini dan melengkapi persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi.
Dengan bantuan orang tua dan pak ustadz yang mendaftarkan test, kami berharap
bisa lolos. Setelah ujian akhir nasional dan ujian yang lain-lainnya, akhirnya
hari test pun tiba. Test ini diadakan di asrama haji Surabaya, seluruh santri
dari jawa timur kumpul di sini menjadi satu. Test beasiswa ini diadakan di
seluruh Indonesia di profinsi masing-masing. Aku berangkat test dengan kakak
sepupu dan seorang temanku. Awalnya kami bingung jika berangkat pagi apakah
tidak telat, tapi jika kita berangkat sebelum hari test mau menginap di mana
kita. Alhamdulillah setelah mencari-cari ada salah seorang adik kelas yang
dapat membantu. Dia mempunyai kakak di Surabaya, kakaknya juga salah seorang
yang mendapat beasiswa ini di ITS Surabaya. akhirnya kita berangkat siang
setelah berpamitan dengan bu nyai. Bismillah semoga berhasil.
Surabaya
diguyur hujan ketika kita menjalankan test. Melihat peserta lainnya rasanya
minder. Mereka terlihat hebat-hebat dan luar biasa, sementara aku hanya
pas-pasan. Tapi apapun yang terjadi kami tetap harus mengikuti test tersebut.
Aku test bersama kakakku di IAIN sunan ampel, sedangkan temanku yang satunya di
UIN sunan kalijaga Jogjakarta. Test usai dan pengumuman dapat dilihat melalui
internet, setelah test kami langsung kembali pulang ke jombang. Karena dari
Surabaya busnya melewati rumah, maka aku tidak ke pondok dan langsung turun di
mojoagung saja bersama kakak sepupuku. Sampai di rumah sudah malam.
Hari
demi hari berlalu, dan hari itu tibalah hari pengumuman. Aku pergi ke warnet
dan melihat pengumuman. Apakah aku akan berhasil. Setelah mencari-cari,
ternyata tidak ketemu. Yasudahlah mungkin aku belum beruntung. Kemudian aku
pulang. Selang beberapa hari ada temanku tiba-tiba sms dan memberiku selamat
atas keberhasilan dalam test pbsb ini. Aku belum percaya tapi aku tidak
memeriksanya di internet. Karena diketahui yang lolos test ini hanya aku, aku
pun tak berniat untuk mengambil test ini. Karena dari dulu aku selalu bersama
dengan kakak sepupuku, maka jika berpisah orang tua pasti akan khawatir.
Teringat ketika boyong bu nyai memberi nasihat untuk ke STAIN tulungagung.
Akhirnya kami mencoba untuk ikut daftar mengikuti bidik misi di STAIN
tulungagung. Kemudian kami mulai melengkapi beberapa persyaratan yang
diperlukan, ada yang harus di lengkapi di sekolah juga, jadi kami pergi ke
jombang mengurusi persyaratan test. Ketika beberapa hari berada di pondok,
tiba-tiba ada yang menelpon. Ternyata dia adalah anak MA wahab hasbullah yang
juga lulus pbsb di IAIN. Aku ditanya apakah sudah mengirimkan fax tentang
kebersediaan menerima beasiswa ini. Aku tidak tahu apapun, dan ketika itu
ustadku belum mengetahui sama sekali kalau aku telah lulus test kemaren.
Setelah aku member tahu, aku dibantu untuk melengkapi persyaratan. Dan semua
itu kulakukan tanpa sepengetahuan orang tua. Kemudian setelah semua persyaratan
beres, aku baru memberi tahu orang tua. Awalnya mereka tidak setuju jika aku
nantinya akan pisah dengan kakak sepupuku. Apalagi bapakku, beliau tidak enak
hati dengan pak de karena dulu pernah tidak memperbolehkan kakak sepupuku
kuliah di Jogjakarta karena kita tidak bersama-sama. Kemudian setelah dibujuk,
akhirnya bapakku memperbolehkanku mengambil besiswa ini. Dan kakak sepupuku
yang dari dulu ingin pergi ke jogja akhirnya diperbolehkan oleh orang tuanya
untuk mengikuti test di sana, tapi karena memang belum diikhlaskan oleh orangtuanya,
maka dia tidak lolos. Dan akhirnya sekarang belajar di pondok.
Akhirnya
keinginan yang dulu pernah kutulis di buku tentang hal yang ingin kucapai
sekarang telah terwujud. Aku menjadi seorang mahasiswa. Rasanya berbeda sekali
ketika aku masih aliyah dulu. Dulu yang menjadi pendengar ketika di kelas,
sekarang harus menjadi orang yang banyak bicara dan aktif dalam belajar. Dan
juga lingkungan, dulu semua tertutup, antara putra dan putri tidak bisa
berinteraksi. Tapi sekarang pergaulan bebas, mau berteman dengan siapa saja
bisa, tapi juga harus mengetahui batas-batasnya. Salah-salah dalam bergaul
dapat berakibat fatal. Dulu belajar bersama-sama ketika di pondok, tapi
sekarang ketika di asrama belajarnya individu. Mahasiswa juga dituntut untuk
membaca banyak buku agar luas pengetahuannya dan kuat argumennya. Itulah
mahasiswa, awalnya aku tidak terbiasa dengan hal ini. Dan sekarang pun masih
belum dapat menyesuaikan diri.
Itulah
kisah suksesku dari awal dapat menuntut ilmu di pondok hingga dapat menjadi
mahasiswa IAIN sunan ampel Surabaya. entah mengapa aku bisa sukses seperti ini,
padahal aku bukanlah dikategorikan orang yang pintar sekali, tapi hanya
pas-pasan. Bahkan dulu aku mendapatkan sbeasiswa ini hanya keberuntungan
semata. Tapi kemudian tidak mungkin Allah memberikan sesuatu tanpa alas an.
Sampai sekarang aku tidak tahu alasan Allah telah memberiku nikmat sebesar ini.
Semoga saja aku bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.



0 komentar:
Posting Komentar