Sabtu, 16 Maret 2013

Coretan Hidup My Beloved Family



MY SUCCES STORY
*Laila
Kini aku telah menuntut ilmu di  IAIN Sunan Ampel Surabaya. Tak pernah terpikir olehku akan menjadi kenyataan dapat menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi dengan beasiswa. Mungkin jika tidak mendapat beasiswa, aku tidak akan kuliah. Bahkan dulu waktu lulus tsanawiyah, aku tak berniat untuk dapat melanjutkan sekolah ke aliyah. Karena keadaan orang tua yang kurang mampu untuk dapat membiayai sekolahku. Mereka hanya dapat membiayai untuk menuntut ilmu di pondok.
 Kemudian guruku menawarkan beasiswa sekolah dan pondok. Awalnya aku ragu, apakah aku dapat lulus tes beasiswa ini. Sementara aku belum pernah mengenyam pendidikan pondok sama sekali sebelumnya. Kemudian aku belajar pada pak de yang jadi seorang guru ngaji dengan kakak sepupuku yang waktu itu juga ditawari oleh guru kami untuk beasiswa ini. Rasanya asing sekali dengan kitab-kitab ini, warnanya kuning dan tanpa harakat.
Akhirnya dengan izin dan do’a kedua orang tua aku berangkat tes dengan saudara sepupu dan diantar oleh pak de. Banyak yang tak kumengerti dalam soal tersebut, tapi sedikit-sedikit dapat kumengerti, karena aku pernah mempelajarinya ketika berada di MTs dulu. Tes tulis terdiri dari dirasah islamiyah dan bahasa arab, dan Alhamdulillah aku dapat mengerjakan. Kemudian tes lisan terdiri dari tes baca al-Qur’an, qiroatul kitab, dan tes wawancara. Tes baca al-Qur’an dapat terlewati dengan mudah, tapi ketika tes baca kitab aku tidak mengerti sama sekali. Dulu pernah belajar sedikit tentang nahwu shorof ketika masih di madrasah ibtida’, tapi itu hanya sedikit dan belum cukup untuk menjadi bekal dalam membaca kitab. Aku pasrah, apapun hasilnya nanti aku akan menerimanya.
Pengumuman hasil tes dibagikan beberapa hari setelah test dilaksanakan. Pengumuman tersebut diambil langsung ke rumah kepala sekolah. Kami mengambil hasil ujian tersebut ke rumah kepala sekolah. Kepala sekolahnya ternyata seorang wanita. Kami masing-masing diberi sebuah amplop yang berisi hasil test masuk sekolah. Aku tidak berharap banyak untuk dapat lulus test ini. Walaupun lulus, jika kakak sepupuku tidak lulus, maka aku tidak akan masuk ke sekolah tersebut. Karena kami selalu bersama, dan orang tua kami akan khawatir apabila kami tidak hidup berdua. Sedikit cerita tentang kakak sepupuku. Dia seumuran denganku dan cantik. Dia pintar, dan dari dulu kita selalu berdua, belum pernah berpisah sama sekali. Mulai dari kecil, masuk RA, MI, dan MTs selalu bersama, tapi walaupun bersama kami tidak terlalu akrab. Kembali lagi masalah amplop pengumuman. Amplop tersebut dibuka dan isinya betapa jelek nilaiku, tapi yang ku herankan adalah aku masih tetap lulus dan dapat menuntut ilmu di MA Al-I’dadiyyah Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang bersama kakak sepupuku lagi. Kami diberi kesempatan untuk belajar di sini walaupun nilai kami jelek, tapi harapannya akan menjadi lebih baik dan memperbaiki nilai-ninlai yang jelek.
Di dunia ini tak ada yang gratis, begitu juga beasiswa ini. Aku mendapat beasiswa tapi dengan syarat harus memperoleh nilai yang bagus dan menghafal al-Qur’an. Kemudian diadakan kontrak prestasi yang ditulis di atas kertas, istilahnya hitam di atas putih. Awalnya ketika mendengar itu rasanya seperti berat sekali, aku takut tidak dapat menjalankannya. Tapi apapun yang terjadi aku hanya menjalaninya, apapun itu semoga barokah.
Katanya masa putih abu-abu adalah masa yang paling menyenangkan, memang betul dan aku mengalaminya sendiri. Masa itu masa-masa yang menyenangkan, bercanda dengan teman-teman, melewati masa-masa susah dan senang bersama-sama. Teringat ketika ada lomba, walaupun dalam perlombaan kalah, tetap semangat dan bangga. Karena usaha yang dilakukan untuk mencapai itu dengan kerjasama, susah bersama dan senang juga bersama. Tak hanya lomba, di kelas ketika tidak ada ustadz salah satu dari kami maju untuk memimpin belajar bersama. Begitu juga ketika di pondok, setiap malam diadakan taqror atau belajar bersama-sama di aula. Kadang kita belajar bersama-sama, dan kadang salah satu teman yang pintar, memimpin untuk berdiskusi bersama.
Perjalanan kelas satu masih dalam masa-masa pengenalan dengan pelajaran yang masih asing di mataku, dan teman-teman yang ternyata ada banyak yang berlatar belakang tidak dari pondok pesantren. Jadi kita semua belajar bersama-sama, dan ada yang dari pondok mengajari anak yang belum bisa. Lambat laun aku mulai dapat mengerti pelajaran-pelajaran yang dulu terasa asing, dan nilaiku lebih baik dari dulu. Begitu juga seterusnya, nilaiku semakin baik. Kelas satu dan kelas dua ku lalui dengan semangat yang kadang naik dan kadang turun. Tapi kadang di kelas aku kurang dapat mengiku penjelasan ustadz dengan baik, kadang penyakitku kambuh ketika pak ustadz menjelaskan. Yaitu ngantuk, jadinya guru menjelaskan dan murid tidur. Mungkin karena kurangnya interaksi antara murid dan ustadz, sehingga metodenya hanya satu arah dan murid yang mendengarkan saja tidak efektif sehingga terserang ngantuk. Berbeda dengan metode yang ada di kampus, yaitu mahasiswa yang dituntut harus aktif. Membuat makalah, mencari refrensi, membaca banyak buku, presentasi, dan di kelas juga harus aktif. Jadi tidak akan sempat mengantuk, kecuali aku. Walaupun ada dosen yang sedang menjelaskan dan aku sudah duduk di depan, tetap saja kalau sudah ngentuk rasanya tidak bisa ditahan. Mungkin masih terbawa kebiasaan pondok dulu yang sering mengantuk. Teringat dulu ketika ngaji, sering kali tertidur. Hal ini karena kecapekan sekolah waktu siang hari, kemudian ketika mengaji tidak tatap muka langsung, sehingga membuka banyak kesempatan untuk tidur. Dan ketika ngaji dulu tidak ada season Tanya jawab, kalau menurut dosen-dosen kebanyakan santri itu menjadi obyek saja, yaitu posisinya selalu menerima, harus tawadhu’ terhadap pak yai. Ketika di kampus, berbeda sekali dengan ketika berada di pondok. Ketika di pondok seorang santri diharuskan untuk selalu tunduk dan tawadhu’ kepada pak yai, tapi ketika sudah menjadi mahasiswa hal itu tidak diharuskan lagi, bahkan kita bisa mengkritik dan membantah pendapat dosen, tapi harus dengan argument yang logis dan akurat.
Tak terasa sudah kelas tiga. Banyak perguruan tinggi yang promosi ke sekolah, baik itu perguruan tinggi negri maupun perguruan tinggi swasta. Semua sibuk dengan keinginan untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi atau kuliah. Teringat ketika salah satu putri kyai Abdurrahman wahid atau lebih dikenal gus dur yang namanya mbak Yeni berkunjung ke sekolah. Beliau member banyak motivasi, salah satunya adalah kita disuruh menulis cita-cita kita dalam waktu yang akan datang. Ketika itu aku menulis ingin dapat belajar di universitas dengan gratis tanpa bayar. Karena tidak mungkin rasanya jika orang tua akan membiayai kuliahku. Sering sekali aku waktu aliyah aku mendapatkan motivasi-motivasi yang membangun, entah itu dari para ustadz ustadzah ataupun seorang trainer. Dan dulu ketika melihat orang member nasihat atau motivasi aku membayangkan aku bisa menjadi seperti mereka, dapat member motivasi dan membari semangat yang membangun. Semua tangan bertepuk tangan ketika aku memberi sebuah motivasi, membayangkannya sangat menyenangkan. Tapi apakah aku bisa mencapainya, sementara dapat kuliah saja masih belum jelas. Teman-temanku ada yang sudah daftar kuliah dan dibantu oleh ustadz. Ada yang melalui jalur undangan, ada juga yang melalui jalur PMDK. Aku terserang kegalauan. Aku ingin dapat kuliah. Tapi bagaimana caranya. Aku mencari-cari informasi tentang beasiswa dan Tanya-tanya kepada ustadz. Ada beasiswa yang ingin aku ikuti, yaitu beasiswa dari kemenag. Aku berharap dapat memperoleh beasiswa itu. Aku meminta izin kepada orang tua untuk mengikuti test ini, kalau berhasil Alhamdulillah dan kalau tidak berhasil aku siap dipondokkan lagi. Dan orang tua memberi izin asalkan aku bersama dengan saudara sepupuku itu. Kami pun mencari informasi tentang beasiswa ini dan melengkapi persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Dengan bantuan orang tua dan pak ustadz yang mendaftarkan test, kami berharap bisa lolos. Setelah ujian akhir nasional dan ujian yang lain-lainnya, akhirnya hari test pun tiba. Test ini diadakan di asrama haji Surabaya, seluruh santri dari jawa timur kumpul di sini menjadi satu. Test beasiswa ini diadakan di seluruh Indonesia di profinsi masing-masing. Aku berangkat test dengan kakak sepupu dan seorang temanku. Awalnya kami bingung jika berangkat pagi apakah tidak telat, tapi jika kita berangkat sebelum hari test mau menginap di mana kita. Alhamdulillah setelah mencari-cari ada salah seorang adik kelas yang dapat membantu. Dia mempunyai kakak di Surabaya, kakaknya juga salah seorang yang mendapat beasiswa ini di ITS Surabaya. akhirnya kita berangkat siang setelah berpamitan dengan bu nyai. Bismillah semoga berhasil.
Surabaya diguyur hujan ketika kita menjalankan test. Melihat peserta lainnya rasanya minder. Mereka terlihat hebat-hebat dan luar biasa, sementara aku hanya pas-pasan. Tapi apapun yang terjadi kami tetap harus mengikuti test tersebut. Aku test bersama kakakku di IAIN sunan ampel, sedangkan temanku yang satunya di UIN sunan kalijaga Jogjakarta. Test usai dan pengumuman dapat dilihat melalui internet, setelah test kami langsung kembali pulang ke jombang. Karena dari Surabaya busnya melewati rumah, maka aku tidak ke pondok dan langsung turun di mojoagung saja bersama kakak sepupuku. Sampai di rumah sudah malam.
Hari demi hari berlalu, dan hari itu tibalah hari pengumuman. Aku pergi ke warnet dan melihat pengumuman. Apakah aku akan berhasil. Setelah mencari-cari, ternyata tidak ketemu. Yasudahlah mungkin aku belum beruntung. Kemudian aku pulang. Selang beberapa hari ada temanku tiba-tiba sms dan memberiku selamat atas keberhasilan dalam test pbsb ini. Aku belum percaya tapi aku tidak memeriksanya di internet. Karena diketahui yang lolos test ini hanya aku, aku pun tak berniat untuk mengambil test ini. Karena dari dulu aku selalu bersama dengan kakak sepupuku, maka jika berpisah orang tua pasti akan khawatir. Teringat ketika boyong bu nyai memberi nasihat untuk ke STAIN tulungagung. Akhirnya kami mencoba untuk ikut daftar mengikuti bidik misi di STAIN tulungagung. Kemudian kami mulai melengkapi beberapa persyaratan yang diperlukan, ada yang harus di lengkapi di sekolah juga, jadi kami pergi ke jombang mengurusi persyaratan test. Ketika beberapa hari berada di pondok, tiba-tiba ada yang menelpon. Ternyata dia adalah anak MA wahab hasbullah yang juga lulus pbsb di IAIN. Aku ditanya apakah sudah mengirimkan fax tentang kebersediaan menerima beasiswa ini. Aku tidak tahu apapun, dan ketika itu ustadku belum mengetahui sama sekali kalau aku telah lulus test kemaren. Setelah aku member tahu, aku dibantu untuk melengkapi persyaratan. Dan semua itu kulakukan tanpa sepengetahuan orang tua. Kemudian setelah semua persyaratan beres, aku baru memberi tahu orang tua. Awalnya mereka tidak setuju jika aku nantinya akan pisah dengan kakak sepupuku. Apalagi bapakku, beliau tidak enak hati dengan pak de karena dulu pernah tidak memperbolehkan kakak sepupuku kuliah di Jogjakarta karena kita tidak bersama-sama. Kemudian setelah dibujuk, akhirnya bapakku memperbolehkanku mengambil besiswa ini. Dan kakak sepupuku yang dari dulu ingin pergi ke jogja akhirnya diperbolehkan oleh orang tuanya untuk mengikuti test di sana, tapi karena memang belum diikhlaskan oleh orangtuanya, maka dia tidak lolos. Dan akhirnya sekarang belajar di pondok.
Akhirnya keinginan yang dulu pernah kutulis di buku tentang hal yang ingin kucapai sekarang telah terwujud. Aku menjadi seorang mahasiswa. Rasanya berbeda sekali ketika aku masih aliyah dulu. Dulu yang menjadi pendengar ketika di kelas, sekarang harus menjadi orang yang banyak bicara dan aktif dalam belajar. Dan juga lingkungan, dulu semua tertutup, antara putra dan putri tidak bisa berinteraksi. Tapi sekarang pergaulan bebas, mau berteman dengan siapa saja bisa, tapi juga harus mengetahui batas-batasnya. Salah-salah dalam bergaul dapat berakibat fatal. Dulu belajar bersama-sama ketika di pondok, tapi sekarang ketika di asrama belajarnya individu. Mahasiswa juga dituntut untuk membaca banyak buku agar luas pengetahuannya dan kuat argumennya. Itulah mahasiswa, awalnya aku tidak terbiasa dengan hal ini. Dan sekarang pun masih belum dapat menyesuaikan diri.
Itulah kisah suksesku dari awal dapat menuntut ilmu di pondok hingga dapat menjadi mahasiswa IAIN sunan ampel Surabaya. entah mengapa aku bisa sukses seperti ini, padahal aku bukanlah dikategorikan orang yang pintar sekali, tapi hanya pas-pasan. Bahkan dulu aku mendapatkan sbeasiswa ini hanya keberuntungan semata. Tapi kemudian tidak mungkin Allah memberikan sesuatu tanpa alas an. Sampai sekarang aku tidak tahu alasan Allah telah memberiku nikmat sebesar ini. Semoga saja aku bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More